
Kau dan aku... Kita sempat punya ikatan kecil yang sedikit rumit."
"Kita? Kau... dan aku?" Jawabku spontan.
Pria itu mengangguk, seakan banyak cerita yang telah ia siapkan. Dan itu pasti sangat penting.
Rasa penasaran tiba-tiba sangat menggelitik di hati ku, ku pandang mata pria ini dengan sangat dalam. Masa lalu seperti apa yang sebenarnya di antara ayahku, kau dan aku.
"Ayahmu Raymond Evgen adalah sahabat dari ayahku, Emma. Bahkan Ibu kita pun sangat dekat dari saat kita masih belum ada di dunia ini."
"Ibumu, Rosse Edelsteen adalah wanita yang sempat ikut mengasuhku. Orang tua kita dahulu sempat membangun bisnis bersama, bisnis itu sempat sangat berkembang hingga kemudian kau lahir."
Entahlah rasanya asing mendengar kisah baru yang tak pernah ku bayangkan sedikitpun akan keluar dari mulut seseorang yang bahkan tak ku kenal sebelumnya, kisah yang membuat otakku bekerja lebih keras lagi untuk mencerna.
"Waktu pertama kali melihatmu kau sangat kecil, tanganmu yang mungil itu tidak lebih dari 2 ruas jariku. Aku yang saat itu berusia 5 tahun tak akan bisa melupakan hal paling menakjubkan dalam hidupku. Kau seperti malaikat kecil yang begitu rapuh.."
"Kemudian saat kau di beri nama oleh ibumu, Emma.. Wajahmu yang sangat cantik dan mirip sekali dengan Bibi Rosse maka paman Raymond memilih nama belakang Bibi Rosse sebagai nama belakang mu, Emma."
"Perlahan kau tumbuh, merangkak, berjalan lalu semakin cengeng. Kau juga sangat suka berlari di umurmu 2 tahun, saat itu aku benar-benar kesal karna setiap kau jatuh maka aku yang akan di salahkan oleh ibuku karna kurang memperhatikan mu Emma. Padahal aku hanya bocah laki-laki berumur 7 tahun yang ingin bermain.. bukan menjaga bayi."
Bastian, pria ini menceritakan tentang diriku dengan senyum bahagia yang indah. Apakah aku begitu penting baginya?
"Semua tampak seperti surga, keluarga kita.. Hingga hari di mana kecelakaan itu merenggut semuanya, orang tuamu dan juga orang tuaku.."
"Jadi?" Aku terkesiap.
"Bukan hanya paman Raymond dan Bibi Rosse yang pergi Emma, orang tuaku pun ikut menjadi korban kecelakaan na'as itu. Dan karna usiaku yang masih terlalu muda belum bisa menangani semua, aku kehilangan dirimu yang masih sangat kecil.. Padahal kau satu-satunya yang selamat tapi karna ketidak mampuanku, akupun kehilangan dirimu Emma.."
Bulir air mata mengalir di ujung mata berwarna kehijauan itu. Pipi ku pun basah, seperti sihir kesedihan tiba-tiba datang tanpa permisi.
" Bertahun-tahun aku mencari keberadaamu, saat aku tau keberadaan pasti kau ada di negara ini aku tak henti mencarimu. Alih-alih mengembangkan perusahaan, aku tak pernah berhenti mencarimu Emma."
"Mungkin karna Tuhan mulai mengasihiku, kau tiba-tiba datang menghampiriku."
"Seandainnya kau tau saat pertama kali melihat tanda pengenalmu? Aku menangis sejadinya, bahkan Harold sangat panik saat itu. Aku langsung berlari mencari mu tapi kau sudah tak ada lagi di sekitar Caffe itu. Aku merasa sangat sial melepaskan mu begitu saja.."
"Tapi syukurlah kau menghubungi Harold di saat kami kehilangan jejakmu Emma, Harold melarangku untuk bertindak gegabah. Padahal saat itu batinku sudah meronta-ronta untuk menjemput mu."
"Sesaat setelah berhasil mengontrol diri, aku serahkan semua pada Harold. Lagi pula tanda pengenalmu sudah memberikan banyak informasi."
"Dan kau pun datang dengan cuma-cuma kepadaku... Saat melihatmu, entahlah setelah bertahun-tahun lamanya berharap menemukanmu, dan saat kau ada tepat di depan mataku.. Aku malah tak tau harus melakukan apa. Dan aku pikir melakukan semua secara perlahan akan lebih baik.."
"Benarkah?"
"Aku tak akan membohongi mu Emma,"
Entah nyata atau tidak, air mataku tak bisa terbendung walau aku mencoba menghapusnya berkali-kali.