
Setelah mengobrol dengan ibu. Ibu pun menyuruhku untuk masuk ke dalam dan segera pergi tidur.
Di dalam kamar aku masih memikirkan kata-kata ibu tadi.
"ternyata tante widya tidak sebaik yang aku fikir. Aku kira dia hanya tidak suka pada ibu tapi aku juga !
bersyukur karena aku dan dion tidak pernah ke rumah nenek.
Entah apa yang terjadi jika aku ke sana ?" ucapku dalam hati lalu aku pun segera memejamkan mataku
Pagi-pagi aku sudah bangun lebih tepatnya aku tidak tidur semalamam. Aku masih kefikiran dengan ucapan ibu tentang tante widya.
Selesai mandi dan berganti pakaian
Mua sudah datang ke kamarku dan merias wajahku. Aku memakai kebaya berwarna putih dan duduk di atas sofa menunggu acara dimulai.
Sedangkan keluargaku berada di bawah menunggu mempelai laki-laki datang. Aku memainkan ponselku sambil menunggu dion datang.
Tiba-tiba dion menelepon. Aku pun mengangkat telepon dari dion. Belum aku mengatakan kata halo dia sudah bicara terlebih dahulu.
"gimana udah cantik belum ?" tanyanya meneleponku
"liat aja sendiri emang kalo jelek kamu ngg jadi nikahin aku ?" tanyaku ketus
"idih, ko mbaknya sewot sih sama suami dosa loh?" jawabnya menggodaku
"iih, dion udah tahu aku gugup malah ngegoda aku ?" ucapku kesal
"harusnya aku yang gugup sayang karena kamu hanya akan diam di sana !" ucapnya tertawa
"kamu udah sampe sini ?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
"bentar lagi sampe kok sayang !
tunggu sebentar ya " ucapnya
"Perasaan dia ada di sebelah kenapa lama sekali ?" fikirku
"sayang ?" pangggilnya
"iya, kenapa ?" tanyaku
"siap-siap buat nanti malam ya?" godanya
"dasar mesum !" ucapku sambil menutup teleponnya
Tak lama kemudian mama pun memanggil karena keluarga dion sudah ada di depan rumahku. Aku menyambut dion dengan mengalungkan rangkaian bunga sedap malam pada lehernya. Sungguh dia sangat menyebalkan saat aku melihatnya dia langsung mengedipkan matanya kepadaku.
Bukan hanya itu saat ijab qabul tiba di masih sempat-sempatnya meledekku.
Aku pun panik dan melihat pada kaca kecil yang aku bawa.
"kamu ngerjain aku ?" tanyaku kesal
"habisnya kamu gugup banget !" ucapnya datar
Selesai ijab qabul aku mencium punggung tangan dion dan dion mencium keningku. Sungguh hari ini aku sangat bahagia karena aku dan dion telah sah menjadi suami dan istri.
"akhirnya tinggal acara resepsi !" ucapku lega duduk berdua diatas pelaminan
"kenapa kamu segugup itu sayang ?" tanyanya
"aku takut saat ijab qabul kamu kabur !" ucapku ketus
"kenapa aku kabur ?" tanyanya bingung
"kan tadi alis aku bengkok sebelah !" ucapku kesal
"hahah, aku cuman bercanda sayang !
jangan marah ya ?" ucapnya lagi sambil mengusap pipiku
"sayang boleh ya ?" tanyanya
"boleh apa ?" tanyaku bingung
"kiss !" ucapnya berbisik
"dion nanti ada yang lihat !
aku tidak mau !" ucapku menolak
"kita cuman berdua di sini sayang, yang lain juga sedang makan di sana !" ucapnya
"ngg !" ucapku
"boleh !"
"ngg"
"boleh, boleh, boleh ! ucapnya tak mau kalah
" terserah !" ucapku malas
Dion pun lalu mencium bibirku. Aku hanya melotot dibuatnya sedangkan dia tertawa puas.
Entah mengapa dion setelah mengungkapkan perasaannya padaku menjadi sedikit menyebalkan. Di itu dingin, pendiam dan jarang berbicara tapi sekarang aku malah pusing padanya yang sering banyak berbicara.