My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
55.



"Mungkin bulan depan aku akan menikah,"


"Benarkah?"


Ucapan Casey mengejutkanku. Di tambah lagi ia begitu datar mengatakannya.


"Hemm." Balasnya lagi.


"Kau mengatakan akan menikah bulan depan tapi mengapa kau tidak terdengar bahagia Casey."


"Aku tidak yakin Emma."


"Hahh? Kau tidak yakin bagaimana? Kau kan sangat mencintai Harold dan sebaliknya."


"Aku tau,"


"Lantas, apa yang membuatmu tidak yakin?"


"Aku sangat yakin pada Harold, tapi.."


"Apa kalian bertengkar?" Tanyaku curiga.


"Tidak,"


"Apa keluarga Harold tidak menyukaimu?"


"Tidak, mereka sangat menyayangiku."


"Lalu?"


"Aku tidak siap menjadi ibu..?"


"Hah? Mengapa kau memikirkan itu terlalu cepat?"


"Aku sudah harus memikirkannya Emma,"


"Kau tidak harus langsung hamil jika kau belum siap, apa Harold ingin cepat punya anak."


"Tidak juga,"


"Lalu apa yang kau masalahnya??" Ucapku mulai kesal.


"Masalahnya, aku sudah hamil."


"Apaaaaa!!!???" Pekikku tak menyangka.


Aku tak percaya atas apa yang Casey baru katakan, sungguh di luar kepala.


"Harold si bajingan itu sudah menghamiliku."


"Apa masalahnya? memangkanya Harold melakukannya atas kemauannya sendiri?"


"Tidak, aku rasa ini juga salahku. Karna aku yang tergesa-gesa saat ini. Hingga kami lupa menggunakan pengaman."


"Asstaaga!" Desahku.


Rasanya aku ingin memukul kepala Casey saat ini juga.


"Apakah kau gila?" Ucapku lagi.


"Aku rasa aku memang sudah gila, Emma. Sekarang apa yang akan ku lakukan."


"Aku rasa kalian mempercepat pernikahan karna masalah ini, benarkan?"


Casey mengangguk-anggukan kepala dengan raut memelas.


"Bagaimana saat Harold tau kau hamil?"


"Si brengsek ini malah bahagia dan berteriak dengan kencang, ' Aku akan jadi Papa!!' dan tadi ia sudah mengirim gambar boneka Teddy bear besar yang baru di belinya pada ku."


"Hahaha!!! Menakjubkan!" Tawaku lepas.


"Kau sangat tidak mengerti perasaan sahabat mu Emma!!"


"Maaf, aku hanya ikut bahagia. Bagaimanapun Harold sangat bahagia, soal belum siap menjadi Ibu kau tinggal memperlajarinya perlahan. Kau jangan stress Casey, anak bayi kecil di perutmu kau harus menjagannya dengan baik."


"Apakah aku bisa jadi Ibu yang baik untuk anak ini?"


"Kau pasti bisa Casey sayang, kau adalah sahabat baikku yang selalu ikut mengurusi segala masalahku, kau pasti bisa menjadi Ibu yang sangat menyayangi anak mu nanti. Percayalah padaku."


"Benarkah?"


"Begini saja, aku akan mengajakmu untuk belajar segala hal tentang kehamilan. Kita akan mengikuti seminar calon Ibu dan Ayah atau yoga kehamilan agak kau lebih rileks, oke?"


"Baiklah Emma."


"Ayo semangat Casey.."


"Lalu dirimu sendiri? Bagaima dengan hubunganmu dengan Bastian? Apakah kau akan kembali ke Linford?"


"Aku merasa aneh belakangan ini Casey pada sikap Bastian."


"Maksudmu,?"


"Bastian masih sangat perhatian. Tapi entah mengapa?"


"Ada apa?"


"Setiap bertemu dia hanya mengecup atau mencium pipi dan keningku saja. Dia sangat berhati-hati dan membuatku agak..."


" Kau menginginkan lebih?" Balas Casey tepat kesasaran.


"Benar.." Desahku.


"Bukankah kau lebih suka seperti itu, kau sudah berapa kali menolaknya Emma! Apalagi yang kau harapkan?"


"Aku salah, sekarang aku ingin melakukannya tapi Bastian memberi jarak." Keluhku lagi.


"Aku sangat bingung dengan pikiranmu, dulu kau begini sekarang begitu. Tentu Bastian berusaha membatasi diri dan menghindari hal-hal yang memicu hasratnya Emma."


"Benarkah? Itu berarti selama ini Bastian mengurangi skinship karna ia menjaga dirinya?"


"Jelas sekali, kalau aku jadi Bastian pasti sangat menderita."


"Jangan katakan itu Casey, aku merasa seperti wanita yang jahat tidak pengertian."


"Kau memang seperti itu Emma."


"Casey!!" Pekikku kesal.


"Hahaha...!" Casey tertawa lebar.


"Dasar kau!!" Erangku lagi, membuat tawa Casey bertambah keras.


****


Keesokan harinya, setelah memikirkan dengan bulat akhirnya aku memutuskan kembali bekerja di Linford. Dengan rencana memberi surprise pada Bastian, aku menghubungi Harold untuk membantuku.


"Bagaimana Harold apakah sesuai rencana?"


"Semoga saja Emma, kau hanya perlu kekantornya berpura-pura membawa file dan minta tanda tangan, lalu lakukan seperti apa yang sudah kau rencanakan."


"Baiklah,"


"Aku sudah mengatur jadwal Bastian kosong saat itu dan memastikan tidak ada satu orangpun staf yang akan keruangannya."


"Terimakasih banyak Harold..."


"Dengan senang hati Emma, aku berterimakasih kau mau kembali menjadi sekretaris Bastian. Selama ini dia membiarkan posisi itu kosong karna tidak ingin ada yang menggantikan posisimu."


"Aku tau Harold, semoga Bastian bahagia aku kembali ke Linford."


"Itu tidak di ragukan lagi Emma."


"Dan ya Harold, selamat atas kehamilan Casey."


Harold agak terkejut lantas tersenyum sumringah.


" Terimakasih Emma, ternyata Casey sudah memberi tahumu." Balas Harold yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Aku rasa, kau harus lebih memperhatikan perasaan Casey. Dia masih terlalu terkejut tentang kehamilannya, ia merasa khawatir akan banyak hal. Aku rasa kau perlu bicara serius dan dari hati ke hati dengannya Harold."


"Aku sedikit tak bisa memahaminya, tapi aku akan lebih banyak lagi belajar. Terimakasih Emma atas nasehatmu, aku akan menjaga Casey dengan baik lagi."


"Tentu Harold semangatlah, sebulan lagi kau akan menikah dan tak lama kau akan jadi seorang Ayah. Jangan pernah lelah menghadapi Casey."


"Aku tidak akan pernah lelah mencintai dan membahagiakan Casey Emma, kau tidak usah khawatir."


Aku tersenyum pada Harold membalas ucapannya, lantas pamit dan pergi menuju kantor Bastian dan bersiap dengan rencana surprise yang sudah ku siapkan. Aku tidak sabar bagaimana ekspresi Bastian nanti melihatku.


.


.


.


.


.


.


WF❤️


*Maafnya tuk para reader, akan semakin mundur waktu upnya karna Kak Wie selaku Author sedang dalam kondisi yang kurang sehat☹️ Mohon pengertiannya ya😊