
"Memang agak aneh sayang, kau berpamitan menemati anak Baba Ramzan untuk wawancara kerja. Bagaimana tiba-tiba kau bisa di terima di perusahaan itu, sayang?"
Jelas, aku tak akan bisa kabur dari pertanyaan sulit dari Bibi Agatha. Jangankan Bibi Agatha, akupun bingung bagaimana ini bisa terjadi. Mengapa aku terjebak dalam cerita palsu pria itu, dasar pria licik aku menyumpahi mu tersedak saat ini.
"Aku iseng memasukan lamaran ku di saat Tuan Linford membutuhkan sekretaris Bibi, karna ada rapat yang sangat mendadak Tuan Linford langsung menerimaku tanpa pikir panjang. Dan.. itu, setelahnya dia langsung memintaku bekerja untuk kedepannya."
"Berarti kau benar-benar kompeten Emma, tak mungkin Tuan besar seperti dia salah menilai orang. Pasti kau sudah mengambil hatinya."
"E'... Ya mungkin saja Bibi.."
"Sekarang Bibi sudah tenang Emma, Bos mu itu juga bilang akan memberikan asuransi kerja, biaya tranportasi dan tempat tinggal untuk mu sayang. Kau tidak perlu pusing lagi memikirkan Bibi dan pamanmu disini, Bibi juga akan lebih tenang kalau kau sudah mendapatkan perkerjaan yang layak dan tetap."
"Bi... Jangan bicara seperti itu, aku tak akan tinggal dimanapun jika berjauhan dengan Bibi dan Paman."
"Tidak boleh begitu sayang, kau juga fikirkan trauma yang kau miliki. Tidak mungkin kau selalu naik mobil walau Bos mu sudah memberi mobil untuk antar jemput."
"Tidak ada Bos yang sebaik itu, dia bahkan memikirkan trauma yang di miliki oleh pekerjanya. Dia sangat berkelas dan teladan untuk semua Bos diluar sana."
"Mengapa Bibi dari tadi memuji dia terus, padahal jelas-jelas akulah ponakan Bibi disini."
Bibi Agatha lantas tersenyum dan mengusap rambutku.
"Emma ku sayang, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Kesempatan tak datang dua atau tiga kali, Bibimu ini sedari kecil tak bisa mengurus mu dengan baik. Tak bisa memberimu masa depan yang cerah, melihatmu yang selalu gagal beberapa kali dalam pekerjaan membuat Bibi sedih.."
"Kau harus memikirkan masa depanmu, agar Ayah dan Ibumu bangga di surga sana. Dan juga agar Paman dan Bibi saat menemui mereka nanti bisa punya muka di hadapan mereka sayang.."
"Bibi!! Berhenti berkata yang tidak-tidak... Maaf kalau selama ini aku banyak membebani Bibi, tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkan Paman dan Bibi disini."
"Emma...."
Bibi Agatha menghela nafas, seperti kehabisan kata untuk menaklukkan jalan pikiranku.
***
Setelah menyelesaikan segala yang bersangkutan dengan pekerjaan paruh waktuku dengan Uncle Ben, Baba Ramzan, Oma Caitlin dan tentunya casey. Mereka turut bahagia atas perkerjaan baru yang kudapatkan.
Walau raut sedih terlukis paling jelas di wajah Oma Caitlin dan omelan serta kekecewaan kecil dari Casey yang begitu kesal mengapa tak membagi kisah itu padanya lebih awal.
Dari mana bisa ku jelaskan sedang bagiku semua yang terjadi juga terbilang begitu cepat. Walau begitu Casey tetap memelukku dan mengucapkan rasa bahagia dan bangganya padaku.
Suatu saat akan ku ceritakan semuanya Casey, dengan sangat detail hanya untuk saat ini aku belum bisa mengatakan apapun tentang Bastian padamu.
Hal terbaiknya adalah Nuray juga di terima di Linford, aku bahagia setidaknya selain Bastian ada yang ku kenal di Agithum.
Hari pertamaku bekerja secara resmi, entah perasaanku saja semua orang terasa tengah memperhatikan langkahku. Apa yang salah aku tak tahu.
Sesampainya di ruangan milik Bastian, pria itu sudah duduk di singgasananya. Seperti biasa memakai setelah jas bermerek, tampak lebih serius dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Aku berusaha bersikap formal dengan menyapanya sejenak, pria itu mengangguk pelan.
"Ini berkas-berkas yang harus kau pelajari, sebentar lagi Harold akan datang dan mengajarimu tentang apa saja tugas-tugas yang akan kau kerjakan kedepannya. Aku berharap lebih padamu Nona Emma."
Deg! Jantungku serasa di pompa.
Benarkah ia pria kemarin itu, sekarang vibenya berbeda jauh. Tampak sedikit, menyeramkan.