My Sweet Lecturer

My Sweet Lecturer
Tuduhan Renata



Mika dilarikan ke rumah sakit karena darah dan ketuban yang tidak berhenti keluar melalui jalan lahirnya. Seluruh keluarga ikut panik, termasuk Alara, ia tidak tahu bagaimana bisa Mika tiba-tiba jatuh dan berakibat seperti ini.


Seluruh keluarga menanti dengan perasaan gundah, mereka terus-menerus menatap pintu ruangan dimana Mika ditangani oleh dokter.


"Ini semua pasti gara-gara kamu kan?!" Renata bicara dengan nada tinggi dan tangan yang menunjuk wajah Alara.


Alara terkejut, ia menatap Renata dengan tatapan penuh kebingungan. Tangannya menyeka air matanya sendiri.


"Apa maksudmu, kau menyalahkan ku?" tanya Alara menunjuk dirinya sendiri.


"Jaga ucapan mu!" Alderio memegang kedua bahu istrinya, matanya menatap tajam ke arah Renata.


Renata tersenyum sinis. "Itu memang benar, Al. Istrimu ini yang sudah menyakiti adikku!" sahut Renata semakin meninggikan suaranya.


"Renata, jangan asal menuduh Alara." Tagur Mama Mira sambil berderai air mata.


"Iya, anda jangan asal menuduh putri kami. Alara tidak mungkin melakukan itu." Tambah Mama Dania tidak terima.


"Tidak mungkin apanya, sudah jelas-jelas hanya Alara yang ada di dalam villa saat itu, sementara kita semua diluar dan Alara juga ada di dapur untuk membuatkan Al jus." Ucap Renata mencoba memojokkan Alara.


Bima mendekat, ia hendak mencekik atau memukul Alara, namun Alderio dengan cepat mencegahnya dan mendorong pria itu.


"Jangan berani kau menyentuh apalagi menyakiti istriku!" ucap Alderio dengan tegas.


Bima kembali mendekat, ia tiba-tiba mencengkram kerah baju Al. "Istrimu sudah membuat Mika celaka, harusnya kau hukum dia bukan malah membelanya!!" Teriak Bima di depan wajah Al.


Alderio melepaskan cekalan tangan adiknya, kali ini ia mendorong Bima lebih keras sampai membuat pria itu tersungkur.


"Al!" tegur Papa Aden.


"Apa kau punya bukti atas ucapanmu hah?!" Alderio berteriak, namun tidak terlalu keras.


"Al, Bima. Hentikan perdebatan kalian, ini tempat umum!" tegur Papa Aden pada kedua putranya.


"Tidak, Pa. Aku tidak bisa diam saja, apalagi jika Mika sampai kehilangan bayinya, maka aku tidak akan segan menyakiti perempuan itu!" sahut Bima sambil menatap Alara sinis.


"Tutup mulutmu." Tekan Al tidak suka akan kalimat yang Bima ucapkan.


Sementara Alara menangis dalam pelukan sang Papa, ia terisak dan merasa sedih dengan tuduhan yang Renata ucapkan, bahkan kini berakhir ancaman dari Bima.


"Pa, hiks … aku tidak melakukan apapun padanya, aku tidak tahu mengapa Mika bisa sampai jatuh." Ucap Alara mengadu.


"Tenang, Nak. Papa percaya padamu," bisik Papa Wahyu mengusap punggung putrinya.


Renata berdecih, jangan sampai Alara tidak dihukum apalagi dibenci oleh seluruh keluarga. Ia memikirkan rencana yang dapat membuat semua orang percaya padanya.


"Tante, Tante percaya padaku kan? Alara itu sejak lama tidak menyukai Mika, ia iri karena Mika akan memiliki anak sebelum dirinya, ia berpikir anak Mika dan Bima akan menjadi penerus dan bukan anaknya." Ucap Renata kembali berdusta.


"RENATA!" Alderio berteriak, bahkan urat-urat di wajahnya sampai tercetak jelas karena emosi.


"Apa Al, aku bicara dengan jujur." Sahut Renata berusaha tenang meski hatinya panik.


"Ma, Pa. Kalian percaya pada Alara kan, dia tidak mungkin melakukan hal itu." Ucap Alderio pada kedua orang tuanya.


"Kita akan mencari tahu setelah dokter selesai memeriksa Mika dan Mika sadar." Balas Mama Mira.


Alara ikut terkejut, ia tidak menyangka bahwa Mama mertuanya akan bicara demikian. Mama mertua yang begitu ia sayangi ternyata tidak percaya padanya.


Tangis Alara semakin pecah, hal itu tentu membuat Alderio ikut sedih. Ia menarik tangan istrinya lalu memeluknya dengan erat.


"Jangan takut, aku percaya kamu nggak mungkin melakukan itu, Sayang." Bisik Alderio lembut.


Renata tersenyum senang mendengar ucapan Mama Mira yang meragukan Alara, ia akan membuat Alara dibenci.


Tidak selang beberapa lama, dokter keluar dari ruang periksa Mika. Bima dengan cepat mendekati dokter untuk menanyakan kondisi istrinya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima panik.


"Istri anda baik-baik saja, namun dengan berat hati kami sampaikan bahwa janin dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan, akibat benturan yang cukup keras." Jawab dokter dengan wajah sedih.


Bima terkejut, pria itu duduk di kursi dengan tubuh yang lemas. Ia kehilangan anaknya, apa yang ia katakan pada Mika nanti.


Renata ikut terkejut, ia tidak menyangka bahwa janin dalam kandungan adiknya tidak bisa diselamatkan, padahal usia kandungan Mika sudah lumayan besar. Ada rasa bersalah dalam hati Renata, namun demi rencananya ia harus rela menyakiti adiknya.


"Maafkan aku, Mika. Tapi setidaknya berkurbanlah untuk kakakmu ini," batin Renata.


"Tante lihat kan, Mika keguguran dan Alara pasti senang mendengarnya!" ucap Renata semakin memperkeruh suasana.


Bima yang mendengar ucapan Renata lantas mengangkat wajahnya, ia mendelik tajam ke arah Alara lalu mendekati istri dari kakaknya itu.


"Kau sudah membuatku kehilangan anakku, kau juga harus merasakan apa yang aku dan Mika rasakan." Ucap Bima pelan namun penuh ancaman.


Alderio memegang bahu Bima lalu melayangkan sebuah pukulan ke wajah Bima saat pria itu hendak menampar Alara.


Perkelahian terjadi antara Alderio dan Bima, Papa Wahyu dan Papa Aden berusaha melerai, namun mereka tetap saling memukul.


"Cukup! Lebih baik sekarang kamu dan Alara pergi, Al!" ucap Mama Mira tanpa menatap Alara ataupun Aldi.


"Nyonya Mira." Panggil Mama Dania pelan, ia terkejut dengan ucapan besannya itu.


Al menghempaskan tubuh Bima yang sudah babak belur ke lantai, ia mendekati Alara lalu menggandeng tangan istrinya yang terlihat begitu hancur.


"Ayo pergi, Sayang. Percuma saja kamu berusaha membela diri, kedua orang tuaku juga sudah teracuni oleh perempuan ular ini." Ajak Alderio.


"Hiks … Mas, bagaimana dengan Mika." Lirih Alara menundukkan kepalanya.


"Jangan pura-pura peduli, pergi lah dari sini." Usir Renata.


Mama Dania dan Papa Wahyu saling pandang, mereka mendekati Alara dan Alderio lalu mengajaknya untuk pergi. Saat ini suasana sedang tegang, akan semakin memperkeruh suasana jika terus dilawan.


MAKIN NGGAK WARAS YA RENATA INI😭


To be continued