My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
23.



Kami tak banyak bicara saat Bastian mengantarkan aku pulang, walau rasa penasaran ku ingin meledak perihal kecelakaan mobil yang merenggut kedua orang tua kami tapi, aku belum berani menanyakannya lagi pada Bastian.


Aku benar-benar meresapi ucapan Bastian tadi, dan ucapan itu seperti mulai bergelayutan di pikiranku.


Sedalam itukah kau memikirkan diriku?


Apa aku boleh sedikit serakah, memimpikan semua perhatianmu saat ini melebihi rasa kasih sayang seorang kakak pada adiknya seperti yang selama ini ku fikirkan.


Seandainya aku punya kemampuan membaca hati maka saat ini aku ingin membaca setiap bait-bait yang terukir dalam hatimu Bastian.


Apakahkan di hati itu, ukiran namaku sangat indah atau sama seperti ukiran nama orang lain seperti seharusnya.


"Apa yang kau fikirkan Emma, sedari tadi menatapku. Jangan terlalu serius bola matamu seperti mau keluar dari tempatnya."


Aish, baru saja aku menggambarkan sisi dirinya sedikit manis dalam hatiku. Sekarang dengan mudah ia merusak semuanya.


"Tidak, jangan terlalu narsis. Untuk apa aku melihat orang yang menyetir dengan begitu serius seperti itu."


"Kau tidak melihatku? Lalu, bagaimana kau tau aku menyetir dengan begitu serius?"


Sial, dia sangat pandai bicara.


"Aku, aku hanya berfikir semua yang mengemudi pasti serius sepertimu."


"Benarkah? Kau tau barusan tadi aku melihat pengemudi yang lebih serius melebihi caraku, karna terlalu serius dia membuat semua sisi mobilku rusak."


"Bastian, kau!?"


"Pffftt..."


Pria ini merisak ku dengan sengaja. Lihatlah, sekarang dia membuang muka sambil menahan tawa. Dasar pria licik.


"Sudahlah... Kau sangat serius sampai tak menyadari mobil kita sudah berhenti, ayo lekaslah turun. Jangan lupa berendamlah dengan air hangat, buat tubuhmu rileks. Itu bisa mengurangi rasa nyeri karna otot-ototmu yang tegang."


"Baiklah.." Aku masih malas melihat wajahnya, tapi aku senang karna ia masih sempat mempedulikan aku.


Sesaat di aku turun, pria itu pun turun setelah memarkirkan mobilnya. Aku tak mengerti, setauku hanya pemilik apartement di gedung ini yang memarkirkan mobil di basement? Apakah Bastian ini mampir ke apartement ku?


"Ke, kenapa kau malah memarkirkan mobil? Kau mau kemana?"


Bastian tak menjawab, dia mengerutkan kening menatap sejenak dan melewatiku begitu saja.


Apa-apaan, jangan-jangan ia akan memaksa seperti biasa.


"Bastian! Tunggu..."


Aku mempercepat langkah harus memastikan, apa yang di fikirkan pria ini. Bagaimana ia mau mengunjungi rumah wanita yang tinggal sendirian begitu saja, aku harus menahannya.


Aku setengah berlari saat sampai menyusul Bastian ke dalam Lift.


Dan, ahh... Bastian menekan lantai yang berbeda dari lantai apartement ku berada.


Sial malunya.


"Apa yang kau fikirkan, Emma?"


Double kill, mati saja kau Emma Edelsteen!!! Pasti Bastian berfikir kau sudah bertingkah aneh dari tadi.


"K,kau mau kemana? Aku hanya penasaran."


Semoga dia tidak menyadari apa yang ku lakukan tadi karna berfikir ia akan singgah.


"Ke apartement ku tentu saja."


"Hah?? Kau juga punya apartement di sini?"


"Tentu, akan terasa agak janggal jika pemilik gedung apartement tak punya satu unit apartementpun di gedung yang ia miliki, Emma."


"Lagipula aku meminta mu tinggal disini, agar bisa mengawasimu kapan saja. Karna setiap sudut dan orang-orang yang bekerja di gedung ini mengawasi dan memastikan kau tinggal dengan aman."


"Apa???" Aku benar-benar terkejut.


"Tapi privasimu aman, itu hanya sebatas pintu apartementmu saja. Apa yang kau lakukan di dalam aku menjamin hanya kau dan Tuhanlah yang tau."


Hah!? Apakah pria ini memang segila ini!?