
Hening yang aku rasakan saat kami di depan layar tv. Hanya suara televisi yang sedari tadi menemani kami.
Aku pun memeluk dion yang sedang bersandar di sofa. Dan dion pun hanya fokus pada layar tv sambil mengusap pucuk kepalaku.
"sayang apa kamu sudah sarapan ?" tanyaku memecah keheningan
Dion hanya mengangguk dan mencium keningku.
Aku pun mendongakkan kepalaku dan mencium pipinya. Dion terlihat tersenyum padaku.
mmmuach,,, aku mencium pipi dion sebelahnya lagi
Dan tanpa aba-aba dion langsung menerkamku dan menindih tubuhku.
"kamu ini !" ucapku tertawa dan memukul pundaknya
Dion hanya tersenyum dan mencium keningku dan mengusap rambutku. Lalu mencium kedua pipiku.
"jangan bersikap seperti itu lagi sayang !" ucapnya dan mengajakku untuk bangun dari posisi kami sebelumnya
Aku hanya diam menatapnya
"kamu tahu, linda itu dulu menyukaiku sampai dia mengejar-ngejarku sewaktu SMA tapi, kamu tahu sejak dulu hatiku sudah terukir namamu dan aku tidak bisa berpaling dari dirimu !"
"dan sewaktu linda bersikap itu aku sudah berusaha menolaknya tapi, kamu tahu kan dia sangatlah agresif dan aku tidak bisa bersikap kasar di hadapan orang lain !" ucapnya menatapku
"maaf aku bersikap kekanak-kanakkan sayang !
aku tidak mau ada pertengkaran di dalam rumah tangga kita jadi aku hanya diam dan berusaha bersikap seakan semuanya tidak terjadi apa-apa !" ucapku sambil menunduk
"haha, kamu sungguh menggemaskan sayang ! lain kali aku akan menceritakan semuanya padamu maafkan aku ya ?" tanyanya sambil tertawa dan membawaku ke dalam pelukkannya
Aku hanya diam dan membalas pelukkannya. Selesai dengan acara drama kami hari ini dion mengajakku untuk membuat sesuatu di dapur.
Kami mencari resep dan cara membuatnya di youtube.
"lihat begitu caranya !" ucapku padanya saat kami fokus ke layar ponsel
"baiklah, apa kita akan berhasil ?" ucapnya
"ayo masukkan dulu bahannya lalu kita mixer !" ucapku memerintah dion
"baik, tuan putri !" jawabnya
"baik, karena kita harus menunggu sampai adonannya di istarahatkan terlebih dahulu selama 30 menit sekarang kita harus apa ?" tanyaku pada dion
"kalo ke kamar dulu bagaimana ?" godanya sambil merangkul pundakku
"kamu ini !
aku tidak mau lebih baik kita menonton saja !" ucapku sambil melepaskan rangkulan dion
Kami hanya tertawa, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja di dapur sambil menyiapkan topping untuk di tabur di atasnya
Aku memanaskan pan di atas kompor dan dion menuangkan adonan tersebut dan aku menutupnya dengan tutup pan itu. 10 menit kemudian aku membuka tutup dan menaburkan gula putih sedikit lalu menutupnya kembali.
Setelah matang dan menaruhnya di piring dion mengoleskan margarin lalu meses dan keju di atasnya dan tak lupa memberi susu kental manis. Lalu menutupnya dan memberi olesan margarin lagi di kulit martabak itu.
"sungguh, cocok sekali kamu jadi tukang martabak sayang !" ucapku sambil tertawa
"kamu itu meledekku apa memberi pujian sayang ?" tanyanya sambil memotong martabak itu
"kamu fikir apa ?" tanyaku sambil tertawa
Dion langsung memelukku dan mengelitikiku hingga aku lemas dibuatnya.