My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
20.



Hari dimana jadwalku membawa paman Anthony ke pusat rehabilitasi cancer yang di rekomendasikan oleh Bastian pun tiba.


Harold sebagai juru bicara kami, entah kebaikan seperti apa yang di lakukan oleh kedua orang tua ku di masa lalu hingga anugrah sebesar ini datang kepada kami.


Bibi Agatha awalnya menolak keras ajakanku untuk pindah ke kota Agithum, ia masih sulit merelakan kedai ayam gorengnya tidak beroperasi lagi. Kedai itu sangat memorial baginya, ia merintis sedari nol hingga bisa membiaya kehidupan kami.


Walau sekarang hasil penjualan menurun drastis karna banyaknya outlet-outlet baru yang lebih kekinian menjual berbagai jenis ayam goreng berbagai macam dan rasa.


Bibi Agatha tetap enggan menutup kedai miliknya, entah bagaimana akhirnya dengan pertimbangan tentang pengobatan paman Anthony akhirnya Bibi Agatha luruh.


Kami menempati kamar rawat yang luar biasa bagus, lengkap dengan fasilitas pendukung. Ini lebih terlihat seperti mini apartement, aku menggigit bibirku tak sadar menghitung-hitung sendiri berapakah biaya kamar dan perawatan yang di keluarkan untuk sekelas unit rehabilitasi ini. Gila..


"Emma, bagaimana Bibi disini saja. Kamar ini punya kasur tambahan, Bibi tidak perlu memikirkan untuk pulang balik ke apartement mu lagi. Kamar mandi bahkan Tv semua ada, lihat ada dapur kecil disini."


"Bibi serius??"


"Tentu saja.."


Paman Anthony pun tersenyum lemah di kursi rodanya.


"Baiklah, aku akan kirim baju Bibi kesini nanti."


"Baiklah sayang."


"Kamar inap ini adalah yang terbaik di gedung ini, saya sudah pastikan pelayanan dan perawatan Paman akan di awasi oleh dokter dan perawat profesional."


Setelah berpamitan dengan Paman Anthony dan Bibi Agatha aku dan Harold pun pamit pulang.


Seperjalanan aku tak kuat lagi, aku meminta Harold menurunkan ku di pinggir trotoar. Hanya butuh 5 menit waktu tempuh ke gedung Real estate di mana apartement ku berada.


Yah, gila. Aku tak tau sebenarnya derajatku sedang di angkat atau sedang di hina. Aku tak punya pilihan selain mengikuti saran Bastian, aku tau di mata orang lain yang memandang keberadaanku di dekat Bastian seperti tugau yang menepel di bajunya.


Kadang rasa egois tentang harga diri pun mencuat lepas dari atmosfer kewarasanku. Tapi lagi-lagi, Bastian seperti tuan tanah yang semena-mena menginjak harga diriku dengan berbagai cara dan taktik jitu. Aku selalu terjebak dan tak bisa membantahnya sedikitpun.


Mungkin itu yang namanya kharisma orang kaya raya. Tak bisa di lawan.


Sampailah lah di lantai 16 dimana Apartement ku berada, sudah 2 hari aku disini rasanya masih belum terbiasa. Apartemen 2 lantai dengan Balkon yang cukup luas. Pemandangan kota Agithum terlihat berbinar-binar dari atas sini.


Begini ya rasanya jadi punya rumah bagus dengan fasilitas yang serba ada, tapi hatiku tetap kosong tidak bahagia juga tidak merasa menjadi lebih baik dari kondisiku sebelumnya.


Ah, Casey mengirim pesan. Beberapa hari yang lalu Casey ingin menyambangiku, aku sedikit terhibur jikalau Casey ingin datang kemari.


Dia hanya mengirim ucapan rindu, ia Casey aku juga merindukan mu, aku masih merasa asing di kota ini aku merasa sendirian. Tak ada yang lebih istimewa saat aku masih berkerja di toko roti Uncle Ben atau menjajahkan sepatu di toko Baba Ramzan. Disanalah semua senyum semua orang bisa mengobati segala kekuranganku.


Di kota ini, mungkin aku punya semuanya tak kekurangan sedikitpun. Bahkan Bastian sudah mengisi rekeningku, aku bisa membeli apa yang tak bisa ku beli sebelumnya. Lalu, apa?


Hanya perasaan kosong disini. Tapi demi Paman Anthony, dan juga masa depanku yang di gadang-gadang Bibi Agatha. Aku coba memahami alur pikiran satu orang pria. Pria bernama Bastian.