My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
52.



"Baik, bagaimana dengan mu?"


"Aku tidak baik-baik saja." Jawabnya dengan mata yang mendadak sendu.


Deg! Ada apa dengan Bastian? Mengapa dia membuatku bertambah canggung dengan jawabannya itu, aku dengan jelas tak akan bisa meneruskan percakapan ini.


"Bisakah kita bicara di luar? tempat ini terlalu ramai." Ucapnya lagi


Raut Bastian penuh harap, apakah selama ini dia juga merindukan ku?


"Baby. . .!"


Baru saja aku ingin mengatakan ya, wanita itu Alice Charlotte, datang dan langsung menggandeng mesra lengan Bastian. Benar-benar mematahkan hatiku, rasanya hatiku hancur seketika.


"Aku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi Tuan Linford, dan sepertinya wanitamu lebih membutuhkan mu saat ini. Aku permisi!" Ucapku dengan tegas.


"Emma, tunggu dulu..." Balas Bastian lagi.


Aku berusaha memberikan sikap sopan lalu tersenyum walau tubuhku gemetar, Aku cepat bertolak pinggang berjalan sekuatku menghindar. Aku tak ingin hati yang hancur ini terlihat di depannya.


"Emma!!!"


Aku menoleh sejenak kebelakang, Bastian berusaha melepaskan tangannya dari wanita itu dan terlihat perdebatan kecil diantara mereka. Apa itu? Bastian bahkan tak bisa tegas kepada Alice Charlotte. Mungkin benar, mereka benar-benar berkencan.


Jangan menjadiku wanita ke 3 diantara hubungan kalian, caramu menjijikkan Bastian.


Langkahku semakin cepat aku setengah berlari, saat ini aku ingin lepas dari ramainya hiruk pikuk ini. Kakiku terhenti saat sebuah tangan menarik pergelangan tanganku.


"Emma, ada apa!!!"


"Casey???"


"Mengapa kau keluar dari pesta?"


Aku tak bisa membendung rasa sakitku lagi, aku memeluk Casey dan tangisku pecah seketika.


"Emma...? Ada apa katakan?" Casey memaksa melepaskan pelukanku dan mencecarku dengan tatapan tajamnya.


"Maaf aku tak bisa menyelesaikan pesta ini, aku harus pergi. Tolong kau katakan pada Harold aku benar-benar minta maaf."


"Katakan Emma, aku melihat kau bertemu Bastian tadi. Apakah dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?"


Aku menggeleng.


"Tapi mengapa kau menangis?"


"Aku benar-benar harus pulang, jangan tanyakan apapun saat ini Casey."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu."


"Tetaplah disini, kau bagian dari pesta ini Casey. Aku akan pulang dengan Taxi."


"Emma...." Ucap Casey, dengan raut cemasnya.


"Aku mohon biarkan aku pergi."


Aku melepaskan genggaman Casey, aku tak bisa merusak acara yang juga penting ini untuk Casey.


Aku berjalan meninggalkan Casey, keluar dari aula pesta. Menyusuri lorong, yang sepi tak ada seorangpun dan membuatku dadaku makin sesak.


Aku memasuki lift syukurlah tidak ada si siapapun lantas terduduk, terisak.


"Kau memang bodoh Emma, apa yang sebenarnya kau harapkan selama ini."


Suara langkah berlari mengejutkanku, dengan cepat aku bangkit dan menekan tomboh tahan pada pintu lift agar tidak tertutup. Mungkin seseorang sedang terburu-buru. Bodoh, aku menatap nanar saat yang berdiri di depan pintu Lift adalah Bastian.


Kami terdiam dan saling diam seperdetik, lalu Bastian masuk dan menciumku tiba-tiba. Aku meronta mencoba melepaskan diri, ku dorong tubuh Bastian sekuat mungkin dan..


PLAK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, nafas ku tersengal-sengal melampiaskan emosi yang tiba-tiba meledak.


"Tampar lagi, pukul aku!!! Apa yang ingin kau lakukan lakukanlah!! Hukumlah, aku siap menerimanya!! Tapi jangan tinggalkan aku.." Ucap Bastian dengan nada tinggi.


Bulir bening itu mulai jatuh di wajah Bastian, aku tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan ini. Mengapa semua tidak hanya menyakitkan? Tapi juga ambigu.


Lift terus berjalan turun dan waktu serasa melambat. Hanya tatapan, tapi seakan seperti saling menyakiti satu sama lain.


"Aku berfikir memberimu waktu selama ini untuk sendiri akan membuat kita tenang saat berjumpa. Mungkin pikiranku salah, aku rasa banyak hal yang harus kita selesaikan. Aku tak bisa lagi menahan diriku untuk tidak menemui, Emma." Ucap Bastian kemudian.


"Aku sangat amat merindukanmu, aku mencintaimu!!! Mengapa kau tega meninggalkan ku? Mengapa kau pergi tanpa seucap katapun? Kau tidak memberiku ruang untuk menjelaskan semuanya."


Aku terdiam, menerjemahkan dengan perlahan semua ucapan bastian di dalam otakku. Semua ucapannya benar.


Lift berbunyi, pintu terbuka dan kami sudah sampai di lobby. Tangan Bastian menggenggam pergelangan tanganku.


"Ikutlah denganku.." Ucapnya.


Tangan itu terus menuntunku untuk mengikuti langkahnya, entah kemana Bastian akan membawaku pergi.


Hening, tak ada ucapan apapun saat ia mengemudi. Sampailah kami di apatement yang pernah menjadi tempat tinggalku di kota ini. 3 bulan waktu yang cukup lama dan tempat ini terawat dengan baik tidak ada tanda-tanda seperti apartement yang kosong di tinggal pemiliknya.


Bahkan aku masih melihat sebuah mug yang bertengger di atas meja. Sebuah pigura berukuran besar mengejutkanku, pigura itu berisi fotoku.


"Maaf aku memasang itu tanpa seijinmu, aku sangat merindukanmu dan ingin melihatmu setiap hari."


"Apa kau tidak merasa bersalah melakukan ini?" Ucapku menatap tajam pada Bastian.


"Bersalah? Apa kau tidak menyukai ini?"


"Tidak ada hubungannya dengan aku menyukainya atau tidak, tapi bagaimana dengan perasaan Alice saat kau melakukan ini?"


"Apa maksudmu Emma?"


"Apa maksudku? Kau pasti tau Bastian.."


"Apa kau berfikir aku dan Alice memiliki hubungan yang spesial atau semacamnya?"


"Bukankah itu sudah sangat jelas? Seluruh kota membicarakannya, bahkan aku bisa melihatnya di tabloid saat berada di salon." Ungkapku agak kesal.


"Selama ini kau berfikir begitu??"


"Alice adalah adik kandung Harold, apa maksudmu?"


Hahh!? benarkah itu?


"Emma!? Selama ini kau percaya pada media?"


Aku mengangguk seperti orang bodoh.


"Lalu mengapa Alice sangat menempel padamu? Tadi dia juga memanggilmu Baby."


"Alice memang manja, karna aku memang sangat memanjakannya dari kecil. Panggilan itu tak berarti apapun, dia hanya menggodaku saat melihat kita berdua. Dia memang sangat jahil ketika melihatku sedang bersama wanita, dia sengaja melakukan itu. Aku sudah memarahinya tadi."


"Benarkah?" Aku menatap Bastian penuh keraguan.


"Apakah kita perlu menghubungi Harold atau Alice saat ini?"


"Tidak, tidak perlu." Aku tidak ingin Harold maupun Alice tau rasa cemburu butaku ini.


Bastian kemudian menggenggam jemariku,


"Selama ini kau telah salah faham, dan membuat kita seperti orang asing. Bukahkan aku sudah mengatakan padamu bahwa kau harus mempercayaiku apapun yang terjadi."


"Lantas mengapa kau harus melarangku masuk ke kantormu saat itu?"


"Harold dan Alice berkelahi di kantorku, mereka memang tak pernah akur. Hanya saat itu masalahnya sangat serius, Alice harusnya masih menyelesaikan studinya di luar negri tapi ia malah mengambil cuti panjang dan kembali ke Agithum tanpa meminta pendapat dari Harold dan ibunya."


"Aku hanya tak ingin kau menyaksikan hal itu dan memberi privasi pada Harold dan Alice untuk saling mengungkapkan perasaan. Setelah itu masalah selesai, harold meminta izin untuk cuti setengah hari dan membawa Alice bertemu ibunya."


"Apakah kau sudah selesai dengan rasa curigamu?"Bastian membelai rambutku.


"Saat itu aku terlalu berfikir berlebihan, dan di saat yang tepat media menceritakan berita yang berbeda. Aku benar-benar merasa bukan siapa-siapa di bandingkan Alice."


.


.


.


.


.


.


.


WF❤️