
Mataku setengah mengantuk saat Paman Anthony keluar dari ruang operasi, tubuhnya yang tampak lemah dengan beberapa selang yang yang tertanam di hidung, mulut dan sebagian lain dari tubuhnya.
Baru kali ini aku melihat kondisi Paman Anthony separah itu,aku juga bertambah sedih melihat raut wajah dari Bibi Agatha.
Bertahun-tahun lamanya Paman Anthony mengidap penyakit itu dan entah berapa kali Paman Anthony melalui kemoterapi dan beberapa kali melewati operasi kecil dan besar. kami selalu optimis Paman Anthony akan kembali sembuh walau kemungkinan itu hanya 1%.
Paman Anthony sudah berjuang keras sampai detik ini entah itu karena Bibi Agatha atau semangat hidupnya masih yang tinggi. Tahun lalu sebenarnya dokter sudah mendiagnosis umur Paman Anthony hanya akan bertahan sampai 2 tahun lagi itupun dengan catatan harus dalam pengawasan dan pengobatan yang tepat.
Dari kecil aku tidak begitu dekat dengan Paman Anthony, ya.. karena Paman Anthony lebih sering menghabiskan waktunya di atas kasur, rumah sakit dan akhirnya di pusat rehabilitasi cancer. Ingatanku saat bersamanya bisa di bilang tidak ada yang melebihi saling membalas senyum dan sedikit beramah tamah.
Paman di tempatkan di NICU sebelum sampai nanti dia sadar, Paman akan terus di pantau sampai kondisinya memungkinkan untuk di pindahkan ke kamar rawat biasa. Kalau Tuhan berpihak pada kami, setelah kondisinya stabil kemungkinan Paman bisa kembali ke pusat rehabilitasi cancer lagi.
Sebenarnya ini bukan hal yang baru lagi, aku sudah terbiasa melewati ini berulang kali. Tapi kali ini terasa semakin berat karna secara kasat matapun, aku tau kondisi Paman Anthony sudah sangat lemah dan kelelahan untuk bertahan.
Bibi bersikeras menemani taman Anthony di dalam ruangan NICU, di saat bersamaan Bastian menghampiriku yang sedari duduk di barisan kursi tunggu, kursi -kursi yang di peruntuhkan untuk keluarga pasien yang sedang di rawat di dalam ruangan NICU.
Bastian duduk tepat di sampingku, tangannya meraih tangganku, dia tak bicara hanya terus berfokus menggenggam tanganku. Sejenak mataku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 4 dini hari.
"Aku baru selesai dari menemui dokter yang menangani operasi Paman Anthony."
Raut wajah Bastian tak terlihat baik, tapi apalagi yang bisa ku harapkan. Peluang itupun semakin mengecil seiring waktu yang terus berjalan.
"Kangker sudah 70% penguasai organ dalam paman mu Emma, ia juga sudah kelelahan dengan semua kemoterapi yang pernah di laluinya. Kemukinan hidupnya semakin mengecil, kita semua hanya bisa berharap yang terbaik untuk Paman Anthony."
Aku menarik nafas sangat dalam, walau aku sudah tau. Tapi mengapa? Mengapa ucapan Bastian masih terdengar menyakitkan, menyakitkan seakan aku harus bersiap melewatkan satu kematian lagi. Rasa perih bergumul di dada menciptakan sesak yang luar biasa, aku tak bisa menahannya.
Airmataku tumpah ruah, aku tak bisa menahan nya lagi seperti beban yang begitu lama ku pendam mengalir terjun bebas begitu saja.
"Kuatkan dirimu Emma,"
Ucapan Bastian terdengar semakin samar, yang terdengar hanyalah suara tangisku yang semakin menderu.
****
Kabar buruknya taman masih belum siuman, Paman masih di bantu menggunakan alat-alat kedokteran yang tidak kumengerti.
hari ini jadwal baby Agatha beristirahat, dan aku yang menjaga Paman Anthony. dan hari ini casey akan datang menemaniku.
Bastian tidak memaksaku untuk bekerja, tapi aku bersikeras membawa sama pekerjaanku aku ke rumah terkadang juga aku mengerjakannya saat menjaga Paman Anthony.
Mau tidak mau Bastian juga harus merekrut sekretaris baru untuknya. sekretaris itu hanya bersifat sementara, aku juga tidak keberatan sama sekali mengingat Bastian adalah orang yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya.
Dia pasti membutuhkan sekretaris saat ini, seandainya Harold tidak sibuk dengan cabang perusahaan baru di kota Embriz. mungkin Bastian tidak perlu seorang sekretaris pengganti untuk sementara.
Sebenarnya aku sedikit penasaran tentang sekretaris yang dipilih oleh perusahaan untuk Bastian, aku sangat tergelitik ingin tahu.
Entahlah.. belakangan ini aku selalu marah tanpa sebab kepada Bastian, aku tidak tahu mengapa? tapi sehari saja dia tidak mengabariku aku menjadi sedikit gelisah.
Kami jadi sering bertengkar oleh hal-hal sepele, aku mengingat pertengkaran kecil terakhir kali hanya karena Bastian tidak membalas pesanku lebih dari 1 jam padahal biasanya aku tidak seperti itu.
kuakui aku sangat ingin melihat wajahnya saat ini, terakhir bersamanya ia memelukku dengan erat di kursi tunggu. perasaanku menjadi sangat hangat saat itu, tak bisa memungkiri bahwa saat ini aku bersyukur akan kehadiran Bastian dalam hidupku.
Saat ini aku merasa punya pegangan, punya seseorang yang bisa kuandalkan dan bisa aku percayai.
Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, benarkah yang ku rasakan ini hanya perasaan antara kakak dan adik atau ada perasaan yang lain.
.
.
.
.
Like n komen kalian penyemangat buat saya.. Makasih udah mampirr🤗