
Semenjak kejadian itu entah mengapa jika herdy datang ke rumah aku selalu tidak bersemangat menyambut kedatangannya.
Aku merasa bersalah pada orang tuaku dan juga keluarga besar ibu. Semenjak kedatangan mami dan tante imas waktu itu keluarga besar ibu menjadi menjauhi ibu. Dan hendry dia masih mencoba menelpon atau mengirimku pesan. Tapi aku mengabaikannya dan memblokir nomornya.
Rasa bersalah, sekarang terus membayangiku. Takut akan semua kenyataan yang terjadi padaku akan terbongkar.
"kamu kenapa sayang ?" tanya herdy
"ngg apa-apa kok sayang !" jawabku
"sayang apa kamu bisa memilih antara aku dan anggit ?" tanyaku menatap ke arahnya
"aku ngg bisa memilih sayang !" ucapnya dengan nada dingin
"tapi, aku ngg mau jadi selingkuhan kamu terus !" ucapku dengan sedikit emosi
"sisil, cukup...
aku datang ke sini untuk menenangkan fikiranku kamu tahu anggit meminta alu menikahinya !" ucapnya membentakku
"apa ? jadi gimana dengan aku ?" tanyaku sedih
"aku tidak tahu aku bingung !" ucapnya frustasi
"baiklah, jika seperti itu lepaskan aku saja karena tidak mau jadi penghalang kalian berdua. Aku sadar di sini aku yang salah karena telah datang di tengah-tengah kalian !" ucapku dengan air mata mengalir
"aku tidak mau sayang, aku mencintai kamu !" ucapnya sambil memelukku erat
"baiklah, aku kan memberimu waktu untuk itu kalau begitu aku pamit pulang !" ucapnya berdiri dari duduknya dan mencium keningku
lalu pergi dari rumahku.
Saat herdy pergi entah mengapa beban dalam hidupku selama ini menjadi hilang dan membuatku merasa lega.
Herdy masih berusaha menghubungiku tapi aku selalu mengabaikannya. Aku ingin menjauhinya karena menurutku hubungan ini memang dari awal harusnya tidak pernah terjadi.
2 minggu kemudian...
Malam hari aku baru pulang dari cafeku karena malam minggu membuat cafe begitu ramai. Dan saat aku akan pulang tak sengaja aku bertemu dengan herdy. Dia mengajakku untuk berbicara di coffe shop. Aku menurutinya karena bagaimana pun aku harus menyelesaikan masalahku dengannya bukan selalu menghindarinya seperti ini.
Herdy memintaku untuk duduk menunggunya di sana karena dia ingin ke toilet sebentar. Dan saat herdy ke toilet pesanan kami pun datang. Kebetulan rasa haus menyerangku aku pun langsung meminum ice coffeeku dengan cepat. Tapi entah mengapa setelah meminum kopi itu badanku terasa panas. Herdy datang dan langsung membawaku masuk ke dalam mobilku.
Sungguh, aku tidak kuat dengan rasa panas di tubuhku ini. Lalu herdy membawaku ke tempat sepi. Aku sudah membuka cardiganku dan kaos yang melekat di tubuhku.
Tinggal tanktop dan rok yang melekat di tubuhku. Herdy menepikan mobilku dan langsung mencium bibirku. Sungguh perlakuannya membuatku menjadi nyaman. Saat herdy menyentuhku seketika aku tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi.
Dan di sinilah aku tertidur di atas ranjang empuk dan selimut hangat. Entah mengapa aku begitu nyaman dengan tidurku apalagi ada tangan kekar yang melingkar di atas perutku.
"tungggu, tangan siapa ini yang ada di perutku dan kenapa badanku terasa sakit semua seperti tertindih batu ?" Batinku
Aku masih bergelut dengan fikiranku sendiri tapi aku masih tidak bisa membuka mataku. Bagai memakai lem sungguh sulit membuka mataku.