
Casey masih menatap kesal ke arahku, entah berapa menit ia tadi mengomeli sahabatnya ini tentang bersusah payahnya ia dan Harold menghias balkon dan menyiapkan kue yang cantik ku. Mereka berdua lantas tak ingin menggangguku dan Bastian, serta memutuskan tidak ikut merayakan ulang tahunku tadi malam.
"Aku tak tau lagi harus berkata apa padamu Emma, kau bukan anak kecil lagi! Bersikaplah seperti selayaknya wanita dewasa."
Aku masih menunduk dan memeluk bantal di atas sofa, Casey bergegas menemuiku berharap mendapat kabar baik atas upayanya menciptakan suasana romantis bersama Harold.
Tapi apa yang terjadi, apa yang ia harapkan tak seindah yang terjadi. Malam indah antara aku dan Bastian tidak pernah terjadi.
"Aku minta maaf!" Ucapku mencoba menenangkan Casey.
"Mengapa kau minta maaf padaku!!? Harusnya kau mengatakan itu pada Bastian, pasti dia sangat menderita menahan dirinya. Kau tau pria tidak seperti kita Emma!!"
"Aku tau, maafkan aku.."
"Hhh... Kau malah minta maaf lagi,"
Aku tak bisa menghadapi mata Casey yang seperti mau keluar,
"Teruslah bersikap seperti anak kecil.. Lupakan tadi malam umurmu sudah bertambah jadi 27 tahun."
"Casey, jangan mengomeliku terus. Aku salah.. Tapi kau tau itu diluar keinginanku."
"Aku tau karna aku juga pernah mengalami itu Emma, tapi saat itu aku berumur 18 tahun.. Dan kau 27 tahun. Perempuan mana sekarang yang masih perawan di usiamu. Aku bukan mengajarimu untuk berprilaku mesum, tapi di usiamu ini..? Ah sudah lah Emma."
"Baiklah, aku berjanji jika saat itu datang aku akan melakukannya atau tidak lebih baik aku akan pernah melakukannya sepanjang usiaku sama sekali."
Casey tampak menggeleng pasrah, benar-benar seperti kehabisan kata-kata.
***
Aku sampai di Linford saat resepsionis memanggilku, seperti ada hal penting yang akan ia katakan.
"Nona Emma, Tuan Linford berpesan jika kau datang harap menunggunya perintah masuknya terlebih dahulu, Tuan ada tamu penting."
Aku mengerutkan kening, tak pernah Bastian melakukan ini padaku.
"Apakah Tuan Linford mengatakan itu secara langsung padamu?"
"Iya Nona Edelsteen."
"Baiklah.."
Sampai tadi pagi Bastian tidak menghubungiku sama sekali, tidak biasanya dia begini. Apakah dia tidak bisa memberi tahuku secara langsung?
Perasaanku jadi gelisah, aku ingin tahu apa yang terjadi hingga Bastian sampai melakukan ini. Jangan-jangan ia masih kesal karna apa yang terjadi tadi malam.
Apakah aku harus menghubunginya, tapi aku khawatir Bastian memiliki tamu yang sangat penting. Ahh baiklah, aku akan menunggu di ruang Harold saja kalau begitu
Aku menaiki Lift, dan sampailah ke lantai di mana ruangan Harold berada, tetapi aku di kejutkan dengan pemandangan yang tak bisa ku mengerti.
Tepat di depan pintu ruangan Harold Bastian dan seorang wanita yang menggandengnya mesra tengah berdiri. Tidak ada sedikitpun gerakan penolakan dari Bastian, wanita dengan pakaian sopan dan sangat terlihat penuh dengan ettitude itu berulang kali bicara dan memandangi Bastian, dan Bastian menanggapinya dengan cara yang sama.
Tidak ada rasa canggung sama sekali, tak berapa lama Harold pun tampak keluar. Mereka bertiga melangkah menuju Lift. Entah mengapa aku refleks bersembunyi, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.
Rasa panas dan terbakar, hati dan jantungku kompak saling menderu. Kupandangi mereka dari celah hingga akhirnya menghilang di bali pintu Lift yang tertutup.
Siapa wanita itu, sampai Bastian tak ingin menyembunyikannya dari ku. Ada hubungan apa? Perempuan dengan tampilan seperti itu bukanlah dari kalangan yang biasa, pasti hubungannya dengan Bastian spesial. Kalau tidak mana mungkin Bastian yang dingin bisa dengan nyaman di gandeng oleh wanita itu.
Ku ambil ponselku, rasanya ingin cepat ku tekan tombol panggilan atas namanya, tapi keyakinanku rapuh.
Aku terlalu takut sampai tak bisa melakukan hal yang biasanya menjadi hal yang lumrah. Ku cari kolom pesan, dan ingin mengetik banyak hal yang ingin ku ketahui, tapi semua teks yang ku ketik berujung pada tombol delete.
Apa yang sebenarnya terjadi kakiku gemetar, mengapa aku sangat ketakutan apakah karna tadi malam aku tak bisa memberi Bastian hal itu.
Tapi aku yakin Bastian bukan pria seperti itu, lantas apa yang membuatnya melakukan ini? Aku tak siap kehilangan cinta Bastian. Aku tak sanggup harus berpisah dari segala perhatian dan kelembutan sikapnya.
Entahlah, aku melangkah pergi. Aku tak sanggup harus melihat ini lagi, aku tak bisa mengetahui kalau ternyata ini adalah kenyataan pahit. Aku tak bisa!
Aku bergegas, keluar dari gedung Linford. Aku takut akan bertemu Bastian dan wanita itu, aku takut di campakan di saat itu juga.
Entah kemana kakiku melangkah, mencari taxi dan memintanya mengantarku kemanapun. Hatiku terlalu terguncang, aku kalut.
Sampailah aku di sebuat Cafe yang pernah ku singgahi bersama Casey, Cafe ini cukup jauh dari kemungkinan aku bertemu dengan Bastian. Aku pasti sudah gila melupakan pekerjaanku, dan tak menggabari siapapun. Sejak tadi Ponselku matikan, aku tak ingin di usik. Hanya berharap bisa meredakan segala pikiran burukku.
"Bukankah itu Alice Charlotte? Benarkah ia sudah tiba di Agithum, dan kau lihat? Bastian Linford menjemputnya di bandara.. Aku kira itu hanya isu yang berlalu, ternyata mereka memang punya hubungan sepesial."
Sesama remaja perempuan yang tengah bergosip membuatku tak sengaja menguping, arah mataku langsung menuju sebuah layar TV berukuran kecil di dekat meja kasir.
Benar saja, wajah Bastian terpampang jelas di layar Tv bersama wanita yang menggandengnya tadi.Tak kalah mengejutkan ternyata wanita itu adalah Alice Charlotte, seorang penyanyi yang namanya sudah mendunia. Airmataku jatuh begitu saja, apakah aku masih bisa mempercayai Bastian?
Semua orang pasti tau siapa Alice, sedang aku siapakah aku? Aku hanya seorang wanita yang hadir dari masa lalu Bastian.
"Harusnya aku tak perlu bersembunyi tadi, aku bisa menyapa mereka dan mengucapkan selamat. Aku bahkan terlalu takut sampai tak sadar wanita cantik itu adalah Alice Charlotte, sebenarnya apa yang ada di otakmu Emma. Mengapa semua ini terasa menyakitkan sekaligus menyadarkan bahwa dirimu bukan siapa-siapa."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
WF❤️