My Is Love

My Is Love
bab 41



Sungguh jantungku berdetak dengan cepat saat dion mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku lama sekali. Lalu ciumannya turun ke bawah. Aku hanya bisa memejamkan mataku.


"sayang buka mata kamu !" titahnya sambil mencium leherku


"aku malu dion !" ucapku sambil membuka mataku sedikit dia hanya tersenyum


Ciuman dion sampai ke dadaku lalu dia membuka bajunya dan bajuku.


"astaga, aku baru tahu jika dion mempunyai roti sobek di perutnya !" ucapku dalam hati


Dion terus melakukan aksinya walau bisa di bilang sedikit kaku.


Aku hanya diam saat dia tidak berhasil membuka pengait bra ku.


"sayang susah !" ucapnya manja


Aku pun membuka bra-ku di hadapannya.


"dion jangan menatapku seperti itu aku malu tahu !" ucapku malu


"kamu ini aku sudah melihat setiap jengkal tubuh kamu kenapa mesti malu ?" tanyanya


Blush seketika pipiku memerah


"kenapa diam ?


berarti kamu sudah siap !" ucapnya tanpa aba-aba langsung menindih tubuhku dan mengarahkan juniornya ke area sensitiveku


Aku hanya mengigit bawah bibirku. Saat dion berhasil memasuki surga dunia itu.


"jangan di tahan sayang !" ucapnya sambil memaju mundurkan miliknya


"aahh" desahku lolos begitu saja tapi, aku langsung menutup mulutku takut ada yang mendengar.


Tak lama kemudian tubuh dion seperti orang tersetrum


"aargghhhh,,," aku langsung membungkam mulutnya


"ssttt" ucapku padanya dia pun tumbang diatas tubuhku.


Setelah itu dia turun dari atasku dan berbaring di sebelahku sambil membersihkan bekas permainan kami. Lalu kembali berpakaian.


"kenapa ?" tanyaku bingung


"kamu tahu, aku was-was jika kita melakukan itu akan terdengar sampai ke luar !" sambil tertawa


"hahah, dasar kamuu !" ikut tertawa


"dion, apa aku bisa meminta sesuatu ?" ucapku takut


"kenapa yank ?" tanyanya bingung


"emmh, umur kita kan masih muda aku ingin menikmati masa muda kita apa boleh aku memakai alat kontrasepsi ?" dengan cemas


"terserah kamu yank, asal kamu bahagia !" ucapnya


"terima kasih sayang !" ucapku mencium pipinya


Kami pun bergegas untuk tidur karena malam semakin larut.


Saat kami bangun ternyata sudah jam 8 pagi. Aku segera ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu selesai berpakaian aku sedikit mengoleskan make-up tipis di wajahku.


Lalu aku turun segera ke bawah dan menghampiri ibu.


"ibu maaf sisil bangunnya telat !" ucapku bersalah


"tidak apa-apa sayang, pasti kamu lelah kemarin !" ucapnya lembut


"pasti lelah bu, kan semalam suara kakak sampai ke sebelah kamarku !" sambar sammy ikut berbicara


"maksud sammy apakah saat itu dia mendengarnya ?


malu banget aku !" ucapku dalam hati


"nanti-nanti kalo kakak melakukannya jangan keras-keras ya kak ! ingat adikmu ini masih suci. telinga dan matanya masih belum ternodai!" ucapnya tertawa dan berbisik ke telingaku lalu pergi meninggalkanku sambil membawa piring kotor ke dapur


blusshh, pipi ku merah bagai kepiting rebus. Sungguh aku malu sekali dengan sammy apakah dia bercanda atau memang dia mendengar semuanya. Aku pun kembali naik ke atas untuk berbicara dengan dion.


Yang ada dalam fikiranku saat ini adalah mengajak dion berbicara serius kemana kita akan pindah. Bagaimana kita melanjutkan hidup kedepannya. Karena, sekarang kami sudah harus memikirkan rumah tanggaku. Sebenarnya aku masih belum siap dengan pernikahan ini yang begitu mendadak. Jadi otakku ini masih belum bisa mencernanya dengan sempurna