My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Alderio pekerja keras



Tampak seorang pria memasuki sebuah kamar sambil menggendong seorang gadis yang tertidur pulas.


Tubuh gadis itu perlahan direbahkan di atas ranjang empuk yang ada disana, dan tidak lupa menyelimutinya sampai batas perut.


Bima menghela nafas, ia melipat tangan di dadanya lalu tersenyum simpul. Bagaimana tidak, Reina tertidur sangat pulas, bahkan saat dirinya mencoba membangunkan gadis itu, Reina tidak kunjung buka mata.


"Gadis suka tidur." Gumam Bima terkekeh seraya geleng-geleng kepala.


Bima segera pergi keluar dari kamar tamu, tempat Reina akan tinggal sampai benar-benar sembuh dan bisa kembali berjalan.


Saat di luar kamar, Bima berpapasan dengan sang Mama yang membawa segelas jus untuknya.


"Mama tahu kamu lelah, kemarin juga pasti tidur nggak nyaman kan di rumah sakit?" tanya Mama Mira.


Jus di tangannya ia berikan kepada putranya, mungkin bisa membuat rasa lelah bisa sedikit berkurang.


Bima menenggaknya hingga tandas, ia lalu memberikan kembali gelas kosongnya kepada sang Mama.


"Nggak kok, Ma. Aku baik-baik saja," jawab Bima setelahnya.


Mama Mira menghela nafas, entah mengapa kedua putranya itu selalu saja begitu. Saat ditanya, mereka akan sama-sama menjawab, baik padahal jelas-jelas mereka lelah.


"Persis banget sama kakak kamu, selalu aja mengelak, bilang nggak lelah, nanti ujungnya tumbang juga." Desis Mama Mira geleng-geleng kepala.


Bima terkekeh, ia mencium pipi sang Mama kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


Sementara itu di tempat lain, Alderio dan Alara sedang makan bersama setelah selesai melakukan meeting di kantor Alderio.


Sesuai permintaan bumil cantik ini, mereka makan siang dengan steak dan jus lemon, namun Alara lebih memilih minum air putih dingin saja.


"Mas, aku mau punya kamu!" celetuk Alara menunjuk piring makanan milik suaminya.


Alderio mengerutkan keningnya, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk dan paham dengan permintaan istri tercintanya.


Alderio tidak memberikan piring makanan nya, ia menusuk daging yang sudah dipotong lalu menyuapinya kepada sang istri.


Alara kegirangan, ia dengan semangat membuka mulutnya dan melahap daging suapan Alderio.


"Enakan punya kamu." Ucap Alara dengan suara kurang jelas akibat mulutnya yang penuh makanan.


"Itulah, padahal pesanan kita sama, tapi anak aku ini maunya makan sama Papa nya." Sahut Alderio seraya mengusap perut Alara yang besar.


Alara tersenyum manis, ia ikut mengusap perutnya sendiri yang sudah besar, sudah memasuki bulan kelahiran yang diperkirakan oleh dokter.


"Ke rumah Mama aku, Mas. Katanya Mama punya sesuatu, nanti dari rumah Mama, kita ke rumah Mama Mira." Jawab Alara menjelaskan.


"Jadi hari ini kita full 'ya. Kita keliling ke rumah keluarga, berasa lagi idul Fitri." Timpal Alderio bergurau.


Alara terkekeh, ia manggut-manggut menanggapi ucapan suaminya. Memang benar, sejak pagi mereka sudah pergi untuk menjemput Reina di rumah sakit, lalu ke kantor, dan sekarang ke rumah Mama Dania, serta terakhir ke rumah Mama Mira.


"Nggak apa-apa, kan Dedek jarang diajak jalan-jalan, soalnya Papa sibuk!" ujar Alara menatap suaminya.


Alderio menunduk, ia mencium perut istrinya dengan lembut.


"Maafin Papa 'ya, Papa janji akan ajak jalan-jalan kalau urusan Papa selesai." Bisik Alderio pelan.


Alara mengusap kepala suaminya, ia paham dengan pekerjaan suaminya, justru ia merasa bangga dengan kerja keras dan kegigihan Alderio dalam mencari nafkah untuknya dan anak mereka.


"Aku bangga sama kamu, Mas." Celetuk Alara tiba-tiba.


Alderio mendongak, ia membenarkan posisinya dan kembali duduk dengan tegak.


"Hmmm … kenapa?" tanya Alderio heran.


"Kamu pria pekerja keras, demi bisa nafkahi aku dan anak kita, kamu rela bekerja siang dan malam, di kantor dan kampus." Jawab Alara pelan.


Alara mengusap wajah suaminya pelan.


"Kamu pasti capek kan, Mas?" tanya Alara.


Alderio memegang tangan istrinya, ia cium dengan lembut punggung tangan Alara lalu ia genggam dengan erat.


"Namanya kerja pasti capek, Sayang." Jawab Alderio tersenyum lebar.


"Tapi aku nggak mau anak dan istriku kesusahan, aku akan bekerja keras demi kalian," lanjut Alderio sungguh-sungguh.


Alara tersenyum senang, andai saja mereka sedang tidak ditempat umum, maka ia akan menciumi seluruh wajah suaminya yang tampan ini.


Alderio, pria yang dulu sangat di benci nya kini malah menjadi pria yang paling spesial dihatinya, pria yang paling ia cintai dan paling ia hormati.


Alara beruntung bisa mengenal dan menjadi pasangan Alderio, meskipun dulu pertemuan mereka bukan pertemuan yang baik, namun semoga saja perpisahan mereka akan menjadi perpisahan baik nantinya.


Awwwww ... luvluv mas Al🥰😝


To be continued