
Aku melangkahkan kakiku ke meja resepsionis di depan sana saay aku sudah masuk ke dalam gedung.
"permisi ruangan bapak dion sebelah mana ya ?" tanyaku ramah
"maaf apakah anda sudah membuat janji ?" tanyanya ketus
"belum !" ucapku jujur
"maaf jika anda belum membuat janji anda tidak bisa bertemu dengannya !
silahkan tunggu di sana !" ucapnya sambil menunjuk sofa di di sebelahku
Aku pun duduk di sofa di tempat tunggu di sana yang di tunjukkan resepsionis tadi.
"lihat siapa dia ingin bertemu bos besar ?" ucap resepsionis kepada temannya
"iyah, sok kecakepan banget !" sambil berbisik
Sudah 2 jam aku menunggu di sini tapi dion belum juga datang.
"mbak, maaf apa sekarang bisa bertemu bapak dion ?" tanyaku
"lebih baik anda pergi dari sini bapak dion sedang sibuk !" jawabnya ketus
"tapi, saya ingin menemuinya !"
"memang anda siapa ingin sekali bertemu bapak presdir kami ?"
"saya istrinya !"
"mana mungkin bapak presdir punya istri seperti anda ?
jangan mimpi !" ucapnya meledek
"jika dia emang istri si bos pasti tau dimana ruangannya dan tidak perlu bertanya ke sini !" ucap temannya
"tapi, bener saya istrinya !" ucapku
Kedua resepsionis itu pun memanggil satpam dan langsung menarik tanganku dan mengusirku dari perusahaan dion.
Aku sudah memberontak dan bilang kepada mereka jika aku istri dari dion. Tapi, sepertinya mereka tidak ada yang percaya padaku.
"Lepaskan pak satpam, saya emang istrinya dion !" ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku dari pak satpam
"maaf nona jangan membuat keributan di sini !" ucapnya sambil menyeretku.
Di sisi lain...
Saat dion keluar dari lift bersama muel
untuk pergi ke kafe rose. Perhatiannya tertuju pada sosok wanita yang sedang di seret oleh satpam.
"sepertinya itu sisil !" ucap dion dalam hati
Dion pun menghampiri wanita itu yang sedang di seret paksa satpam.
"ada apa ini ?" tanya dion dengan suara tegas
"bapak presdir !" ucap mereka berbarengan
Saat aku mendongakkan kepalaku dan melihat ke arah asal suara tersebut. Aku melihat dion dengan wajah dinginnya.
"sayang !" ucapku pelan tapi masih terdengar
"lepaskan tangan kalian dari tubuh istri saya !" ucapnya dingin
Mereka pun melepaskan tanganku yang sudah memerah.
"kenapa kamu ngg bilang jika ke sini hem ?" tanyanya lembut dan memelukku dengan erat
Semua karyawan melihat ke arah dion yang memelukku erat.
Kulepaskan pelukkanku dan menatap ke arahnya.
"Tadi aku ingin makan siang denganmu tapi, saat aku ingin menemuimu aku tidak di ijinkan bertemu denganmu !" ucapku jujur
"kenapa tidak menelponku ?"
"hapenya lowbet !" cengirku
"astaga sayang !" sambil mencium keningku
"siapa yang tidak memperbolehkanmu masuk ke ruanganku ?" tanyanya dingin dengan nada tinggi
Aku menunjuk 2 resepsionis yang tadi menghalangiku bertemu dion.
Mereka pun meminta maaf pada dion karena tidak mengizinkanku bertemu dengannya.
Dion sudah mengeluarkan tanduknya dan memarahi mereka semua. Aku hanya diam mematung melihat dion memarahi karyawannya.
Sungguh, aku merasa takut karena seumur hidupku tidak pernah melihat dion semarah dan seseram ini.
Sisi lain dion yang belum pernah aku lihat. Sungguh sangat menakutkan ucapan kasar dengan mata yang melotot tajam membuatku merinding.