
"Ayolah kembali menjadi sekretarisku Emma," Bujuk Bastian.
Aku membiarkan Bastian yang sedari tadi memainkan rambutku, aku bersender di bahunya selagi kami menonton Film bersama. Kami memutuskan untuk bertemu di akhir pekan.
"Emma, kau begitu serius menonton hingga tidak mendengarkan aku?"
"Hmm.." Sautku.
"Haruskah aku membuang TV ini agar kita bisa bicara?" Ucap Bastian dengan nada kesal.
Aku lantas bangkit dan menatap kearahnya hingga kedua mata kami saling pandang.
"Siapa tadi yang mengajakku menonton filem bersama, sekarang siapa pula yang lantas kesal saat aku tak menggubris hahh??"
Bastian mencubit lembut pipiku sembari tersenyum besar, giginya yang putih berjejer indah menambah getaran sensual di wajahnya.
"Aku bosan!" Rengek Bastian.
"Lalu??" Sautku.
"Haruskah kita kekamar menyelesaikan sesuatu?"
"Bastian!!??" Mataku membulat. "Apakah hanya itu yang ada di otakmu?" Balasku lagi.
"Apakah kau tak merindukanku?"
"Sudah tau masih bertanya!" Jawabku kesal.
"Sejujurnya saat bersamamu aku selalu hilang kesabaran Emma, aku tak puas hanya dengan memandangmu."
Tatapan Bastian sangat lembut, aku tau raut wajahnya tak bisa menampik itu. Kami sudah dewasa, dan harusnya sudah tidak ada yang perlu di cemaskan lagi. Masalahnya aku masih butuh waktu.
"Apakah kau akan tetap mencintaiku walau aku selalu mengulur waktu? Apakah kau akan mencampakkan ku karna aku yang selalu menolakmu?"
"Apa yang kau bicarakan? Cintaku tak akan pudar hanya karna kau belum siap melakukan itu. Lagi pula sudah tugasku untuk selalu merayu dan merayumu hingga kau siap. Kalau tidak, kau akan terus diam dan tidak membuka diri."
"Bagaimana kalau kita melakukan yang seperti biasa?" Tawarku.
"Hah?? Benarkah kau Emmaku??" Bastian ternyata terkejut karna ucapanku barusan.
"Tentu, lalu siapa?"
"Kau menawarkan diri? Kau harus siap-siap jika ada hal yang mengejutkan yang terjadi. Karna kau yang memintanya."
"Tidak lebih dari yang biasanya! Kau dengar Bastian!!" Ancamku.
Aku terkesiap saat Bastian bangkit dan kemudian menggendongku.
"Maybe, mungkin lebih sedikit atau akan lebih banyak." Balas Bastian menyeringai licik.
"Bastian...!!!!" Pekikku.
Ia lantas membawaku ke dalam kamar, astaga ini bukan seperti yang ku maksud Tuan Linford.
Aku terenggah-enggah menyadari yang kami lakukan semakin jauh dan jauh. Mungkin karna ternyata rindu itu lebih dalam dari sebelumnya, berpisah selama 3 bulan membuat kami terjebak dalam pusaran hasrat yang menggebu.
Baik aku dan Bastian sama-sama menggila, melayang dalam gelora asmara yang haus akan sentuhan.
Aku menenggak saliva, saat Bastian bangkit diatasku membuka sweaternya. Memperlihatkan dada bidang dan otot dimana-mana. Aku Lantas menggigit bibir tak sadar sudah meletakkan jemariku disana, di perutnya yang sixpack.
"Kau harus bertanggung jawab jika sudah meraba tubuhku Emma!"
Bastian menenggelamkan bibirnya ke bibirku, sepertinya aku akan menyerah kali ini dan membiarkan Bastian melakukan apapun semaunya padaku.
2 jam berlalu, dan hal itu sudah terjadi. Tidak semenakutkan seperti yang ku bayangkan. Rasanya aku ingin cepat-cepat mengabari Casey dan berteriak padanya. Aku sudah tidak perawan.
Setelah menciumiku ia terlelap begitu saja, sedang aku masih terjaga karna jantungku masih belum terbiasa. Ia masih berdebar, apalagi ketika adegan panas yang kami lakukan tadi terngiang begitu saja.
Bastian melakukan semuanya dengan lembut dan alami, tidak mengerihkan seperti video-video yang pernah Casey kirimkan padaku.
Rasanya indah, tak bisa tergambarkan. Kebagiaan yang tak bisa di utarakan lewat kata-kata. Aku mencium Bastian yang mungkin sudah berada dalam mimpi indah, memeluknya dan ingin terlelap bersamanya.
"Emma!"
"Hmm.."
"Bangunlah.."
Aku membuka mata dan ini sedikit membingungkan. Apakah aku bermimpi!???
"Emma?? Ada apa!?"
Wajah Bastian terlihat bingung. Sedang, wajahku terasa panas karna malu.
"Sudah berapa lama aku tidur?"
"Entahlah, mungkin sekitar sejam."
"Benarkah? selama itu?"
"Ya, kau terlihat sangat nyenyak. Sebenarnya Harold memintaku menemuinya, aku jadi aku harus membangunkan mu."
"Ah begitu? Oke, pergilah."
"Aku hanya sebentar, jangan pulang dulu mengerti? Nanti kita akan pergi untuk kencan, bersiaplah sebelum aku menjemputmu. Oke?"
"Baiklah Bastian."
Cup! Bastian mengecup bibirku dan bangkit dari duduknya.
"Aku pergi Emma." Pamit Bastian.
Aku lantas mengangguk, membiarkan punggungnya menghilang dan suara pintu terdengar menutup.
"Kau sudah gila Emma, bagaimana kau memimpikan hal seerotis itu!???"
Aku mengacak-acak rambutku, apakah semenjak bertemu Bastian kami sangat jarang bermesraan. Dan bagaimana tadi bisa aku tertidur saat kami berdua, aku benar-benar membuang waktu berhargaku bersama Bastian.
****
Taman bermain??
Bastian tersenyum menatapku, tapi aku malah merasa kebingungan.
"Kau mau mencobanya?" Ucap Bastian.
"Apakah kau bersungguh-sungguh kencan kita di taman bermain?"
Bastian mengangguk.
"Aku sebenarnya belum pernah sama sekali ke taman bermain dan tidak tau harus melakukan apa?"
"Kita bisa memulainya dengan membeli popcorn atau gulali. Atau kau mau langsung mencoba naik Biang Lala? Hmm bagaimana dengan rollercoaster?"
"Hahh??"
"Wajahmu tegang sekali Emma, baiklah kita mulai dengan komedi putar terlebih dulu setelah membeli gulali."
Bastian menarik tanganku lantas berlari, aku tak berfikir banyak saat ia memintaku untuk memakai pakaian casual dan nyaman tadi. Mungkin kami akan berjalan-jalan atau melakukan hal ringan lainnya.
Ternyata ini sangat tidak terduga!
Kami sudah duduk di atas kuda sebuah komedi putar yang sangat besar. Aku sungguh malu ternyata permainan ini lebih banyak di minati anak-anak, tapi sadar diri aku tak ada bedanya di bandingkan anak-anak itu.
Bastian membeli sepasang bando aneh yang sangat lucu, aku juga membawa gulali besar berwarna warni. Walaupun ini agak....? Tapi aku menyukainya, terlebih untuk pertama kali aku melihat Bastian sangat bahagia dan tertawa lepas.
Entah berapa kali Bastian mengambil fotoku, aku tak percaya Bastian yang penuh kharisma dan elegan itu bisa begitu manis seperti ini. Benar-benar menggemaskan.
Tak berselang berapa lama, setelah perutku seperti di aduk-aduk dan suaraku mulai serak. Kami selesai setelah menaiki Roller coaster gila itu, persetan entah berapa kali aku hilang kendali memaki Bastian yang memaksaku merasakan hal paling mengerihkan dalam hidupku itu. Aku merasa mati dan hidup lagi dalam satu waktu.
"Ini pertama dan terakhir kalinya, kau dengar Bastian!!!"
Bastian malah menertawaiku, bagaimana ada orang yang begitu senang setelah melewati jalur kematian, kini aku melihat sisi lain lagi. Bastian suka naik Rollercoaster, dia pasti seorang Viking di kehidupan sebelumnya.
.
.
.
.
.
.
WF❤️