My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
50.



"Saat itu Ayahku mendatangi kekediaman keluarga Bastian. Mungkin ayahku yang kecewa memberi tahu Ayah Bastian tentang perselingkuhan itu, tapi entah bagaimana cerita selanjutnya terjadi kecelakaan yang memakan korban termasuk kedua orang tuamu. Kecelakaan itu di invesitigasi oleh polisi yang menyatakan penyebabnya human Error, beberapa saksi melihat mobil itu sempat berhenti dan terlihat percekcokan."


"Polisi menyimpulkan, kecelakaan itu karna pertengkaran yang membuat pengemudi yaitu Ayah Bastian tidak fokus dan menabrak sebuah mobil kontainer. Kau yang masih berusia 3 tahun tak bisa di jadikan saksi, dan saat itu kau juga mengalami trauma pasca kecelakaan."


Aku mengingatnya, aku mengingat itu samar-samar beberapa ingatan muncul. Aku melihat seorang pria dan wanita yang saling berteriak, Ayah dan Ibuku mencoba melerai sambil menutup kedua telingaku.


Rasa sakit yang amat sangat menusuk kepalaku.


"Emma! Kau baik-baik saja??"


Suara Gavin samar-samar menghilang, dan terlihat hanyalah hitam.


****


Samar-samar aku mulai terbangun dan memandangi sekitar, aku melihat Gavin. Ia sedang berbincang serius dengan seorang berseragam dokter. Astaga, aku di rumah sakit.


Kupaksakan mengangkat kepala, aku ingin duduk. Walau kepalaku masih terasa berputar aku merasa tak nyaman dalam kondisi berbaring, aku tidak sakit parah mengapa harus sampai di rawat begini.


"Emma, kau sudah bangun. Bisakah kau menunggu sejenak jangan memaksakan diri sesuka hatimu."


Gavin yang mengomel walau ia tetap membantuku untuk duduk.


"Kondisimu sangat lemah dan kau memiliki hipoglikemia. Dokter juga bilang kau memiliki riwayat pasca trauma hebat dalam diagnosa riwayat kesehatanmu. Aku rasa traumamu kembali saat kita membahas masalah tadi Emma, maafkan aku."


"Tidak apa-apa Gavin, ini bukan kali pertama aku pingsan. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menanganinya."


"Jangan keras kepala, istirahatlah sebentar setidaknya menunggu cairan infus ini habis."


"Baiklah Gavin, tenanglah aku tidak akan mencabut paksa selang infus ini. Itu hanya terjadi di drama-drama yang ada di TV, kalau aku melakukannya darahku akan menyembur kemana-mana."


Aku berharap Gavin akan tersenyum, tapi wajahnya malah semakin serius.


"Kau masih bisa bercanda di kondisi seperti ini, kalau kau tau betapa paniknya aku tadi saat melihatmu kehilangan kesadaran, rasanya Tuhanpun sudah ku hakimi karna pikiranku yang sudah menggila."


Aku terdiam mendengar omelan pria yang usianya 5 tahun di bawahku ini. Dia terlalu cepat dewasa di usianya, mungkin karna masa lalu yang membuatnya demikian.


"Aku minta maaf karna membuatmu cemas."


"Baguslah kalau kau menyadari hal itu."


"Kau memang bocah yang selalu membuat kesal," Dengusku.


"Jangan katakan aku bocah, bocah ini bisa membuatmu melahirkan bocah. Kau tau!?"


aku lantas melempar bantal ke arahnya, bisa-bisanya Gavin mengatakan lelucon konyol seperti itu.


"Jangan kesal, aku hanya memperingatkan mu Emma." Ucapnya lagi seraya memasang wajah yang sangat menjengkelkan.


"Cih!!" Umpatku kesal.


"Aku akan membeli makan dan air mineral. Setelah kau makan, dan cairan infus ini habis aku akan mengantarmu pulang."


Deg, aku hanya menggangguk tapi hatiku seperti di ganjal. Aku tak ingin pulang, aku tak punya rumah. Rumah itu pemberian Bastian dan aku belum ingin melihatnya. Ku pandangi Gavin yang menghilang di balik tirai ruang IGD. Aku akan tak punya pilihan selain mengunakan kebaikan dan rasa sukanya padaku saat ini.


Tak berselang lama aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru di balik tirai, mungkin itu Gavin. Tapi saat tirai terbuka, hal yang mengejutkan itu bukan Gavin. Tapi Bastian..


"Emma!!!! Kau baik-baik saja? Oh Tuhan, syukurlah." Ucapnya.


Dari mana ia tau keberadaanku, aku benci keadaan ini, dan ia langsung memelukku dengan sangat erat.


" Mengapa kau menghilang seharian, dan ponselmu mengapa tak bisa di hubungi sama sekali?"


Aku tak ingin menjawab, lidahku terasa benar-benar berat, tak lama Harold dan Casey muncul.


"Emma!!!? Bagaimana kondisimu? Kau sakit? Aku tak bisa menghubungimu sama sekali, aku dan semuanya mencarimu!! Kau nakal sekali mengapa tak mengaktifkan ponsel, semua orang mengkhawatirkan mu." Ucap Casey dengan raut yang tampak panik.


"Aku baik-baik saja Casey, hipoglikemia ku kambuh dan aku tak sadarkan diri. Gavin membawaku kemari."


"Gavin?" Wajah Casey tampak bingung dan menatap Bastian dan Harold secara bergantian.


"Dari mana kau tau aku ada disini?" Aku sengaja hanya memandang Casey, mataku sama sekali tak ingin menatap Bastian sedikitpun.


"Harold, Casey kalian tunggulah di luar biarkan aku berdua saja dengan Emma."


Casey masih tampak khawatir, tapi Harold mengajaknya untuk mengikuti kemauan Bastian.


"Aku menunggu di luar Emma." Ucap Casey dan kemudian menghilang di balik tirai.


Hanya ada aku dan Bastian, suasana menjadi lebih canggung dari yang kukira.


"Resepsionis bilang kau sempat ke kantor dan menerima pesan yang ku sampaikan."


Aku mengangguk tanda membenarkan ucapan Bastian.


"Lantas mengapa tidak menungguku?"


Aku benar-benar merasa sesak, dan bisa menjawab hal yang pasti menyakitkan hatiku sendiri.


"Kau marah padaku?"


Aku kembali hanya diam, Bastian menyentuh jemariku dan aku menepisnya. Aku tak tau seperti apa reaksinya karna aku terus membuang wajahku kebawah.


"Kau marah karna aku tak memberitahumu secara langsung mengapa kau tak di izinkan masuk, tentang kedatang Alice...."


"Bastian hentikan.. Aku tak ingin mendengar apapun lagi."


"Emma, aku rasa kau salah mengira maksudku."


"Cukup Bastian, jangan katakan apapun."


Mengapa dia dengan santainya mengucapkan nama wanita yang seluruh negara ini tau itu adalah kekasihnya. Mengapa dia tak mempertimbangkan perasaan ku sama sekali.


Suasanya bertambah hening bahkan saat suster datang memelepas selang infusku, mungkin suster itu bisa merasakan hawa dingin di antara aku dan Bastian, suster tak banyak bicara dan langsung meninggalkan kami begitu saja.


" Baiklah begini saja, kalau kau tak ingin bicara padaku saat ini aku mengerti. Saat ini kau lemah dan masih emosional, mari kita pulang dan istirahat. Aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu, aku sedang menunggu seseorang."


"Emma!! Jangan kekanak-kanakan, ayo kita pulang dan kita selesaikan masalah kita nanti saat pulang."


"Aku tak merasa harus menyelesaikan apapun dengan mu, kau yang memulai semuanya. Kau yang membawaku keduniamu yang kufikir adalah sebuah ketulusan, kau bilang ini cinta...?"


"Emma, apa maksudmu.. Tentu aku tulus dan sangat mencintaimu."


"Katakan satu hal Bastian, jujurlah tentang satu hal bersumpah jika kau benar-benar tulus!!"


"Apa itu Emma?"


"Kau mencariku dan membawaku keduniamu, karna rasa bersalah atas alasan yang menyebabkan kedua orang tua meninggal? Orang tuamu yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal Bastian!!!?"


"Seadainya orang tuamu tidak saling memaki saat mengemudi, mungkin aku tidak akan menjadi yatim piatu. Katakan kalau itu alasannya, bukan ikatan masa kecil yang kau bicarakan saat itu?"


Bastian membuang wajahnya, aku melihat tangannya mengepal. Reaksi ini bukanlah yang ku harapkan, aku benci Bastian tak mengelak sedikitpun. Tuhan, tolong buat Bastian mengelak, katakan kalau bukan itu alasannya.


Aku tak siap kalau semua cinta yang kurasakan darimu adalah bentuk dari rasa bersalah.


.


.


.


.


.


.


.


WF❤️