My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Pesta dansa



Alara tampil cantik malam ini guna menemani suaminya ke pesta ulang tahun perusahaan keluarga Haiyan. Ia dengan dress hitam panjang yang ketat sampai membentuk perut besarnya, lengan sebahu dan belahan dari ujung kaki sampai tulang kering.


Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, tidak lupa curly di tiap ujung rambut, membuat Alara menjadi pusat perhatian malam ini.


Sementara Alderio dengan setelan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu, memasang ekspresi full senyum kepada tamu yang hadir, terutama keluarganya.


"Alara, ya ampun, Sayang. Kamu cantik banget!" puji Mama Mira menggenggam tangan menantunya.


"Makasih banyak, Ma. Mama jauh lebih cantik," balas Alara tersenyum lebar.


"Alara, bagaimana kandunganmu?" tanya Papa Aden lembut.


"Baik, Pa. Bahkan cucu Papa sangat aktif disini," jawab Alara mengusap perutnya yang besar.


"Bima dimana, Ma?" tanya Alderio yang belum melihat kehadiran adiknya.


"Dia masih bersiap-siap, tadi ada urusan sebentar yang membuatnya harus terlambat." Jawab Mama Mira menjelaskan.


Alderio manggut-manggut, sambil menunggu adiknya itu datang, Alderio memilih untuk menyapa para tamu, tentu mengajak istrinya juga.


"Apa kabar pak Alderio, astaga sudah lama saya tidak bertemu anda." Ucap seorang pria yang seumuran dengan Al.


"Baik, saya baik. Saya sibuk akhir-akhir ini, apalagi istri saya sedang hamil tua." Jelas Alderio.


"Jadi ini istri anda, saya kira di bintang tamu pesta ini, wajahnya sangat cantik." Puji pria itu untuk Alara.


Alara membalasnya dengan senyuman, ia berusaha untuk tidak canggung dan menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup suaminya.


"Jadi pak Alderio yang terkenal susah didekati akan punya anak, wahh … apakah para wanita akan sakit hati mendengar ini." Celetuk pria yang lainnya.


Alderio tertawa dengan kepala yang mengangguk-angguk.


"Saya tidak peduli, Pak. Asal mereka tidak menyentuh istri saya, maka aman-aman saja." Sahut Alderio.


Alara hanya menjadi pendengar disana, hanya sesekali saja bibirnya terbuka untuk menjawab pertanyaan abstrak teman-teman suaminya.


Sementara itu ditempat lain, Bima baru saja selesai bersiap-siap. Pria itu menggunakan setelan tuxedo yang hitam, namun tanpa dasi.


Parfum tidak lupa ia semprotkan di beberapa titik tubuhnya, kemudian keluar dari kamar hotel itu.


"Astaga, aku benar-benar terlambat karena harus mengurus masalah dikantor tadi." Gumam Bima sambil merapikan penampilannya sedikit.


Bima sampai pada lantai dimana pesta di langsungkan, tatapan matanya sesekali masih melirik para penanggung jawab pesta yang belum menjelaskan dekorasi.


"Nona Reina." Panggil Bima membuat si pemilik nama menoleh.


"Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Reina sopan.


"Pestanya sudah dimulai, jadi dekorasi yang ini tidak perlu di benarkan, tetapi saya akan tetap membayarnya." Jawab Bima menunjuk ke arah pintu masuk yang hiasannya kurang.


Reina tampak terkejut, ia menjadi merasa bersalah disini karena bekerja lamban.


"Pak, tolong maafkan saya dan tim saya, kami memang mengalami keterlambatan barang yang dibutuhkan, tolong jangan berkata begitu, Pak." Ucap Reina menganggap bahwa Bima kecewa.


"Saya janji akan menyelesaikan semuanya sebelum para tamu semakin banyak hadir." Lanjut Reina.


"Itu tidak perlu, lagipula semuanya sudah bagus. Tidak ada yang perlu di tambahkan lagi," sahut Bima menggelengkan kepalanya.


Bima tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Saya sangat puas dengan hasil dekorasinya," jawab Bima.


Reina menghela nafas lega, ia mengusap dadanya karena apa yang ia khawatirkan ternyata tidak terjadi.


"Terima kasih, Pak. Tetapi saya akan tetap melanjutkan dekorasinya, ini adalah tanggung jawab saya." Ucap Reina tetap pada keputusannya.


Bima mengangguk paham, ternyata gadis di hadapannya ini sangat ambisius dan bertanggung jawab.


Bima segera pergi ke dalam pesta, menghampiri kedua orang tuanya sebelum menyapa para tamu yang sudah hadir.


Acara demi acara berjalan lancar, Alderio sudah menyampaikan sambutannya di awal acara dan nanti giliran Bima di akhir acaranya sebagai penutup.


Kini acara dilanjutkan dengan pesta dansa yang sengaja diadakan untuk para pengusaha yang hadir bersama pasangan mereka, termasuk Alderio dan Alara.


"Ayo, Kak. Kalian akan menjadi pasangan paling manis malam ini," ucap Bima memaksa.


Alara menolak, bukan karena tidak bisa ataupun malu, tetapi ia takut perut besarnya mengganggu pergerakan Alderio.


"Kau saja sana." Sahut Alara.


Bima tertawa. "Kakak, kau sedang meledekku ya, siapa yang harus aku ajak berdansa?" tanya Bima.


"Siapa saja." Jawab Alara santai.


Alara mencari-cari siapa yang cocok untuk diajak adik iparnya berdansa, dan tatapannya jatuh kepada Reina yang saat itu sedang mengambil minuman.


"Mas, aku kesana sebentar." Ucap Alara.


Alara menghampiri Reina kemudian langsung menarik tangan gadis itu.


"Eh, Ara. Apa nih tarik-tarik gue?" tanya Reina tidak mengerti.


"Temani adik ipar gue dansa ya, kalian udah cocok." Pinta Alara.


Reina menatapnya dengan alis yang saling terangkat, cocok? Maksudnya apa.


"Maksudku, pakaian kalian cocok." Ralat Alara yang paham tatapan sahabatnya.


Reina menggeleng, namun Alara menjual nama anaknya yang masih di dalam perut untuk memaksanya, alhasil Reina menerimanya dan mau berdansa dengan Bima.


"Bima, dansa sama Reina. Dia jago lohh!" ucap Alara antusias.


Bima menatap Reina yang terlihat malu-malu dan canggung.


"Anda bersedia, Nona?" tanya Bima seraya mengulurkan tangannya.


Reina menelan salivanya dengan sulit, ia ragu untuk membalas uluran tangan Bima, namun karena paksaan dari Alara dan sorakan dari para tamu membuatnya mau tidak mau menerima nya.


LANJUT PART BIMA SAMA REINA NGGAK NIH???


To be continued