My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
32.



Hari pertama setelah sekian lama aku tak menginjakan kaki di Linford Tower, tak ada yang berbeda semua masih sama. Hanya hal yang mengejutkanku bahwa sekretaris pengganti pilihan perusahaan itu adalah Nuray, rasa ketar-ketir di hatiku langsung menghilang.


"Kau sudah kembali Emma?"


Bastian yang tadinya duduk di kursi kebesarannya pun langsung berdiri saat melihatku. Wajah sumringah dengan santainya ia perlihatkan di depan Nuray, astaga jangan merusak image mu di sini Bastian.


"Selamat datang kembali, Emma." Ucap Nuray.


"Terimaksih Nuray, aku senang ternyata sekretaris baru Tuan Bastian adalah dirimu? Bagaimana keadaan mu Nuray, semoga kau tidak kelelahan mengatasi jadwal Tuan Bastian yang sangat padat."


"Aku sangat terhormat bisa merasakan kerja bersama Tuan Linford, Emma."


Aku agak kikuk mendengar panggilan Nuray yang menyebut nama belakang Bastian, jadi apakah selama ini Bastian tak memperbolehkan Nuray memanggil nama depannya? Bukankah saat bersamaku dulu dia langsung yang memintanya. Dasar, Bastian.


"Sebagian pekerjaanmu sudah di kerjakan Nona Nuray, Emma. Tugasmu hari ini hanya mempelajari berkas rapat yang akan kita bahas nanti."


"Baiklah, apakah berkasnya sudah selesai?"


"Sebentar lagi akan selesai, Nona Nuray sedang menyiapkannya. Sementara itu bantu aku memeriksa beberapa file dari tim perencanaan ini."


"Baiklah,"


"Kita kerjakan berdua saja di sofa, sementara mejamu sedang di siapkan."


Aku mengangguk pada Bastian, ku lihat sekilas tatapan Nuray yang tak biasa. Dia terlihat, agak berbeda.


Selagi memeriksa file aku dan bastian membahas beberapa masalah lain yang masih termasuk ranah pekerjaan. Tiba-tiba Nuray duduk diantara kami.


"Tuan Linford, ini berkas yang kau minta tadi. Bolehkah kau periksa agar aku bisa segera membenahinya jika ada yang tidak sesuai."


Jelas-jelas Nuray membelakangiku dengan sengaja, ia juga tak memberiku celah agar bisa melihat berkas itu. Gelagatnya juga terlihat agak aneh, dengan suara manis yang di buat-buat.


Nuray, ada apa dengan mu?


Mereka tengah asik membahas berkas itu, padahal berkas itu nanti aku juga yang akan mempresentasikannya di rapat. Ah sudahlah, mungkin cara kerja Nuray memang begini.


"Emma!"


Nuray akhirnya menoleh padaku,


"Ya?"


"Bisakah aku meminta Liam membawakan kopi? Tuan Linford pasti ingin minum kopi jam segini."


Hah? Nuray memerintahku?


"Baiklah." Jawabku.


Aku hanya mengikuti caramu dulu Nuray, sampai dimana kau akan terus memojokkan aku seperti ini di depan Bastian. Dan jika kau semakin keterlaluan aku tak bisa hanya diam.


Akhirnya aku berusaha melupakan kejadian yang membuatku kehilangan mood tadi.


Aku dan Bastian juga menyelasaikan rapat, syukurlah prensentasiku berjalan sempurna dan Bastian memujiku.


Jam makan siang tiba, aku berniat mengajak Bastian untuk makan di luar. Sudah lama sejak kami tak pernah makan bersama.


"Tuan Linford, mengingat jadwal kita yang semakin padat aku meminta Liam menyiapkan makan siangmu dan mengantarnya kemari."


Bastian mengangguk begitu saja, ia langsung setuju dan tak minta pendapatku. Dulu saat jam makan siang ia terus menerus memintaku makan bersamanya, sekarang ia begitu patuh pada Nuray.


Ada apa ini? Apa yang terjadi selama aku tak ke kantor. Mengapa aku merasa seperti tak di perdulikan begini oleh mereka berdua, Baiklah aku pun bisa mengurus diriku sendiri mengapa aku jadi kesal.


Kalau memang mereka sesibuk itu, aku harusnya bisa lebih leluasa bersantai. Aku akan makan diluar sambil mencari angin segar.


Aku tak berpamitan pada Bastian ataupun Nuray dan pergi begitu saja. Nikmati saja makan siang kalian berdua.


"Emma? Apakau akan makan di luar." Tanya Nuray, seperti berbasa-basi.


Aku mengangguk pelan, mataku melihat Bastian berharap ia ikut menanggapi tapi ia malam sibuk melihat berkas di tangannya.


Huh, baiklah!


****


Mungkin hanya aku karyawan Linford yang makan disini, mengingat menu kantin yang sangat enak dan berfariasi setiap hari.


Aku ingin minum soda, Bastian juga tak perduli saat aku pergi tadi masa bodoh aku makan makanan junk food begini. Dia juga tidak tahu.


"Emma? Benarkah kau Emma Edelsteen?"


Aku menoleh cepat ke sumber suara, astaga! Gavin.


"Gavin, apakah itu kau?"


"Kau langsung mengenaliku syukurlah, akhirnya aku bisa berjumpa lagi dengan mu Emma!"


Gavin masih polos seperti biasanya, wajah bahagianya saat melihatku masih sama. Ia selalu merona, pasti ia kebingungan mengingat aku sama sekali tak mengatakan apa-apa tentang kepindahanku ke Agithum.


"Kau disini? Apakah kau berkerja di sekitar sini?"


"Tidak Emma, aku hanya mampir."


" Jadi apa yang kau lakukan disini, bukannya kau tinggal di Toellapark?"


"Kau benar Emma, hanya saja aku sedang tinggal di rumah ayahku. Ibuku sedang melakukan perawatan medis di luar negri."


"Ah, begitu."


Penjelasan Gavin membuatku sedikit penasaran, tapi aku tak berani menanyakan hal pribadi seperti itu padanya.


"Kau sudah menyelesaikan pesananmu Emma?"


" Ah iya, sudah. Hanya menunggu sebentarkan?"


"Kau sudah mahir, pasti kau sering makan disini."


"Sebenarnya tempat ini cukup populer."


"Benar, makanya aku disini sekarang."


"Biar ku pilihkan menu terbaik untukmu."


"Tentu, terimakasih Emma."


"Kau tak perlu sungkan, kita berteman bukan. Maaf dulu aku suka mengomelimu Gavin."


"Aku suka saat kau melakukan itu, lagi pula aku yang selalu memulainya sampai kau begitu padaku."


Aku tak bisa menahan senyum senang kali ini, begini rasanya tak sengaja bertemu teman lama. Rasanya cukup menyenangkan.


"Aku berharap kita bisa lebih sering bertemu Emma."


"Tentu, sesekali kita harus bertemu untuk minum kopi bersama."


"Bolehkan aku minta nomor untuk menghubungi mu."


"Tentu, berikan ponselmu Gavin."


Aku mengetik nomorku di ponsel Gavin dengan cepat.


setelahnya kami makan bersama, sesekali tertawa dan membahas sesuatu yang tak penting. Aku juga membagi kisah kerinduanku pada Uncle Ben, semoga suatu saat aku bisa melepas kerinduanku pada mereka.


.


.


.


.


.


.


Like n komen ya😍