
Ya hari ini tepat aku menemani Nuray atas permintaan Ayahnya Baba Ramzan.
Seperjalanan kami tak banyak bicara, karna apapun yang coba ku katakan akan berakhir dengan balasan anggukan kepala Nuray saja.
Jadi apa maksudnya meminta Baba menyuruhku untuk menemaninya ke Linford untuk wawancara testnya. Dia juga tidak terlihat gugup dan terbilang siap, sesakali menanyakan bagaimana penampilannya. Itu saja.
Hanya satu kalimat sebelum ia masuk ke dalam gedung ini tadi,
"Aku akan menjadi pegawai wanitanya CEO Linford, Emma."
Dengan sangat bangga.
Ucapannya itu agak narsis, tidak cocok dengan sifatnya yang terkesan introvet. Entahlah, mungkin dia sangat menyukai pekerjaan atau gedung ini.
Tentu, siapa yang tidak bangga bila di terima di perusahaan ternama ini. Akupun ingin,
"Tidak..tidak... jangan melantur Emma."
Bulu kudukku berdiri jika mengingat tawaran Tuan es kutub utara itu, tapi aku menjanjikannya sepekan untuk berfikir. Padahal ia butuh sekretaris untuk rapatnya hari ini.
Setidaknya tas ini sudah di tanganku, kalau-kalau aku mau kabur dia tak bisa menahanku lagi dengan tas ini.
Apakah aku yang terlalu bodoh, seperti ada urutan yang tidak benar sampai aku harus menerima permintaannya menjadi sekretaris nya.
Sedang perempuan-perempuan cantik yang tengah antri menunggu jadwal wawancara dengan persiapan yang tidak mungkin mudah ini?
Aku akan melewati mereka semua dan bersanding di samping Tuan Linford sebagai sekretaris nya dengan hanya bermodalkan tas buluk ini.
Hah? Logika macam apa ini?
Apa di antara perempuan-perempuan ini tidak ada yang tahan banting? Apa istimewanya tahan banting?
Jadi sebenarnya keistimewaanku di bandingkan perempuan-perempuan ini baginya adalah, karena aku tahan banting?
Astaga Emma, hentikan pikiran random mu ini. Otakmu sudah kesulitan, jangan biarkan ia semakin kacau.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Apakah anda Nona Emma Edelsteen?"
"Siapa!?" Jawab ku sedikit terkejut.
Dia ternyata pegawai pria yang mengantarku ke ruangan manager waktu itu. Ada apalagi ini?
"Nona, saya utusan Tuan Linford memanggil anda untuk menemuinya."
Benarkan, sesuatu yang tidak beres.
"Saya?"
"Iya Nona."
"Tapi saya datang kesini tidak sedang ada keperluan dengan Tuan Linford, saya menemani teman saya wawancara kerja."
"Begini Nona, tunggu sebentar.." Ucapannya terhenti.
Pria itu mengangkat ponsel dari kantongnya, terlihat wajah patuh mengangguk dan mengiyakan apapun yang di katakan lawan bicaranya.
"Nona, ini telfon langsung dari CEO kami."
"Untuk saya?" Jawabku tak percaya.
"Iya Nona,"
"Hallo?"
"Selamat pagi Nona Emma?"
Ah, sial benaran Pria itu.
"Selamat pagi Tuan Linford."
"Kebetulan sekali, anda disini kalau tidak keberatan datanglah ke ruangan saya."
"Tunggu Tuan, dari mana anda tau saya disini?"
"Di gedung ini semua dinding punya mata dan telinga. Kau harus berhati-hati untuk tidak tertangkap oleh saya, Nona Emma."
Hah? Aku bahkan duduk di kursi lobby, bukan di deretan antrian wawancara test itu. Dari mana dia tau.
"Tapi masih ada 5 hari lagi untuk saya berfikir Tuan Linford."
"Tentu Nona Emma, tentu. Ini pembicaraan tentang hal lain."
"Pembicaraan apa lagi?" Jawabku ketus.
"Kau cepat sekali marah, Nona Emma."
"Bukan begitu..."
"Kalau bukan begitu, cepatlah ke ruangan saya."
"Tapi, saya..."
"Tidak ada tapi-tapi kalau kau ingin memperumit urusan yang kemarin."
Sayangnya aku tak punya alasan untuk menolak. Dan pria itu sulit sekali untuk di bantah.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Entah apalagi ini, apa hanya aku yang di perlakukan begini. Aku merasa dia mulai seenaknya padaku.
Ku beri pesan pada Nuray dulu, barangkali aku belum turun saat dia sudah selasai wawancara kerja.
10 menit kemudian aku sampai di ruangan CEO, tatapan beberapa pegawai mulai terlihat aneh. Entah, perasaanku saja.
Didalam lift,
"Tuan boleh aku bertanya siapa nama anda?"
"Nama saya Liam Nona."
"Apakah kau kepercayaannya Tuan Linford?"
"Mungkin begitu Nona,"
"Jawabanmu kurang yakin Tuan Liam."
Dia hanya menjawab dengan tersenyum tipis, dan seperti enggan untuk bicara lagi.
Baiklah sebaiknya aku diam dan mungkin aku terlalu banyak ingin tahu.
****