
Rasanya sangat lelah menggunakan heels seharian, kakiku pegal dan sedikit lecet di bagian tumit atas.
Ku coba berjalan sambil memukul-mukul ringan lengan yang pegal ini, aku memikirkan tentang Harold dan Casey sedari turun dari mobil Harold, dan beberapa langkah lagi pintu apartementku akan terlihat.
Ku sipitkan mata dari jauh tampak Bastian yang berdiri tepat di samping pintu apartement, untuk apa dia berdiri disitu? Apakah dia sedang menungguku?
Aku memandangnya dan akhirnya dia menyadari kedatanganku. Aku berjalan agak gontai, rasanya masih tak ingin menemuinya.
"Kau sudah pulang?" Ucapnya.
Aku menganggukkan kepala, meraih knop pintu dan menekan beberapa angka sandi. Aku mengajak Bastian masuk saat pintunya terbuka.
"Kau terlihat lelah Emma."
"Kau jelas tau itu Bastian,"
"Apa aku mengganggu mu?"
"Tidak."
"Aku akan mandi di atas kau boleh menungguku disini."
"Tentu." Jawabnya sangat lembut bukan seperti Bastian yang biasanya.
Beberapa saat berlalu, aku memakai piyama lengan panjang berwarna biru muda, bercorak bunga-bunga kecil berwarna pink pastel.
Aku turun dari lantai atas dan melihat Bastian masih duduk di posisi yang sama, itu membuatku agak sedikit takut. Bastian adalah pria yang Impulsif dan suka seenaknya, dia tak cocok jadi pendiam seperti ini.
Aku duduk agak jauh darinya, entahlah perasaan tak nyaman masih terbawa sampai saat ini padahal Nuray tak ada di antara kami.
"Kau belum mengeringkan rambutmu dengan benar, kau memang seperti anak kecil." Ucapnya.
"Aku memang akan mengeringkannya disini." Bantahku.
"Dimana Hairdryer nya?"
"Di laci kabinet di bawah Tv."
Aku memang sering mengeringkan rambut di sofa ini mengingat rambutku yang lumayan tebal sangat lama kering. Jadi aku memilih mengeringkannya sambil menonton Tv. Jadi Hairdryer pun selalu berada di laci itu.
"Dekatlah kemari biar aku yang akan mengeringkannya untukmu."
Aku agak canggung ingin menolak tapi Bastian sudah memegang Hairdryer itu di tangannya.
Aku akhirnya hanya patuh duduk di lantai, dan Bastian duduk di sofa sembari mengarahkan udara hangat dari hairdryer itu kesana kemari di kepalaku.
Kami tak banyak bicara, dan suasana sudah semakin kikuk dari tadi. Hanya ada suara pengering rambut, hening dan membuatku serba salah.
"Aku minta maaf." Akhirnya suara Bastian memecah kesunyian.
"Untuk apa?"Jawabku masih ketus.
"Untuk apa saja yang membuatmu tak nyaman saat bersamaku."
Intonasi suara Bastian sangat rendah dan lembut membuat ku luluh dan tak tega. Benar-benar seperti suara anak kucing yang merengek di telingaku.
"Apakah aku berhenti saja jadi sekretaris mu?" Ucapku dengan setengah hati.
Suara Hairdryer itu berhenti, begitupun gerakan tangan Bastian.
"Mengapa kau mengatakan itu?? Apakau sudah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik dari menjadi sekretarisku?"
"Tidak, mana ada pekerjaan sebaik ini di dunia. Kau memberiku segalanya, kau mengangkatku dari tanah berlumpur dan memberiku kehidupan yang layak. Bagaimana aku punya hati menghianatimu Bastian."
"Lalu apa maksud ucapanmu tadi Emma?"
"Aku hanya merasa kau sangat nyaman dan cocok bersama Nuray, aku seperti tak terlalu di butuhkan lagi saat berada di dekat kalian."
"Jadi ini karna Nuray?"
"Bukan, aku tak bilang begitu.. Nuray anak yang cerdas dan dia juga temanku. Aku hanya merasa kau membutuhkan orang yang seperti dia. Aku hanya merasa tak percaya diri di bandingkan kalian berdua yang bekerja sangat keras."
"Kemarilah duduk di sampingku."
Seperti biasa aku selalu sangat patuh,
"Di mana kau menyimpan kotak obat?"
mengapa tiba-tiba ia menanyakan kotak obat?
"Apakau sakit Bastian?"
Bastian menggeleng selagi mengambil kotak obat itu, kemudian dia duduk di sampingku.
"Letakkan kedua kakimu disini." Bastian mengisyaratkan dengan menepuk pahanya.
Hah? Apa maksud dari pria ini.
"Ayolah Emma, jangan banyak berfikir."
Dengan ragu aku pun patuh lagi padanya.
Bastian mengambil salep antibiotik, ia mengoleskannya di tumitku yang lecet.
"Kau tau Emma, kau selalu sibuk memikirkan orang lain. Terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri, seharian kau bekerja keras menyelesaikan segala persiapan rapat dengan klien. Sampai kau tak merasakan lagi kaki mu yang mulai memerah."
Bastian bicara selagi menempelkan plaster luka di bagian yang sudah ia olesi salep antibiotik tadi.
"Aku akui Nuray memang cerdas, kinerjanya terbaik di divisinya. Ia juga teliti dan cepat tanggap. Aku tak bisa memungkiri itu."
Bastian memuji Nuray di depanku, hatiku seperti sedang di tampar berulang kali.
"Tapi kau tau? Seorang wakil presiden yang cerdas dan bertalenta sekalipun tak akan bisa menggantikan seorang sosok presiden yang sebenarnya."
"Kau harus tau seberapa pentingnya dirimu di posisi itu Emma, Nuray mungkin cerdas tapi tak segigih dirimu yang selalu berusaha keras sampai melupakan rasa sakit di kaki ini."
"Nuray hanya menyiapkan segala yang akan kau presentasi kan, tapi orang yang menyelesaikan semuanya dengan tuntas adalah dirimu. Kau juga memastikan apa yang di kerjakan Nuray harus sempurna, Nuray tak akan bisa menggantikan totalitas kinerjamu selama ini."
"Jadi.. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, dan jangan remehkan kemampuan dirimu sendiri Emma."
Aku meresapi ucapan Bastian selagi memandangi luka lecet yang sudah di plaster dengan baik itu.
Bastian mengusap lembut pipiku seperti biasa, ucapannya memang selalu menjuarai hatiku. Mendengarnya seperti itu sangat menenangkan, selalu bisa membuat hatiku senang.
"Aku minta maaf jika sikapku kekanak-kanakan, tapi aku merasa sikapmu aneh belakangan ini. Kau membiarkan Nuray menempel padamu terus menerus dan membuatku seperti udara yang lewat begitu saja."
Aku jadi kesal lagi mengingat 3 hari yang menjengkelkan itu. Itu sangat menyakitkan.
Bastian tersenyum dan mencubit lembut pipiku.
"Aku sengaja melakukannya, aku ingin melihat reaksimu Emma. Aku pikir kau akan berjuang memperlihatkan statusmu di depan Nuray, tapi kau malah cemburu."
Cemburu? Aku???
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak Bastian, aku tidak cemburu sama sekali. Lagipula kalau kau menyukai Nuray aku tidak keberatan. Aku tak secantik dan sepintar Nuray, jangan beralibi seakan kau mengujiku."
Aku membuang wajahku kearah lain, hatiku mendadak panas tak tau mengapa. Perasaan ini tak bisa di jelaskan.
"Apa kau rela jika aku bersama Nuray," Ucapan Bastian seperti sedang menyelidiki ku.
Dan entah kenapa bibirku terkatup tak bisa menjawab pertanyaan Bastian.
"Kau masih berfikir aku menganggap mu adik?"
Akhirnya mataku tergelitik melihat wajah Bastian. Memastikan apakah kalimat selanjutnya yang akan ia katakan.
"Aku mencintaimu seperti layaknya pria dan wanita, aku menantimu setiap hari seperti kekasih yang meridukan wanitanya."
Bastian meraih tanganku dan meletakan itu tepat di dada kirinya. Aku bisa merasakan kerasnya debaran jantung Bastian, jantungku pun ikut berdebar. sejenak keheningan menyelimuti suasana yang tiba-tiba menjadi sangat manis.
Aku rasa, aku dan Bastian memiliki perasaan yang sama.
.
.
.
.
.
Happy reading 😉