My Is Love

My Is Love
bab 28



Flashback on


Saat aku duduk sambil melihat hamparan kebun teh di subang. Dion bercerita alasan dia harus pergi ke jakarta.


Sang nenek yang sudah tua dan sakit-sakitan meminta anak dan cucunya untuk berkumpul di sana.


"sil..." panggilnya di sebelahku


"kenapa dion ?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya


"kamu tahu kenapa aku pergi ke jakarta ?" tanyanya sambil menatapku seperti menahan untuk menangis


"ngg dion, kenapa memang ?


jika kamu tidak mau cerita jangan dipaksakan dion !" ucapku sambil menggenggam tangannya


"Sebenarnya aku anak tiri papa !" ucapnnya sambil meneteskan air mata


Bagai di sambar petir di siang bolong aku terkejut dan diam mendengarkan dion.


"kamu tahu, saat aku berumur 2 tahun ayahku pergi dengan wanita lain dan membuang ibu serta diriku. Lalu mama bertemu dengan papa kebetulan papa juga baru bercerai dari mantan istrinya.


Mereka lalu menikah papa juga mempunyai anak dari istrinya berbeda 1 tahun denganku tapi, dia memilih tinggal dengan ibunya.


Dan alasanku pindah ke bandung karena semua keluarga papa tidak suka dengan kehadiran aku dan mama di sana.


Jadi papa memutuskan untuk membawa pergi kami jauh ke sini !


Dan sekarang nenek sedang sakit di rumah sakit dia meminta semua anaknya berkumpul di sana untuk menemaninya.


Aku takut sil, aku tidak akan pulang ke sini lagi karena nenek meminta papa melanjutkan perusahaan keluarga di sana !" ucapnya sedih


"semoga saja itu tidak terjadi dion !" ucapku sambil mengusap punggungnya


"aku takut sil dengan keluarga papa karena mereka selalu mengacuhkan dan memandang rendah aku dan mama sil !"


"sabar dion, aku harap kamu tidak lama di sana, kamu yang semangat ya !" ucapku


"cupp....sabar ya dion...." ucapku menenangkannya


Flashback off


Semenjak kejadian itu aku selalu berusaha membuatnya tersenyum. Karena, dia sahabat sekaligus kakak terbaik untukku.


Setelah dion pergi sekarang giliranku beraksi. Malam nanti hendry akan datang ke rumah dia sudah menanyakanku apa yang ingin aku inginkan untuk malam nanti agar dirinya bisa membawa makanan kesukaanku.


Aku meminta dirinya membawakan martabak, berbagai rasa untukku. Dia pun menyanggupinya lalu aku menghubungi herdy karena dia berjanji akan ke sini nanti malam.


Sungguh aku tidak sabar dengan nanti malam. Walau aku sudah tahu wajah herdy karena kami sering videocall tapi, tetap saja bertatap muka secara langsung aku masih merasakan gugup. Apalagi pembicaraan kami sering kali terputus karena anggit selalu mengganggu kami.


Malam pun tiba, hendry datang dari arah belakang rumahku dirinya takut akan bertemu mami lina dan tante imas di depan rumahku.


Mereka adalah kakak dan adik kandung ibuku yang satu komplek dengan keluargaku.


"kenapa jalan situ a ?" tanyaku saat dia menghubungiku jika dirinya telah sampai di belakang rumah.


"takut ketemu sama mami dan tante imas !" ucapnya


"emang mereka si biang gosip !" Batinku


"yuk masuk a, di dalem ada ayah dan ibu !" ajakku


"sil, bisa bantuin aa ngg ?" ucapnya sambil mengangkat beberapa kantung


"sini biar sisil bantu !" ucapku sambil mengambil kantung itu dari tangannya


Kami berdua pun masuk ke dalam rumah. Yang membuat ayah dan ibu bingung karena tamu agung datang dari belakang rumah.


Aku pun menjelaskan alasan hendy tidak mau lewat depan.


Pasti akan menjadi trending topic satu komplek.