
Bima mengetuk pintu kamar tamu yang sekarang sedang ditempati oleh seorang gadis, ia membukanya perlahan saat sudah mendapat izin untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
"Selamat malam, Reina." Sapa Bima dengan lembut.
"Pak Bima, selamat malam." Balas Reina tidak kalah lembut.
"Saya membawakan makan malam untuk kamu, tolong dihabiskan 'ya." Bima meletakkan nampan berisi makan malam di depan Reina.
Reina tersenyum, ia menerima makanan yang dibawakan oleh Bima.
Reina kembali menatap Bima. "Terima kasih banyak, Pak Bima. Maaf ya jika saya merepotkan," ucap Reina pelan.
Bima tertawa pelan, ia menggelengkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan gadis itu.
Reina tidak merepotkan sama sekali, justru ia lah yang merepotkan gadis itu, dan ia kini bertanggung jawab penuh terhadapnya.
"Dihabiskan 'ya. Saya permisi dulu," pamit Bima kemudian melangkah pergi.
Saat tangan Bima hampir menggapai gagang pintu, tiba-tiba terdengar suara sendok yang terjatuh ke lantai.
Bima menoleh, ia melihat Reina sedang tersenyum canggung sambil melirik ke arah sendok yang ia jatuhkan.
Bima kembali mendekat, ia mengambil sendok yang terjatuh di lantai.
"Saya akan cuci dulu, sendok ini sudah kotor." Ucap Bima lalu membawa sendok itu ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat, Bima kembali dengan sendok yang sudah dicuci dan di keringkan menggunakan tisu.
Ia memberikannya kepada Reina, namun bukan untuk membuat Reina menyantap makanan nya.
Bima mengambil nampan berisi makanan milik Reina lalu ia duduk di pinggir ranjang.
"Biar saya suapi." Ucap Bima lalu mengandung nasi dan sayurnya.
Reina terdiam, pria dihadapannya ini ingin menyuapinya, tetapi untuk apa, bukankah akan sangat merepotkan.
Merasakan keheningan, Bima mengalihkan pandangannya ke arah Reina yang masih terdiam dengan tatapan bingung ke arahnya.
"Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin membantu kamu saja, jangan salah paham." Jelas Bima yang mengira Reina tidak nyaman atas perlakuannya.
"Tidak, Pak. Bukan itu, saya hanya bingung saja." Sahut Reina dengan cepat.
Bima mengerutkan keningnya, ia menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk pauk ke depan mulut Reina.
"Bingung kenapa?" tanya Bima.
Reina hendak menjawab, namun ia memilih untuk melahap dulu suapan dari Bima, meskipun ia sedikit ragu.
Saat sendok baru saja masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup itu terbuka.
Bima dan Reina sama-sama menoleh, mereka melihat sepasang suami istri yang berdiri di depan pintu sambil menatap mereka.
"Kak Alara, kak Al." Ucap Bima melihat kakak dan kakak iparnya.
Alara dan Alderio saling pandang sebentar, namun sesaat kemudian tatapan mereka kembali pada dua orang yang sedang asik suap-suapan.
"Sedang makan?" tanya Alara seraya melangkah masuk ke dalam kamar.
Alderio menyusul istrinya, ia berdiri di sebelah Bima, sementara Alara ikut naik ke atas ranjang bersama Reina.
"Gimana keadaan lo?" tanya Alara mengusap lengan sahabatnya.
Reina tersenyum lalu mengangguk.
"Baik, Ra. Tapi kaki gue belum bisa jalan," jawab Reina memegangi kakinya.
"Sabar 'ya." Ucap Alara ikut sedih.
"Ada apa?" tanya Bima yang membuat Alara dan Reina sama-sama menoleh.
"Tidak ada, aku hanya aneh saja melihatmu menyuapi orang." Jawab Alderio.
Bima mendengus, rupanya Alderio itu sedang meledeknya. Memang benar, ia jarang sekali menyuapi orang makan, termasuk mendiang Mika dulu jika keadaan almh istrinya itu tidak sedang sakit.
Menurut Bima, menyuapi orang itu sangat merepotkan, apalagi jika orangnya susah sekali untuk makan, nantinya ia malah emosi. Namun dengan Reina, entah mengapa ia mau tanpa diminta apalagi di paksa.
"Memangnya kak Bima tidak pernah menyuapi orang?" tanya Alara kepo.
Alderio tertawa mendengar pertanyaan istrinya.
"Sayang, jangankan menyuapi, untuk–" Ucapan Alderio terhenti karena Bima memotongnya.
"Diam!" potong Bima kesal.
Bima lanjut menyuapi Reina makan, ia tidak peduli dengan ledekan kakaknya yang masih asik tertawa.
"Lohh, kok kaya asik banget??" tanya Mama Mira yang tidak sengaja lewat dan malah melihat anak-anaknya sedang asik tertawa.
"Ada apa ini?" tanya Mama Mira penasaran.
Bima menghela nafas pelan, ia yakin tidak akan bisa menghindar dari ledekan Alderio, karena ada Mama Mira yang akan membantunya.
"Al, jangan ledek adikmu terus!" tegur Mama Mira membela putra bungsunya.
Bima tersenyum senang, kali ini ia dibela oleh sang Mama.
"Abis seru sih, Ma." Sahut Alderio.
Mama Mira geleng-geleng kepala, ia lalu menatap Reina dengan hangat.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Mama Mira lembut.
"Baik, Nyonya." Jawab Reina canggung.
"Jangan panggil Nyonya, dan jangan lupa untuk banyak istirahat, jika butuh sesuatu kamu bisa panggil pelayan atau Bima." Tutur Mama Mira dengan penuh perhatian.
Reina mengangguk, ia senang karena mertua Alara itu sangat baik.
Mama Mira pun pamit pergi, kini tinggal keempat orang itu yang masih ada di kamar.
"Mama gue itu baik, jadi pasti lo betah disini." Ucap Alara senang.
Reina mengangguk setuju. "Beruntung banget lo punya mertua yang baik kaya Nyonya Mira." Ungkap Reina.
"Semoga gue nanti punya mertua yang kaya lo ya, Ra. Baik, penyayang dan sangat lembut." Tambah Reina tersenyum senang.
"Mau?" tanya Bima tiba-tiba.
Alara, Alderio dan Reina sontak langsung menatap Bima yang entah menawarkan apa, mereka menatap Bima bingung dengan ucapan pria itu yang setengah-setengah.
"Mau apa?" tanya Reina ragu.
"Punya mertua seperti mama saya." Jawab Bima seraya lanjut menyuapi Reina.
Reina menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kalo begitu menikah saja dengan kak Bima." Alara langsung saja nyerocos, ia buru-buru menutup mulutnya sendiri karena takut menyinggung perasaan keduanya.
MAMA ARAA ASAL JEBLAK AJE😭😭
To be continued