My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
46.



"NURAY!!?"


Aku terbelalak, tak mempercayai apa yang ku saksikan dengan mata kepalaku sendiri, dan semua orang di ruang rapat sejenak memandang ke arahku.


"Kita sudah mendapatkan siapa pelaku dari kebocoran data Linford, dan orang itu adalah seorang mantan manager divisi perencanaan Nuray." Terang, manager personalia yang menjelaskan dengan beberapa sumber bukti dan rekaman CCTV yang memperjelas segalanya.


"Saya mencurigai, Nuray melakukan kesepakatan ilegal dengan Leoline. Dan dari informasi yang saya temukan, Nuray sudah sebulan masuk ke perusahaan Leoline. Kalau bukti sudah cukup kita bisa mengajukan tindakan hukum, kepada perusahaan Leoline dan secara personal kepada Nuray." Imbuh kuasa hukum Linford.


Bastian menganggukan kepala beberapa kali, sejenak suasana hening di ruang rapat. Rapat darurat ini dilakukan karna pihak keamanan dari pusat pemantauan CCTV gedung Linford melaporkan bukti yang mereka temukan.


Di tambah lagi laporan dari beberapa informan yang memantau perusahaan Leoline dalam beberapa waktu ini.


"Bagaimana pendapatmu Harold?" Ucap Bastian kemudian memecah keheningan.


" Dengan melihat bukti yang sangat cukup ini, kita bukan hanya bisa menindak lanjuti secara hukum bahkan bisa melakukan petisi pada Asosiasi Pengusaha Azenville agar perusahaan Leoline mendapat skors dan meminta mereka membayar ganti rugi. Kita juga bisa melaporkan tindakan plagiarisme secara serius, ini bahkan sangat menguntungkan bagi kita jika media tau."


"Mengapa perusahaan sekelas itu tidak mempertimbangkan sesuatu yang fatal seperti ini," Imbuh salah satu pengacara lagi.


"Baiklah, lakukan seperti apa yang sudah kita bahas. Lakukan dengan cermat agar tidak sekalipun mereka menemukan cela untuk menghindar, saya tak ingin sekalipun mengampuni mereka lagi untuk kali ini, rapat selesai."


Semua orang mematuhi ucapan Bastian lantas meninggalkan ruang rapat, aku merapikan berkas-berkas yang tersisa. Bastian masih mematung di kursinya, tatapannya seperti kosong dan terlihat sangat lelah.


"Bastian, kau baik-baik saja?" Tanyaku khawatir melihat kondisinya.


Bastian menatapku dan mengangguk pelan.


"Katakan padaku sedekat apa kau dengan Nuray?" Ucap Bastian.


"Aku sudah memberi tahumu Bastian, Nuray anak dari seorang pemilik toko sepatu dimana aku bekerja dulu."


"Bagaimana pendapatmu saat tahu Nuray akan menghadapi masalah hukum dan kemungkinan besar dia tak hanya mendekam di penjara tapi keluarganya akan bangkrut membayar ganti rugi."


Aku lantas melepas nafas kasar, rasa khawatir sudah jelas-jelas ku sembunyikan mengingat segala kebaikan Baba Ramzan. Tapi aku adalah seorang yang profesional, jika ini murni kesalahan Nuray maka dia juga harus siap dengan segala resiko dari perbuatannya.


"Lakukan seperti yang seharusnya Bastian, aku tak ingin hubunganku dengan Nuray dan keluarganya di sangkut pautkan dengan masalah ini, ini tidak adil untuk kau dan Linford."


"Kasus ini akan tetap berjalan walau seandainya kau terpancing secara emosional Emma, aku tak pernah mengampuni orang yang menghianatiku. Hanya saja aku tetap ingin tau apa yang sedang kau rasakan."


"Aku baik- baik saja Bastian,"


Aku mencoba menarik tulang pipiku, aku harus terlihat baik-baik saja. Aku harus mengatakan hal itu agar Bastian berhenti mempertimbangkan perasaanku, ini tentang profesionalitas pekerjaan.


Mungkin kondisi Baba dan Anne nanti tidak akan baik-baik saja, bagaimanapun Nuray adalah anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki.


Aku sungguh menyayangkan apa yang Nuray lakukan, mengapa ia sampai sejauh ini. Apakah ini ada hubungannya denganku? Mungkinkah karna ucapannya waktu itu saat terakhir kami bertemu.


"Kemarilah Emma." Panggilan Bastian mengejutkanku.


"Ah! iya.." Aku bergegas mendekatinya.


"Aku tau bastian, kau tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja."


"Berjanjilah tetap bersamaku apapun yang terjadi Emma."


"Aku berjanji.."


****


Musim dingin yang parah di Agithum city, aku meneguk secangkir kopi sambil memandang pemandangan serba putih ke luar sana. Beberapa waktu telah berlalu hingga tak terasa aku mulai nyaman dengan kota ini. Setelah memastikan bahwa kondisi Bibi Agatha baik-baik saja di ujung telepon aku memilih untuk istirahat sejenak dari penatku menyelesaikan rincian proposal yang di kirim Harold.


Minggu ini cuaca sangat ekstrim, salju menebal hingga sulit untuk di lewati. Kabar kecelakaan pun di tv kian parah hingga Bastian meliburkan semua stafnya.


Aku mengingat kejadian bulan lalu, saat Baba Ramzan dan Anne datang mengejutkanku.


Mereka menangis memintaku merubah status Nuray yang sudah menjadi tersangka, kasusnya lumayan menggemparkan dan pasti menghancurkan reputasi keluarga Baba Ramzan.


Rasa sakitnya masih menusuk tak kala mereka memohon, tapi apa yang bisa ku lakukan. Aku tak punya kuasa apapun, entah keyakinan dari mana yang mereka dapat hingga mempercayai bahwa aku bisa merubah pendirian Bastian. Mereka salah, aku mungkin sangat di cintai tapi Bastian bukanlah orang yang berbelas kasih pada orang yang mengganggunya.


Mungkin mudah menyelesaikan perkara pribadi, tapi ketika berkaitan denga reputasi perusahaan aku yakin Bastian sangat tegas. Hanya aku yang bisa melihat sisi lembut dari seorang Bastian Linford, karna ia mencintaiku. Tapi aku juga tak bisa menggunakan rasa cintanya untuk kepentingan ku sendiri.


Baba dan Anne pulang dengan hati yang hancur, aku tau itu. Setelahnya aku menangis segilanya, karna akupun harus berusaha tegar.


Rasanya seperti menelan duri, Baba adalah orang yang sangat ku pedulikan. Sikapnya yang seperti seorang ayah menghangatkan hatiku, dan melihatnya putus asa seperti menggenggam duri.


"Maafkan aku Baba, tidak semua hal bisa ku lakukan terutama dalam kasus Nuray. Aku tidak membencinya, aku memahaminya..."


Terkadang amarah yang tak bisa di kendalikan bisa menyulut kebodohan pada diri sendiri. Apalagi hal itu mengenai perasaan yang kecewa, Nuray mengidamkan Bastian sampai menghancurkan dirinya sendiri bahkan menyeret keluarganya dengan arus amarah itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading😉