
Hal terbaik dari mencintai adalah tak berharap apapun selain ingin menjaga dan selalu bersama.
Naif, aku pun berfikir begitu. Tapi begitulah ungkapan hati dari Bastian malam itu, tak ada kelanjutan yang pasti ia hanya tak ingin memaksakan apapun dan membiarkanku perlahan memahami perasaannya.
Dia tak ingin aku menerima hatinya karna rasa terimaksih, atau karna perasaan terbebani. Ia ingin saat itu tiba, aku sendirilah yang akan mengutarakan semua isi hatiku padanya.
Bastian tidak tau satu hal pada malam itu, jantungku juga berdebar sama seperti jantungnya.
Aku gugup dan takut suara debaranku terdengar oleh Bastian. Tapi sikapnya yang begitu dewasa dan pengertian membuatku bisa merasa lebih tenang.
Sembari aku memastikan dengan jelas perasaan ini, aku juga ingin lebih lagi memahaminya. Aku benar-benar ingin mengenal Bastian lebih dalam lagi, selain mencintaiku apalagi yang tersimpan di dalam hatinya.
****
Keesokan harinya aku di kejutkan oleh meja kerja ku yang kembali seperti semula, tidak ada Nuray dan tumpukan file yang Nuray kerjakan.
Aku tak bisa bertanya pada Bastian karna ia harus bertemu mitra bisnisnya dan baru akan kembali di siang nanti. Aku cepat ke ruangan Harold dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Nuray hari ini resmi selesai dengan tugas sementaranya, ia kembali ke divisinya dan jabatannya di naikan menjadi manager tim perencanaan."
"Ah, begitu? Aku belum melihatnya pagi ini."
" Sebenarnya, itu sudah di umumkan kemarin. Bastian tidak mengatakan apapun?"
Aku menggeleng.
"Saat kita bersama di cafe kemarin, Bastian mengurus semuanya. Ia juga sudah membicarakannya pada Nuray, semua berakhir dengan baik tidak ada komplain atau apapun karna dari awal ia memang hanya sekretaris sementara."
"Mungkin karna tidak ada pembahasan apapun dari Bastian aku sedikit terkejut."
"Tenanglah Emma, Bastian selalu memikirkan tentang dirimu."
"Aku merasa tidak enak pada Nuray,"
"Jangan membebani perasaan mu sendiri, Nuray pun sudah tahu konsekuensi dari sekretaris sementara dan ia tetap menerimannya. Nuray cukup profesional."
Aku mengangguk pelan, melepas nafas kasar.
"Duduklah di sini sebentar.." Ucap Harold.
"Apa kau tidak sibuk?"
"Aku selalu sibuk, tapi aku juga fleksibel."
"Baiklah, moodku masih kacau."
"Kau tau Emma, aku berterimakasih untuk satu hal, terimakasih telah menjadikan sahabatku menjadi makhluk yang lebih manusiawi."
Aku masih tak mengerti apa maksud ucapan Harold.
"Bastian adalah orang yang gila kerja, dia seperti robot kaku dan tak bisa berhenti dengan apa yang sudah ia targetkan. Belakangan ini ia jadi cepat pulang dan banyak membahas hal di luar pekerjaan bersamaku. Terkadang ia tertawa sambil bercerita, terakhir kali ia terdengar sedih saat menceritakan tentang dirimu Emma."
"Dulu kami hampir mirip hanya bergumul dengan dunia kami sendiri, saat melihatnya bisa merasakan hal seperti itu aku kini tak perlu cemas lagi. Aku mohon, terus buat dia seperti itu.. Dia sangat menyayangimu bahkan dia sangat berhati-hati, menganggap dirimu seperti porselen mahal yang tak boleh tergores oleh apapun."
"Apakah perasaan seperti itu benar-benar baik untuknya, bukahkah dia bisa saja mudah kecewa jika aku ternyata tak sesuai dengan segala ekpektasinya."
"Aku memang tak banyak tau tentang dirimu, tapi aku sangat tau siapa Bastian. Mungkin kau tidak akan percaya, Bastian selalu setia mencari dan menunggumu selama hidupnya."
"Aku ingat jelas saat kami kuliah di tahun ke 2, waktu itu Bastian punya presentasi penting pada tugas kuliahnya dan presentasi itu bisa mempengaruhi nilainya. Di saat yang sama ia mendapat informasi tentang dirimu, ia benar-benar melupakan semua usahanya tentang presentasi itu dan mencarimu."
"Saat itu banyak yang mempertanyakan keputusannya, tapi saat itu sadar tidak ada yang lebih penting dalam kehidupannya selain dirimu Emma."
"Baginya seperti apakah dirimu dulu, sekarang atau nanti, kau adalah bentuk ikatan yang tidak bisa di lepas dari kehidupannya. Jangan meremehkan perasaan Bastian, dia tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan apapun."
Aku terharu oleh ucapan Harold, persahabatan mereka benar-benar luar biasa. Aku mengerti mengapa Bastian sangat mempercayai Harold, dan mengapa mereka bisa saling mendukung sampai saat ini.
****
"Apa kau sudah makan?"
satu pesan masuk dari Bastian.
"Hari ini aku akan makan di kantin,"
"Aku tak bisa kembali tepat waktu, sepertinya urusan ini akan menguras waktu,"
"Tidak apa-apa, makanlah tepat waktu."
"Oke, aku menyayangi mu."
Bastian makin menjadi saja semenjak tadi malam, sekarang ia terang-terangnya mengucapkan hal seperti ini dalam chat. Aku malu tak sanggup membalas chatnya lagi.
Setelah membereskan map yang berserakan karna ulahku sendiri, aku menuju kantin. Baru turun beberapa lantai beberapa staf wanita masuk kedalam lift, tujuannya sama lantai 2 di mana kantin berada. Hari ini entah mengapa aku memilih lift khusus staf, mungkin karna sedari tadi kantor aku kesepian.
"Kau tau sekretaris CEO?"
"Entahlah aku tidak terlalu mengenalinya."
Mereka ternyata membicarakan ku.
"Dia berhasil menyingkirkan Nuray staf divisi perencanaan yg sebelumnya sudah di minta menjadi sekretaris CEO dan anehnya itu terjadi setelah lama ia tidak bekerja. Aneh bukan?"
"Wah ternyata ada yang seperti itu di perusahaan terkemuka seperti ini."
"Dia bisa libur dan masuk sesuka hatinya, aku ingin sekali menjadi dia."
"Isu-isunya dia merayu CEO, membuat CEO kita bertekuk lutut dan melakukan semua kemauannya. Dia juga di belikan unit Apartement mewah, belum lagi perlakuan istimewa itu juga di lakukan di kantor."
"Dia pasti iblis wanita, dia sangat profesional."
"Aku juga tau dari staf perencaan yang satu divisi dengan Nuray, Nuray menangis seharian karna di depak dari kantor CEO. Padahal ia sudah bekerja dengan maksimal, Nuray itu staf paling berprestasi di divisinya."
"Jaman sekarang, ular berkedok wanita cantik pasti banyak mengelilingi CEO kita yang tampan dan kaya raya. Kasian sekali CEO kita yang terkenal itu sangat bodoh memilih wanita."
Ting!
Suara Lift memecah pembicaraan dan mereka berhamburan keluar lift. Mungkin 4 atau 5 orang perempuan yang bergantian membicarakan ku tadi.
Sedang mulutku tercekat dan tubuhku membatu di sudut lift. Aku tak sadar pintu lift sudah tertutup, aku memilih lantai satu. Mungkin aku akan makan di luar dan menenangkan diri sejenak.
Tanpa persiapan aku tak membawa uang sama sekali, dan hanya menggenggam ponselku saja. Enggan rasanya kembali ke atas jadi aku berjalan keluar tanpa arah.
Entahlah satu nama yang terfikir olehku. Gavin.
Aku tak mungkin menghubungi Bastian untuk urusan sekecil ini. Aku juga bodoh menyembunyikan perasaanku yang sedang kacau ini. Jadi kuputuskan menghungi Gavin, alih-alih meminta traktirannya aku bisa mengalihkan sedikit rasa sedihku.
"Baiklah 5menit lagi aku sampai."
Ucap pria yang lebih muda 5 tahun di bawah ku itu di akhir pembicaraan singkat kami.
Maaf Gavin kalau aku memanfaatkan kebaikanmu.