
"Tapi, mengapa kau terlihat sangat cemas sejak aku turun dari mobil tadi Emma? Sebenarnya apa yang kau fikirkan?"
Bastian mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku, rasanya kepala ini mendadak panas dan ingin meledak.
"Aku, aku.. tidak ada apa-apa Bastian."
Cepat-cepat ku palingkan muka.
"Kalau tidak ada apa-apa mengapa wajahmu sekarang memerah Emma?"
Sial, ingin rasanya aku membungkus wajahku karna malu. Apa aku ketahuan?
Ting!
Syukurlah lift akhirnya berhenti,
"Aku harus cepat pulang dan berendam, kalau begitu aku permisi Bastian."
Tanpa pikir lagi aku cepat melangkahkan kakiku begitu pintu terbuka syukurlah aku masih tertolong kali ini.
Ini pasti karna otak dangkalku yang selalu berfikir seenaknya, harusnya aku bisa mengontrol sikapku dan bertingkah sewajarnya.
Kau memang selalu bertingkah ke kanak-kanakan, Emma!!!
***
Ini terasa sangat nyaman, ini keberuntungan atau apa? Syukurlah bathtub apartement ini besar, dan benar ucap Bastian tadi rasanya sangat nyaman saat berendam.
Ah mengapa aku tiba-tiba memikirkan pria itu lagi, bisa gila aku. Kalau di pikir-pikir dia memang gila, benarkah aku di awasi sampai seperti itu?
Kalau di ingat-ingat lagi, ah.. Apa aku terlalu polos. Aku tidak pernah merasa seperti awasi dan semua terasa normal setiap hari. Lagipula siapa aku sampai harus di awasi?
Ya.. Aku ingat Bastian memang pernah berkata ia sangat ketat tentang orang-orang yang baru di kenalnya. Apa pria itu masih curiga pada ku?
Rrrrrr...
Ada pesan? Dari siapa malam begini. Ku ambil handphone yang ku letakkan di pinggiran bathtub, benar saja pria itu memang panjang umur lihat apa yang ia kirim.
"Apakah kau masih berendam? Aku mengantungkan beberapa camilan manis di pintu, makanlah beberapa sebelum tidur. Aku juga menaruh suplemen ingatlah harus kau minum."
Pria ini, tak pikir berapa kali aku mengutuknya di dalam hati dan berapa kali juga aku bisa merasa meleleh hanya karna satu tindakan manisnya padaku.
Bibirku pun dengan ringan tersenyum, aku rasa siapapun wanita di dunia ini akan mencair jika di perlakukan begini.
Sudah berapa kali pria itu berkencan, dia terlihat sangat lihai dari apa yang terlihat.
****
"Emma.....!!"
"Casey...!"
Astaga, akhirnya aku bertemu sahabatku. Rinduku langsung menguap setelah memeluknya dengan erat.
"Astaga, kau semakin cantik Emma!!!"
"Kau memang bermulut manis Casey."
Aku tersipu karna pujiannya.
"Ya, kau harus begini! Emmaku yang cantik dan elegant sekarang sudah menjadi sekretaris orang ternama di negara ini. Kau harus pakai pakaian yang bagus dan bermerek kalau tidak boss tampan mu itu akan malu."
Aku hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Casey. Dia selalu mengatakan apapun yang di fikirkannya tanpa berfikir dua kali, begitulah Casey dan aku tetap menyukainya.
"Kau meluruskan rambutmu?"
"Ia tapi tidak permanen, aku meluruskannya tadi pagi ingin tampil berbeda saat bertemu denganmu Emma."
"Aku sangat terharu, sahabat baikku sampai merubah penampilannya karna ingin bertemu aku."
"Yang sebenarnya adalah, aku ingin menggait beberapa pria tampan dan mapan di gedung ini untuk berkencan. Setidaknya aku harus mendapatkan satu."
"Pffft.." Sungguh aku gagal menahan diri untuk tidak tertawa.
"Jangan menertawaiku Emma! Kau tau aku perlu satu jam lebih untuk meluruskan rambut super ikalku ini."
"Tidak, siapa yang berani menertawai sahabatku yang cantik ini! Aku akan mematahkan kakinya."
"Benarkah?"
" Tentu saja, kita sudah lama berdiri disini bagaimana kalau kau ingin melihat pria-pria tampan itu di tempat lain sambil mengisi perutmu yang lapar. Ini sudah jam makan siang, kita harus mengisi tenaga sekarang."
"Kau semakin bijak sekarang, Emma sayang..!"
"Kau baru mengakuinya sekarang bukan?"
Aku menarik tangan Casey, kami menuju resto dan aku akan menjamunya dengan hidangan terbaik di gendung ini.