
"Lembutlah sedikit Bastian.." Keluhku,
Aku tak bisa mengelak dari serangan Bastian yang terasa memburu, setiap kecupannya terasa hangat. Ini juga bukan salahnya karna aku yang memulai.
Beberapa saat tadi saat ia datang, matanya begitu terbelalak hingga aku berfikir mungkin sebentar lagi mata yang membulat sempurna itu akan terlepas dari tempatnya. Tak ayal karna akulah sumber keterkejutannya itu.
Aku menggunakan lingerie yang lumayan tranparan dan memilih G string yang cukup seksi.
Aku pikir tak ingin menundanya lagi, aku sudah cukup siap melewati malam yang seumur hidup sudah ku tunggu ini. Dulu aku sangat kesal mendengar ucapan Casey yang menjulukiku perawan tua, karna aku berfikir adalah hak ku memilih dengan siapa aku ingin melakukannya.
Dan sekarang aku sudah menemukan pria yang ingin ku serahkan segalanya untuknya, aku ingin melewati semuanya dengan Bastian.
"Bukan salahku seperti ini, kau yang memulainya." Bisik Bastian padaku.
"Aku tau, aku hanya sedikit gugup."
"Bagaimana kau terfikir mengenakan ini Emma, kau terlihat seperti gadis yang lugu selama ini."
"Kau belum mengenalku sepenuhnya." Ucapku seakan penuh penuh percaya diri, walau sebenarnya tubuhku sudah setengah bergetar.
"Kalau begitu, tunjukan padaku.. Apalagi yang selama ini belum kau perlihatkan padaku."
"Bastian, aku hanya ingin memberi yang terbaik untukmu."
"Aku tau, tapi.. Kau harus membiarkan aku juga memberi yang terbaik malam ini. Kau harus berpegangan lebih kuat, karna aku takut tubuhmu tidak akan kuat menghadapiku."
"Bastian berhenti menggodaku..!" Erangku kesal.
Bastian kemudian tersenyum penuh aura bingal, menggedongku dan menempatkan tubuhku di peraduan kami. Selanjutnya hanya ada erangan demi erangan yang keluar dari mulutku, aku merasakannya ribuan kupu-kupu yang seolah-olah menari-nari di sekujur tubuh di ikuti perasaan indah yang tak pernah ku rasakan sebelumnya.
*****
Aku memanggang roti, membuat scramble egg dan menghidangkan kopi hitam panas. Aku dan Bastian hanya diam, tapi aku bisa melihat telinga Bastian yang memerah. Wajahnya juga tak kalah canggung mungkin tak jauh beda kalau dia menatapku saat ini.
Sejak pagi kami tiba-tiba menjadi sepasang kekasih yang salah tingkah. Entah mengapa, setelah melewati malam yang panas aku dan Bastian menjadi lebih pendiam.
"Kau sudah selesai, biar aku yang membereskannya." Ucapku canggung, sial.
"Tidak, biar aku saja. Kau sudah menyiapkan sarapan, biar aku yang membereskannya." Balas bastian terlihat kikuk.
"Biar aku saja, aku sudah biasa melakukan ini."
Akhirnya Bastian mengangguk dengan raut menyerah, membiarkan ku meletakkan beberapa piring yang kotor dan aku langsung menyucinya.
Bastian memeluk pinggangku, menempatkan dagunya di pundakku.
"Mengapa setelah melewati malam yang panas kita malah secanggung ini." Ucapnya di iringi leguhan nafas kesal.
Aku tersenyum simpul, mengerti apa yang di rasakannya.
"Aku juga tak mengerti mengapa tiba-tiba jadi salah tingkah melihatmu."
"Kau bangun begitu cepat, padahal aku sudah berlatih begitu lama setelah melewati malam yg ku nantikan itu esoknya akan memperlakukan mu lebih baik lagi. Lantas aku terbangun mendengar kau sudah begitu sibuk di mempersiapkan sarapan kita, aku jadi kikuk dan malu."
Aku memutar, menyandarkan pinggangku di wastafel dan membalas rangkulan Bastian.
"Apa kau berfikir akan bangun lebih pagi dan menyiapkan semuanya untukku?" Balasku penuh selidik pada raut wajau Bastian.
Pria ini malah mengangguk gemas seperti anak anjing. Aku melihat sisi imut di balik sosok hebat ini.
"Aku melihatnya di beberapa drama romantis, itu terlihat keren."
Aku terkekeh dah tak bisa menahan gelak tawaku.
"Kau malah tertawa.." Ucap bastian kesal.
"Baiklah, lain kali aku akan membiarkanmu melakukannya. Maaf, karena aku bangun lebih dulu."
"Kau terlihat kewalahan tadi malam, sekarang bahkan kau terlihat seperti tidak ada yang terjadi tadi malam. Itu menyakiti harga diriku."
Aku terkekeh lagi,
"Bagaimana mungkin tidak ada yang terjadi tadi malam. Kita melewati malam yang manis dan panas, kau membuatku menggila dan menangis. Bahkan rasanya pinggangku masih sakit, aku hanya tak ingin memperlihatkannya padamu. Kalau ku perlihatkan nanti kau malah tidak ingin melakukannya lagi."
"Benarkah? Kau kesakitan?" Raut Bastian berubah panik.
"Sudahlah, aku bisa menanganinya.. Kau hanya perlu menciumku di sini." Aku menunjuk keningku dan mengangkat kepala ke arah wajah Bastian.
Cup, Bastian mengecupnya tanpa basa basi.
"Apa ini mengurangi rasa sakitnya?"
"Baiklah, kau harus bersiap kita ada rapat penting hari ini."
"Hah, tak bisakah kita menundanya besok?"
"No!! Aku sudah mempersiapkannya dan tim perencanaan sudah menyiapkan presentasi mereka begitu lama. Ini produk baru yang akan rilis tahun depan."
"Kau begitu kejam pada Boss mu Emma."
"Aku!?? Aku sekretarisnya, kau Bossku mengapa Bossku mengeluh saat sekretarisnya sangat produktif?"
"Baiklah, kau menang.. Padahal hari ini aku ingin bermesraan sepanjang hari denganmu."
"Kita bisa membuat jadwal nanti tentang bermesraan Boss. Sekarang Tuan Bastian yang hebat ini harus menyelesaikan semua pekerjaannya yang sudah sangat menumpuk selama sekretarisnya tidak berkerja untuknya."
"Baiklah kita selesaikan semua pekerjaan itu sampai habis, dan saat sudah selesai aku tak mau kau membuat alasan lagi untuk berdua saja denganmu."
Aku mengangguk, tapi konyol! Kalau kau berharap pekerjaan itu habis Emma, Linford adalah perusahaan tersibuk di negara ini.
****
"Kau lihat Tuan Bastian saat rapat?"
"Hmm, aku melihatnya.. Ini pertama kalinya aku melihat Tuan Bastian tidak menyela sama sekali mengungkit kelemahan ide produk yang akan kita rencanakan."
"Di masa lalu, rapat pengembangan ide produk adalah hal yang paling menyeramkan. Tuan Bastian sangat ketat dan teliti, aku sampai ingin resigh."
"Bagian riset juga tak kalah kelimpungan saat mereka mengajukan beberapa data."
"Sepertinya Tuan Bastian sedang dalam mood yang baik."
"Aku berharap Tuan Bastian selalu dalam mood yang seperti ini, kita tidak perlu tertekan saat rapat atau mengajukan ide produk."
"Aku juga berharap itu terjadi selamanya."
Aku menahan senyum mendengar para staf membicarakan Bossnya. Entah mengapa aku tak sengaja melewati kantor tim perencanaan dan mendengar setidaknya keluhan baik tentang Bastian.
Rrrrttt...
"Ya, Tuan Bastian."
Ehemm! Tiba-tiba staf yang berkumpul tadi bubar menyadari kehadiranku yang kebetulan Bastian menelfon.
Aku berbegas melangkah, mencari tempat yang lebih sepi.
"Dimana kau Emma?"
"Aku dari tim prencanaan mengantakan beberapa data dari tim riset."
"Apakau tidak lapar, ini jam makan siang."
"Tentu, aku akan menyusul setelah menyeselasaikan beberapa hal."
"Mengapa aku merasa kau lebih sibuk dari pada Boss mu."
"Harusnya kau senang pekerjamu begitu rajin Tuan Bastian."
"Aku lebih menyukai sekretarisku duduk manis di dekatku."
"Aku hanya pergi sebentar dan kau sudah gelisah, baiklah beri aku waktu 10 menit aku akan segera menyelesaikannya dan menemuimu."
"Aku menunggumu..."
.
.
.
.
.
.
Happy reading 😉
*Walau kondisi belum stabil, Otor coba usahakan.