
Gubrak!!!
Jika kemarin sampai dengan pagi ini sangat membahagiakan bagi kami, maka siang ini adalah hal yang paling buruk dan menyedihkan. Aku tahu Bastian tak bisa menyembunyikan lagi rasa kesalnya, aku pun sama.
Ia memukul meja dengan begitu kerasnya hingga membuatku terkejut ketakutan, pertama kalinya aku melihat Bastian tak bisa mengontrol diri. Bahkan Harold dan setiap manager divisi hanya bisa menunduk dan mematung tak bergeming.
"Siapa!??? Katakan!!!" Hentaknya penuh amarah.
"Tenangkan dirimu Tuan Linford, kami akan usut sampai tuntas siapa pelakunya." Harold yang harus tetap bersikap profesional, ia berusaha mengendalikan si atasan yang tampak emosional.
"Produk ini sudah kita kerjakan begitu lama, menghabiskan anggaran luar biasa. Bagaimana bisa bocor dan sudah meluncur dari perusahaan lain sebelum launching, dengan nama yang hanya berbeda 2 huruf. Kita pasti di tuding plagiarisme."
"Kita pasti menemukan siapa orangnya di balik bocornya produk kita Tuan, tentunya kami sudah mengerahkan tim khusus serta peretas terbaik. Saya yakin produk kita orisinil." Jelas salah satu manager pemasaran dengan raut tak kalah tegang dengan yang lain.
Bastian terlihat diam sejenak, suasa semakin terasanya sesak dan menyeramkan.
"Tuan Harold kau sebagai Top Manager serta Manager umum di perusahaan ini aku perintahkan kurang dari 2x24 jam cari dan tuntaskan siapapun yang berani-benaraninya mencuri ide produk kita, siapapun dia pasti bukan orang lain. Aku yakin ada musuh di dalam perusahaan kita."
"Baik," Bastian langsung mengangguk.
"Manager HRD!! Berikan laporanmu tentang siapa saja staf yang masuk dan resig terutama untuk bulan ini." Perintah Bastian lagi.
"Baik," Jawab manager itu.
"Manager personalia!! Kau berikan semua laporan mu terutama di divisi perencanaan. Kalian semua khususnya harus bekerja sama menuntaskan ini, walau bukan kali pertama ide produk kita bocor, tapi kali pertama produk kita di tiru dengan sama persis. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang tidak bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah ini."
"Baik Tuan," Jawab kompak para Manager itu.
"Pergilah," Perintah Bastian lagi.
Semua Manager yang terdiri dari lini pertama dan menengah itu pun keluar satu persatu, tinggalah Harold yang kemudian duduk di sofa dan mengusap kasar wajahnya.
"Aku sudah menduga adanya kebocoran data, tapi tak menduga akan ada produk tiruan dengan sangat persis seperti ini dan Leoline lagi sebagai dalangnya." Kesah Harold.
"Kalau hanya tentang kebocoran data kita sudah sekuat mungkin memperbaiki dan memperbarui sistem, tak mungkin bocor sedetail itu. Lagi pula sistem komputer kita kuat, aku yakin tidak semudah itu." Balas Bastian.
"Pasti orang dalam, aku tak akan mengampuninya." Erang Harold kemudian.
"Fokuslah pada siapapun staf baru dan yang resign. Fokuslah pada itu, terutama di divisi perencanaan, bekerja samalah."
Harold menggangguk lantas bangkit,
"Aku pasti menyelesaikannya Bastian, kau tenanglah."
"Aku mempercayakan semuanya padamu Harold."
"Emma kemarilah," Panggil Bastian dengan intonasi rendah.
Aku mendekatinya, walau sebenarnya aku agak gemetar. Walau aku memahami situasinya tapi ini pertama kalinya aku melihat Bastian begitu marah, Bastian menarikku mendekati kursinya dan menenggelamkan wajahnya di perutku, melingkarkan tangan dan mendekap dengan lemah.
Aku baru saja ketakutan karna amarahnya dan kini tiba-tiba aku merasakan Bastian begitu lemah dan sedih.
"Maafkan aku membiarkanmu melihat sisiku yang seperti tadi, aku tak bisa membendungnya." Ucapnya dengan wajah yang masih tenggelam di pelukanku.
"Tentu, aku sangat memahami mu sayang. Kau pasti sangat kecewa dengan hasil kerja keras yang sudah mati-matian tapi berakhir dengan hal yang mengecewakan seperti ini."
"Harusnya kita sudah launching dan bersenang-senang nanti. Aku sudah menyiapkan perayaan besar-besaran kalau produk kita meledak di pasaran, aku sangat yakin ide itu satu-satunya milik kita Emma."
"Semua akan selesai dengan baik Bastian, aku yakin semua akan baik-baik saja."
"Semoga Emma, aku sangat marah dan lelah. Biarkan aku mendekapmu seperti ini sejenak, aku membutuhkannya."
Aku membalas pelukan Bastian, mengusap-usap punggungnya berharap bisa menenangkannya sejenak.
Begitulah hidup ini, kita tak bisa mengharapkan apa yang kita usahakan dengan maksimal bisa berjalan dengan baik. Beberapa masalah pasti akan datang cara tak terduga cara tak terduga, disinilah kedewasaan dalam bersikap itu sangat menentukan.
Aku tahu ini pasti bukan masalah pertama yang di alami oleh Bastian, aku tahu Bastian lebih tangguh daripada yang terlihat. Iya mungkin hanya butuh berteduh sejenak, lalu nanti akan berdiri tegak menghadapi badai dengan berani.
Untuk bisa berada di posisi seperti sekarang ini ia pasti sudah ribuan kali jatuh dan bangun, entah berapa kali ia gagal. Bastian tidak akan menyerah dengan tekadnya, seperti itulah aku memandang Bastian dan yakin pada dirinya.
Dan untuk Leoline, aku yakin ada sesuatu yang terjadi disana. Kalau ternyata mereka bermain kotor, aku tak akan memaafkan Gavin. Aku tau ini bisnis, dan aku tau Gavi juga orang yang baik. Jika perusahaan pesaing yang besar seperti itu mencuri ide dan Gavin sabagai pemilik hanya diam. Tentu itu bukanlah yang bisa dianggap enteng, Gavin pasti punya jawaban dari semua ini.
Jika aku bisa mendapatkan informasi darinya, aku yakin masalah ini akan terpecahkan.
.
.
.
.
.
.
Happy reading😉