My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Mika tiada



Mika dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk ditangani oleh dokter. Sementara Alderio langsung melapor pada polisi terkait kecelakaan yang dialami oleh adik iparnya, ia juga memberikan nomor plat mobil yang pelaku gunakan untuk melancarkan aksinya.


Jika ditanya, Alderio tentu sudah tahu siapa pelakunya, karena saat menabrak Mika mobil sempat berhenti bahkan pelakunya juga mengeluarkan kepalanya untuk sekedar melirik Mika yang tergeletak bersimbah darah di jalanan.


“Saya rasa awalnya pelaku ingin menabrak orang tua saya, namun adik ipar saya itu menolong sehingga dirinya yang tertabrak,” jelas Alderio dengan jujur.


Polisi manggut-manggut mendengar kesaksian dari Alderio, mereka merekam dan mencatat sebagai bukti untuk mempermudah pencarian pelaku.


“Satu lagi, Pak. Saya sempat melihat wajah si pelaku, bahkan pelakunya bukanlah orang asing.” Tambah Alderio menjelaskan.


“Siapa, Pak?” tanya Polisi langsung.


Alderio segera memberitahukan siapa pelaku yang telah menabrak Mika. Biarlah polisi menjalankan tugasnya untuk menangkap perempuan itu.


“Kami sangat berterima kasih atas informasi anda Pak Alderio. Kami akan segera bertindak untuk menangkap pelaku,” ucap pak polisi.


“Kalo begitu kami permisi dulu, Pak. Selamat sore,” pamit Polisi kemudian langsung pergi.


Alderio mendekati istrinya yang tampak khawatir, terlihat tangannya mengusap punggung Mama Mira untuk menenangkan ibu mertuanya yang masih terlalu syok dengan kejadian ini.


“Ma, kita doakan semoga Mika baik-baik saja.” Tutur Alara dengan lembut.


“Yang Alara katakan benar, Ma. Sekarang lebih baik Mama istirahat dulu,” timpal Alderio ikut mengusap punggung sang Mama.


Mama Mira menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa istirahat sebelum mendapat kabar tentang kondisi Mika sekarang.


Alara menatap suaminya, ia mengatupkan kedua bibirnya. Ia memberi isyarat kepada suaminya agar tetap membiarkan mama Mira untuk berada disana sampai dokter selesai memeriksa kondisi Mika dan memberikan kabar baik.


“Aku belikan minum untuk Mama sebentar ‘ya.” Ucap Alderio pelan kemudian pergi untuk membelikan air minum.


Sementara Papa Aden sejak tadi enggan berjauhan dari Bima yang terlihat diam saja, pria itu pasti sedang merasa khawatir akan kondisi istrinya sekarang, terlebih lagi mereka baru saja kehilangan anak mereka beberapa minggu lalu.


“Bim, kamu jangan putus asa begini, yakinlah bahwa Mika baik-baik saja.” Bisik Papa Aden mencoba membuat putranya mengerti.


Bima tidak menjawab apapun, pria itu masih tetap diam dengan tatapan kosong dan wajah yang lesuh.


Alara pun ikut melihat adik dari suaminya, ia sangat yakin bahwa Bima saat ini benar-benar patah semangat. Dalam beberapa minggu, sudah banyak cobaan yang diterimanya.


Namun ada satu hal yang membuat Alara sejak tadi bingung, hatinya terasa mengganjal ingin bertanya tentang keberadaan Renata. 


Dimana wanita itu saat adiknya sedang ditangani dokter sekarang, apa belum ada yang mengabari perempuan itu.


Tidak lama kemudian Alderio kembali dengan membawa air mineral, ia memberikannya kepada Alara dengan maksud membantu Mama Mira menenggaknya.


Alderio lalu beralih mendekati papa dan juga adiknya.


"Bim, minum dulu agar perasaan kamu lebih tenang." Tutur Al seraya memberikan sebotol minuman kepada adiknya.


Bima menggelengkan kepalanya. "Tidak, Al." Tolak Bima.


"Aku tidak bisa minum apalagi makan sebelum mendengar kabar Mika." Lanjutnya pelan.


"Aku tahu kau khawatir pada istrimu, tetapi kau juga tidak boleh putus asa begini, yakinlah bahwa istrimu baik-baik saja." Jelas Alderio mencoba membuat adiknya mengerti.


Papa Aden menepuk pundak putranya pelan.


"Dengarkan kata kakakmu, Bim. Minumlah sedikit agar perasaan kamu lebih tenang," tutur Papa Aden.


Bima meraih minuman yang Alderio berikan lalu meminumnya sedikit. Bersama dengan itu, tiba-tiba pintu ruang periksa Mika terbuka, seorang dokter keluar sambil memanggil nama Alara.


"Siapa yang bernama Alara disini?" tanya dokter tergesa-gesa.


Alara bangkit dari duduknya kemudian mendekati dokter. "Saya, Dok." Jawab Alara keheranan.


"Masuklah, pasien mencari anda." Tutur dokter mempersilahkan.


Bima yang melihat Alara masuk pun segera menerobos, ia juga ingin menemui istrinya saat ini.


Mama Mira, Papa Aden dan Alderio akhirnya ikut masuk ke dalam ruang perawatan Mika.


Saat di dalam, mereka melihat Mika terbaring di atas bangsal dengan selang infus di beberapa titik tubuhnya, kain perban yang membungkus beberapa lukanya juga tampak cukup banyak.


"K-kak Alara." Panggil Mika dengan suara tercekat.


Alara mendekat, ia menggenggam tangan adik iparnya. "Iya, Mika. Aku disini," sahut Alara sesak karena menangis.


"Kak, hiks … tolong maafkan aku, maaf telah menuduhmu padahal kau tidak bersalah sama sekali." Ucap Mika memohon dengan suara yang semakin tercekat.


Alara menggelengkan kepalanya, ia menyeka air mata di wajah cantik adik iparnya.


"Aku sudah memaafkanmu, Mika. Sekarang jangan banyak bicara ya," sahut Alara khawatir.


Mika menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidak kuat, Kak." Lirih Mika menangis.


Bima yang mendengar itu lantas mendekat, ia memeluk tubuh istrinya yang terlihat lemah.


"Kenapa kamu bicara begitu, Sayang. Kamu kuat, kamu akan baik-baik saja, lihat sekarang kak Alara sudah memaafkanmu." Ucap Bima lalu melepaskan pelukannya.


Mika tersenyum lembut. "Kak, maafkan suamiku juga 'ya. Dia tidak akan menuduhmu jika bukan karena permintaan ku, dan aku disini hanya dijadikan sebagai boneka oleh kakakku sendiri." Ujar Mika panjang, ia harus menarik nafas berkali-kali untuk bicara.


"Mika, hentikan. Aku sudah memaafkan kalian, sekarang jangan bicara lagi ya." Tutur Alara mengusap punggung tangan adik iparnya.


"Jangan, Kak. J-jangan memaafkan kakakku, dia … dia sangat jahat!" Mika menarik nafas panjang saat mengatakan kalimat itu.


Tubuh Mika bergetar, ia memaksakan diri untuk menatap kedua mertuanya.


"Ma, Pa. M-maafkan aku karena sudah menjadi menantu yang … yang merepotkan." Ucap Mika tersendat.


"Dan kak Al, tolong jaga suamiku, dia sebenarnya pria yang baik dan sayang padamu, tapi …" Mika menghentikan ucapannya saat nafasnya sudah semakin tidak terkontrol.


 "Mika, hentikan. Jangan bicara lagi," ucap Alderio lembut.


Mika mendongakkan kepalanya seraya menarik nafas, dadanya sedikit membusung sebelum akhirnya kembali terbaring dengan mata terpejam diikuti suara mesin jantung yang datar.


Dokter segera memeriksa kondisi Mika, kepala dokter menggeleng ke arah Alara dan yang lainnya.


"Innailaihi wa innailaihi rojiun, maaf Tuan dan Nyonya, pasien sudah meninggal dunia." Ucap dokter dengan suara yang ikut sedih.


"MIKA, MIKA BANGUNLAH!!!" pinta Alara mengusap-usap tangan wanita itu.


Bima menangis, ia menangis bahkan sampai jatuh terduduk di sebelah brankar istrinya yang sudah tidak bernyawa.


"Sayang, bangunlah. Kenapa kau tega meninggalkanku sendiri, kenapa kau pergi bersama anak kita." Tangan Bima tidak melepaskan tangan istrinya, air matanya meluruh membasahi wajahnya.


Mama Mira, jangan tanyakan bagaimana keadaan wanita itu. Ia menangis keras, hanya saja teredam pelukan suaminya.


Ia menyesal telah memarahi Mika sebelum pergi tadi, dan sekarang ia malah tidak akan bisa bicara lagi dengan menantu keduanya itu.


"Hiks … hiks … Mika bangunlah," pinta Alara menangis tersedu-sedu.


Al mendekat, ia memeluk tubuh istrinya yang gemetar sambil mengusap punggungnya, berusaha menenangkan istrinya yang pasti sangat terpukul.


"Hiks … aku sudah memaafkan nya, Mas. Tetapi kenapa ia tetap pergi," lirih Alara meremat baju yang suaminya kenakan.


MAS BIMA JADI DUDA😭😭


To be continued