My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
53.



Bastian membawaku ke dalam dekapannya, aku merasa bersalah atas sikapku yang tak bisa mengontrol diri saat itu.


"Aku bukan selebritas Emma, aku tak suka menanggapi wartawan atau media jika itu bukan tentang bisnis atau prestasiku. Mungkin namaku begitu besar, tapi aku adalah orang biasa pada umumnya. Aku tak mungkin menjelaskan tentang kehidupan pribadiku pada semua orang, itu akan sangat melelahkan."


"Aku mengerti Bastian."


Sejenak kami tenggelam dalam dekapan masing-masing, sudah lama aku tak mencium aroma ini. Aroma dari tubuh pria yang ku cintai.


"Dan juga Emma, biarkan aku meminta maaf atas masa lalu."


Bastian melepas dekapannya, metatap mataku.


"Maaf karna memanjakan diriku sendiri, menunda-nunda hal yang ingin kau ketahui."


"Tentang itu aku juga minta maaf, karna mengatakan hal yang tak sepantasnya, tak berfikir dengan jernih dan membuatmu terluka." Balasku menyesali segalanya.


"Tidak, kau tidak bersalah. Yang kau dengar dari Gavin juga tidak sepenuhnya salah, mungkin jika itu di lihat dari sisi pandangannya tidak ada yang salah. Kita tidak bisa mengatur waktu dan mengendalikan apa yang sudah terjadi."


"Ibuku memang melakukan itu, semua sudah selesai di masa lalu. Hanya saja aku belum siap memberi tahumu karna aku takut akan seperti ini. Kau akan membenciku, dan menjauhiku."


"Aku memang kecewa, aku tak menampik kalau kenyataan yang terjadi seperti itu. Tapi, sebenarnya yang menyakitiku bukan tentang apa yang terjadi di masalalu. Tapi karna merasa kau terus menyembunyikan semua itu dariku." Balasku dengan airmata yang tak terasa sudah membasahi pipi.


"Aku terus bergulat dengan pikiranku sendiri Emma, lantas aku berfikir kembali dan mulai berandai-andai tentang hal buruk setelahnya jika aku menceritakan semuanya. Aku memacumu untuk terus maju melewati masa lalu, malah aku yang terjebak dan menyakiti perasaan mu."


"Tapi semua ini bukan karna rasa bersalah, perasaanku murni. Aku tak bisa membayar hutang perbuatan orang tuaku yang menyebabkan kau kehilangan kedua orang tuamu, tapi aku akan membayar itu dengan menjagamu seumur hidupku aku berjanji Emma!"


"Kau juga pasti terluka, menerima kenyataan itu juga pasti tak mudah. Kau juga sama halnya denganku, kita tak bisa menyalahkan apa yang terjadi. Kau dan aku sama-sama terluka karna masa lalu."


Aku menyadari satu hal, apapun yang telah terjadi di masa lalu tak bisa merubah apapun. Aku tak bisa menyalahkan Bastian karna ia pun sama kehilangan orang tuannya, dan jika aku menyalahkan mendiang ibunya atau ayahnya karna kecelakaan itu, itu juga tak bisa merubah apapun.


Kami hanya terjebak dalam lumpur hitam kenyataan yang pahit. Semua sudah berlalu, tidak ada yang di hukum ataupun menghukum. Karna takdir memang demikian kejam.


****


"Maafkan aku Emma!" Casey terus berusaha membujukku.


"Aku benar-benar tak tau kalau kau cemburu pada Alice, Harold hanya menyuruhku diam dan membiarkan kau dan Bastian menyelesaikan masalah kalian sendiri. Kalau aku tahu penyebabnya karna Alice aku tak akan membiarkanmu sampai menderita begini."


"Apa hanya aku disini yang tidak tau kalau Alice adalah adik dari Harold?" Hentakku kesal.


"Aku tahu tapi aku pikir masalah kalian lebih dari itu. Alice memang gadis manja dan egois, aku juga tak mudah mendekatinya. Lagi pula kau benar-benar terlihat kacau 3 bulan ini, semua orang menghawatirkanmu. Kau memiliki trauma di masa lalu, tak taukah aku, Harold, bahkan Bibi Agatha sangat hati-hati menghadapimu."


"Entahlah, aku benar-benar merasa malu akan tingkahku. Seandainya aku bisa lebih dewasa.."


"Tenanglah Emma, masalah cinta dan kedewasaan memang berkaitan. Tapi kau hanya cemburu sesederhana itu, itu normal."


"Sudahlah Emma, yang terpenting semua masalah mu dan Bastian sudah selesai. Jangan terlalu menyalahkan dirimu terlalu berlebihan."


"Kau benar, aku akan mencoba menjadi lebih baik lagi."


"Semangat Emma, dan bagaimana kabar Gavin? Kau tidak pernah membahasnya lagi..."


"Gavin? Aku tak pernah mendengar kabarnya lagi semenjak saat itu, sebulan awal saat aku kembali ke Beqoo dia masih berusaha menemuiku, tapi kemudian dia hanya mengatakan mungkin dia tak seberuntung itu bisa di cintai olehku dan akan berusaha melupakanku, lalu ia pergi memutuskan merawat ibunya di luar negri."


"Benarkah?? Sebenarnya itu keputusan yang tepat. Mencintai orang yang tak bisa membalas cinta kita itu sangat menyakitkan, aku mendoakan dia bisa menemukan seseorang yang tepat."


"Semoga..." Balasku menimpali harapan Casey.


****


Aku masih bekerja di toko emas milik Casey, walau kadang itu membuatku sulit untuk membagi waktu menemui Bastian.


Semenjak semua kesalahfahaman yang terjadi terlerai, kami memulai lagi hubungan indah kami yang sempat merenggang.


Walau aku masih belum memutuskan akankah kembali ke Agithum atau setia disini bersama Casey. Sampai saat ini aku sangat bahagia karna memiliki Casey yang selalu ada untukku, dan selalu berusaha untuk ada di dekatku.


Terkadang aku merasa terlalu menempel padanya, namun pada akhirnya Caseylah yang selalu mengikutiku kemanapun. Aku bahagia memiliki Casey dalam hidupku.


"Nona Edelsteen, ini sudah waktunya toko tutup." Ujar Eric salah satu penjaga lain sekaligus seorang kepercayaan keluarga Casey yang menginap di toko ini.


"Benarkah? Sudah jam 5? Sepertinya dari tadi aku banyak melamun, kalau begitu aku akan bersiap untuk pulang."


Aku membereskan Tas ku dan melangkah pergi, tak lupa menyapa ramah para penjaga keamanan yang masih setia berdiri di depan toko.


.


.


.


.


.


.


.


WF❤️