
Setelah melewati malam panjang pesta peresmian produk digital terbaru yang sempat tertunda karna kasus yang menyeret Nuray pada saat itu, Bastian mengajakku tanpa memberitahu entah kemana.
Aku bersikeras memaksanya untuk memberi tahu kemana kami akan pergi tapi dia hanya tersenyum dan diam. Bastian benar-benar menguras rasa penasaran di kepalaku, tapi aku agak terkejut ketika saat kami berhenti di sebuah gedung yang tidak jauh dari Linford tower.
Aku berfikir Bastian akan mengajakku ke suatu tempat agak jauh dan memberiku sebuah kejutan. Tapi gedung ini tak asing, aku sering melewatinya beberapa kali.
"Disini? Aku kira gedung ini tidak asing."
Bastian masih tak menjawab dengan senyumnya yang misterius. Dia menggenggam tanganku dan mengajakku mengikutinya.
Setelah melewati sekitar 7 lantai, sampailah kami depan pintu Apartement.
Gedung ini tidak terlalu tinggi dan tidak seperti gedung Apartement pada umumnya, sedikit lebih Eksklusif.
"Ayo masuk!"
Aku mengekor dari belakang tubuh Bastian yang lebih dulu masuk, dan terperangah. Benar-benar tidak masuk akal, ini rumah mewah di dalam sebuah gedung.
"Karna aku tidak memilik keluarga disini, aku tidak memiliki Mansion. Aku hanya memiliki sebuah Apartemen dan Condominium ini, aku berfikir akan mengajakmu kesini di moment yang tepat. Dan entah karna apa akhirnya aku tak sempat mengajakmu dan hari ini ku rasa adalah hari yang tepat." Ucap Bastian menjelaskan.
"Lalu?" Aku menatap ke dalam mata pria berwibawa ini.
"Aku hanya ingin mengajakmu kesini dan kita bisa merayakan ulang tahunmu lebih privasi."
"Ulang tahun? Aku?"
"Kau memikirkan apa sampai melupakan ulang tahunmu sendiri?"
Belum sempat aku menjawab, Bastian menyeret tanganku dan kami sampai di sebuah balkon yang telah di dekor dengan sangat indah.
"Bastian??" Aku sampai tidak bisa berkata-kata.
Tanpak Bastian berdiri di hadapan sebuah meja, memantik sebuah korek cantik dan menghidupkan sebuah lilin di atas kue tart dengan krim berwarna biru muda. Itu warna kesukaanku.
"Selamat ulang tahun, Emma."
Aku benar-benar kehilangan kata-kata, tak menyangka Bastian semanis ini di balik kesibukannya selama ini.
"Ayo katakan keinginanmu sebelum meniup lilin ini Emma."
Aku segera menunduk, meminta beberapa doa yang paling ku harapkan terjadi di umurku yang ke 27. Aku meniup lilin dengan semangat, karna di hari aku bertambah umur akhirnya ada seorang yang spesial di hidupku.
Bastian meletakan kue tart yang tadi ia pegang dan mengajakku untuk melihat pemandangan Kota Agithum dari sudut yang berbeda dari yang biasanya kami lihat di Linford Tower ataupun Apartement.
Angin malam yang bertiup agak kencang membuatku gemetar, Bastian dengan sigap memasukan tubuhku kedalam coatnya dan mendekap tubuhku dari belakang.
"Ini sudah memasuki musim semi tapi masih terlalu dingin, kau juga hanya menggunakan blazer tipis seperti ini." Bastian memasukan wajahnya kedalam tengkukku.
"Aku hanya ingin terlihat cantik saat bertemu dengan para pemegam saham, juga dari ribuan kariawan Linford."
"Jadi kau berdandan bukan untukku?"
"Tentu juga untukmu Tuan Linford yang posesif." Jawabku sambil memukul gemas lengan Bastian.
"Kau semakin cantik setiap hari membuatku semakin khawatir jikalau ada seorang pria yang mendekatimu."
"Pft... Kau cemburu kalau aku tampil cantik."
"Iya! Aku cemburu, bahkan saat kau keluar dari apartemen mu ke minimarket hanya dengan celana piyama dan kaos yang kebesaran."
Aku memutar badan dan membelalakan mata ke wajah Bastian.
"Kau memata-mataiku Bastian??"
"Aku tidak melakukannya, hanya saja aku pernah beberapa kali melihatnya dan kau terlihat sangat menggemaskan. Kau juga hanya mengelung rambutmu ke atas dan menggunakan bandana tebal aneh berwarna kuning cerah."
"Hentikan Bastian, jangan lanjutkan lagi. Memalukan." Aku menyembunyikan wajahku kedalam dada Bastian.
"Kau malu? Aku cemburu, tapi tak bisa melakukan apapun! Ingin rasanya aku menyeretmu paksa dan menguncimu dalam apartement. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa begitu kagum, bagaimana ada seorang wanita yang begitu cantik bahkan saat ia tidak berdandan sekalipun."
"Dan wanita itu adalah kekasihku yang pemalu ini, yang segala tindakannya selalu membuat hasratku selalu tergoda." Ucap Bastian lagi, membuat hatiku seperti di jatuhi ribuan bintang.
"Jangan terus-menerus menggodaku Bastian, wajahku terasa panas."
Cup! Satu kecupan melayang di keningku. Membuat wajahku semakin bersemu.
"Aku harus menggunakan upaya agar kau merasa tergoda Emma, sedang aku sudah tergoda bahkan melihatmu yang tidak melakukan apa-apa. Bukankah ini tidak adil?"
"Maaf karna aku tak pintar menggodamu Bastian."
"Godalah aku malam ini, bawa aku keduniamu dan dunia kita."
Glek! Apakah aku tidak salah dengar?
"Apakah kita akan melakukannya malam ini?" Tanyaku dengan bodohnya.
"Pfft... Bolehkah?" Balas Bastian dengan nada menggodaku.
Aku hanya bisa menggigit bibirku, masih meragukan apakah yang sedang Bastian bicarakan sama seperti apa yang ku pikirkan.
Tapi.. Ahh! Bastian malah membawaku kedalam kecupannya, membuatku sulit bernafas dan tersengal-sengal. Aku pasti sudah gila, aku semakin mahir dan semakin berani bermain-main dalam permainan Bastian.
Entah apa yang terjadi hingga aku benar-benar terhanyut tak kala Bastian menggedongku dengan kecupan kami yang masih saling tertaut.
"Bastian..!" Pekikku.
Kewarasanku muncul, aku tersadar saat kami sudah saling meleguh di atas pembaringan, tiba-tiba rasa malu meliputiku saat tangan Bastian sudah bermain di tempat yang tak seharusnya.
"Ada apa Emma?" Ucap Bastian.
Raut khawatir meliputi wajahnya, entah apa yang terfikir olehnya yang jelas aku benar-benar gemetaran saat ini. Seluruh tubuhku di lumuri keringat dingin, sedang yang sebenarnya kurasakan seperti terbakar, seisi perutku ingin keluar karna terlalu gugup.
"Aku...Aku belum siap." Air mataku bercucuran begitu saja, padahal waktu itu aku bisa menikmati saat seperti ini. Tapi saat mengetahui apa yang seharusnya terjadi, rasanya berbeda. Tubuhku yang tadinya mengikuti alur, kini membayangkan hal-hal menakutkan yang belum terjadi.
"Tenanglah Emma, tenanglah... Aku tidak akan melakukannya jika kau belum siap, tadi aku hanya menggodamu. Kau tidak perlu khawatir."
Bastian memeluk lantas menepuk-nepuk perlahan di belakang pundakku. Aku benar-benar merasa seperti gadis yang bodoh, ini memalukan.
Aku menyiksa seorang pria yang kucintai ketika ia menginginkan hasratnya tersampaikan, aku benar-benar tak punya muka lagi melihat wajah Bastian. Andai yang terjadi tadi belum sejauh ini.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 😉