My Is Love

My Is Love
bab 11



Selesai makan andri pergi ke kasir untuk membayar. Aku sudah memaksanya agar aku yang membayar tapi andri bersikeras untuk dirinya yang membayar. Akhirnya aku pun mengalah.


Aku mengantarnya sampai ke tempat parkiran. Sungguh diluar dugaan andri memelukku dengan erat dan saat dia akan mencium keningku aku menjauh darinya.


"andri takut tidak akan bisa bertemu lagi dengan teteh !" ucapnya sambil melepaskan pelukkannya


"kamu kan bisa ke rumah teteh andri !" ajakku


"andri ngg bisa teh, tapi... !" ucapnya menggantung


"andri harus pulang teh, dadah teteh !" ucapnya sambil mengacak ramburtku dan pergi dengan motornya


"Kenapa andri seperti menyembunyikan sesuatu ya ?


Dari dulu sampai sekarang dia tidak pernah mau menginjakkan kakinya ke rumahku ?" fikirku.


Lamunanku buyar saat dio datang dihadapanku.


"kamu ngapain di sini ?


jadi tukang parkir ?" tanyanya


"enak aja, aku mau masuk ke dalam kok !" ucapku sambil melangkah masuk ke dalam cafe


"sil tunggu, kamu ke ruangan kita !" ucapnya


"ada apa dion ?" ucapku padanya saat kami sudah berada di dalam ruangan kami


"kayaknya aku bakalan sibuk 3 bulan ke depan ?" ucapnya


"teruus ?"


"kamu bisa kan handle semua pekerjaan sendiri tapi, jika tidak ada yang kamu mengerti kamu bisa ke rumahku !" ucapnya


"iya, aku akan berusaha kok !" ucapku sambil tersenyum


Dion pun mengusap pucuk kepalaku


Beberapa bulan kemudian...


Akhirnya aku sudah masuk ke universitas. Dan kafeku yang aku bangun bersama dion telah berkembang pesat.


Hubunganku dengan anji semakin renggang. Entah mengapa setiap aku menghubunginya nomornya selalu tidak aktif. Aku pun sudah menghubungi temannya. Mereka bilang anji tidak ada di sana.


Bahkan, dia sudah menyatakan cintanya padaku. Aku sudah memblokir nomornya dan tidak pernah datang ke kafe yang ada di cabang sana. Karena, pasti dia akan datang menemuiku.


Akhirnya, aku mengganti nomorku dan saat aku membeli ponsel baru aku bertemu dengan reza yang berusia 24 tahun. Dia adalah pemilik toko handphone dan tokonya tersebar di sekitaran cimahi.


Selama seminggu aku dan reza selalu bertukar kabar. Dan kami menjadi dekat dia selalu membawa temannya jika bertemu denganku.


Aku pun selalu membawa adikku tommy jika bertemu dengannya.


Dan hari ini reza meminta untuk datang ke rumahku.


"permisi " ucap seseorang mengetuk pintu rumahku


Bi asih pun membuka pintu dan mempersilahkan kedua orang itu masuk


"hai reza kamu datang ?" ucapku menyapanya dan mempersilahkan masuk


"iya aku ingin bertemu denganmu !" ucapnya


"itu siapa reza ?" tanyaku pada orang di samping reza


"ini bagas temanku !" ucapnya memperkenalkan bagas padaku


"ini siapa sayang ?" ucap ayah


"kenalin yah ini reza temen deket sisil !" ucapku


Reza pun mencium punggung tangan ayah dan memberikan banyak martabak berbagai rasa pada ayah.


"ya udah ayah tinggal tapi jangan malam-malam yah ngobrolnya malu sama tetangga !" ucap ayah tegas


"iyah yah !" ucapku


"iya om, saya hanya sebentar kok !" ucap reza


Ayah pun meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Setelah lama mengobrol reza pamit untuk pulang. Aku mengantarkan reza dan bagas sampai ke depan rumah.


Saat aku masuk ke dalam ayah menyuruhku untuk duduk. Seperti ada sesuatu yang akan beliau sampaikan padaku.


Aku pun duduk di sebelahnya.