My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
17.



Aku tak banyak membantah, mengambil tumpukan file-file yang terlihat sangat penting. Aku mengarah ke meja di sudut ruangan yang memang di peruntuhkan untuk siapapun yang menjadi sekretaris CEO Linford.


Tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar beriringan dengan decitan suara pintu, langkah gontai dari sosok pria yang lagi-lagi tak asing berhenti tepat di depan mejaku.


"Kau tampak mulai sibuk Nona Edelsteen?" Tanya pria yang terlihat mencoba ramah padaku itu.


"Emma, panggil saja aku Emma."


"Baiklah, itu terdengar lebih praktis."


"Tentu, Tuan Harold."


"Kau juga cukup dengan Harold saja."


"Baiklah, Harold."


"Bagaimana dengan tumpukan file-file ini Emma, apakah menyulitkan mu?"


"Aku sedang mencoba mempelajari beberapa file dan memilah mana yang paling penting dahulu Harold, setelah ku pilah berdasarkan tanggal dan hari aku kan mulai mempelajarinya lebih dalam lagi."


"Wah, kau cepat belajar Emma. Aku suka etos kerjamu. Tapi, apakah kau bisa mempelajari berkas-berkas ini nanti? Sekarang kita akan belajar mengatur jadwal kegiatan Boss besar kita dulu, apa saja kegiatan atau rapat penting yang akan di lakukannya dalam sehari penuh."


"Tentu, aku ingin tau semua cara kerjanya agar aku cepat belajar."


"Gadis pintar, Baiklah begini caranya didalam komputer ini.... dan...."


Harold membuatku sangat nyaman, ia pria yang sopan dan sangat sabar dan pengertian.


Aku mencerna segala ucapannya dengan mudah, dan ku rasa semua bisa ku atasi.


Tapi, selagi Harold mengajariku ia menuliskan catatan penting. Bagian tersulit dalam pekerjaan ku bukanlah tumpukan data ini yang harus ku atur sesuai kolom dan jadwal.


Melainkan harus sekuat tenaga mengimbangi etos kerja si majikan, Bastian ternyata sangat perfeksionis dalam pekerjaan. Tak bisa menerima dengan mudah kesalahan sekecil apapun.


Aku harus benar-benar teliti, tekun dan sabar.


Setelah Harold pergi, otakku berkerja lebih ekstra. Aku sekuat tenaga menyelesaikan tugas utamaku, menyusun jadwal-jadwal rapat dan pertemuan antara si Bos dan klien.


Gila, dia bukan manusia.


Syukurlah jam istirahat makan pun tiba aku langsung mengusap mata yang mulai terasa perih. Ku rebahkan kepala yang terasa lelah ini di meja kerjaku yang mulai tampak berantakan oleh berkas-berkas yang belum selesai ku susun.


Tapi syukurlah.. Jadwal untuk besok sudah tertangani, aku hanya perlu menyelesaikan berkas- berkas mana dulu yang harus cepat di tanda tangani.


Aku tidak lapar dan ingin mengistirahatkan kan otakku dalam satu jam ini.


"Bagaimana Emma, kau tampak kewalahan?"


Suara khas dan berat itu mengagetkan ku, setelah hanya diam dan hanya mengatakan hal seperlunya dari tadi, akhirnya Bastian menanyaiku tentang hal pribadi.


"Ah, cukup menengangkan." Balasku.


"Kau akan terbiasa dengan cepat."


"Entahlah..." Jawabku pias.


"Kau ragu?"


"Sedikit, di banding ragu aku lebih merasa takut tidak bisa memenuhi standar kerjamu Tuan Linford."


"Kau lupa harus memanggil ku apa saat kita berdua, Emma."


"Tadi kau juga memanggilku Nona Emma."


"Tadi hanya formalitas saat bekerja, sekarang sudah jam istirahat dan kita bisa bicara santai seperti biasa."


Begitu mudah baginya memilah saat bekerja dan tidak. Tapi malah aku yang merasa janggal dan belum terbiasa, aku pikir selama kami berdua di manapun tempatnya aku bisa bicara santai padanya.


Ternyata aku salah, pekerjaan ini bisa kutangani walau tak mudah. Tapi, melihat dua sosok pada satu orang? Aku belum terbiasa.


Sosok nya saat bekerja membuatku sangat tertekan dan sulit bernafas, sedang sosoknya yang lain begitu hangat. Mana mungkin bagiku dengan mudah memahami kondisi yang begitu baru ini.


Bastian, kau benar-benar pria tak waras yang pernah aku kenal.