
Saat aku selesai dengan makananku. Aku masih setia duduk di pojok meja. Entah mengapa aku merutuki kebodohanku yanh dulu dekat dengan herdy sehingga aku harus menikah dengan dion. Apa ini yang dion rasakan saat aku dekat lelaki lain. fikirku
Tanpa aku sadari, dion telah ada duduk di hadapanku.
"kenapa kamu melamun sayang ?" tanyanya
"ah, sayang ?
sejak kapan kamu ada di situ ?" tanyaku bingung
"dari tadi sayang, aku lihat kamu melamun !
apakah kamu sudah selesai makannya ?"
"udah, kamu sendiri sudah makan ?"
"udah tadi linda membawa makanan untukku !"
"ouh, ya sudah !" ucapku tidak bersemangat
"ayo pulang ?" ajaknya
Lalu dion berdiri dan mengulurkan tangamnya padaku dan aku menerima uluran tangannya dan dion menggenggam tanganku dengan erat. Kami pun datang menghampiri linda dan suaminya untuk pamit pulang.
"lin, selamat ya atas pernikahanmu dan kami pamit harus pulang !" ucap dion
"kenapa ngg lebih lama aja di sini dion ?" tanyanya manja
aku dan suami linda hanya diam mendengarkan dion dan linda bicara.
"sudah terlalu larut aku dan sisil pamit pulang ya !" ucapnya
"ya sudah, terima kasih kamu udah dateng me sini ya dion !" dengan nada manja
"iya, kami pamit !" ucapnya dan aku hanya tersenyum pada linda dan suaminya
Saat di dalam mobil aku hanya terdiam tidak banyak berbicara.
"sayang kamu lelah hmm ?" ucapnya sambil mengusap pucuk rambutku
"iya !" ucapku singkat
"ya sudah kamu tidur sini di pundakku !" ucapnya sambil fokus menyetir
aku bisa tahan rasa kantuk ku kok !" ucapku tersenyum padanya
Dion pun hanya tersenyum padaku sambil fokus menyetir.
Saat sampai di rumah pun aku masih tidak banyak berbicara. Setelah membersihkan make up dan mengganti baju dengan baju tidur. Aku segera tidur diatas ranjang.
"aku tidak boleh marah atau mendiamkan dion. Apa yang aku lakukan dulu lebih menyakitkan dari pada ini !
aku harus kuat !" ucapku dalam hati saat aku akan tidur
"sayang, apa kamu selelah itu ?" tanyanya di sebelahku dan aku berpura-pura sudah tertidur lelap
"ya sudah, selamat tidur sayang !" ucapnya sambil mencium keningku lalu memelukku dengan erat.
aku hanya terdiam pura-pura tertidur.
Saat pagi tiba seperti biasa aku bangun terlebih dahulu dari pada dion. Selesai membereskan rumah dan memasak aku memutuskan untuk jogging di sekitaran komplek rumah.
"sisil habis dari mana kamu ?" tanya ibu yang sedang di luar rumah menyirami tanaman
"habis lari bu !" jawabku sambil menghampirinya
"emang pekerjaan rumah kamu udah beres ?" tanyanya
"udah dong bu, jadi sisil bisa pergi lari !" ucapku sambil tersenyum lebar padanya
"dion kemana ? kenapa ngg bareng dia ?"
"masih tidur, semalam kami pulang larut !
biarin aja bu kan libur juga hari ini ?" ucapku pada ibu
sedangkan ibu hanya mengangguk pertanda mengerti.
Selesai mengobrol, aku pulang ke rumah lalu membersihkan diri. Dion masih tertidur lelap di atas ranjang. Dan aku sengaja tidak mau membangunkannya dan memilih untuk pergi ke cafe sendiri.
Karena, hari ini hari libur membuat kafe sangat ramai oleh pengunjung. Sejenak aku bisa melupakan kekesalan hatiku pada dion.
Entah mengapa, aku lebih ingin menghindari dion daripada bertanya atau menyelesaikan masalahku padanya.
Aku msih menunggu dion memberitahuku dan menjelaskannya dari pada aku harus bertanya padanya.