My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
27.



"Bastian, apakah kau sudah biasa mengatakan hal-hal manis begini ke semua perempuan? Kau terdengar sangat lihai mengatakan sesuatu yang bisa membuat hati perempuan jadi berbunga-bunga."


Bastian lalu menatapku dan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mengerti apa maksud dari ucapan mu tapi kalau ucapanku membuat hati perempuan yang ada di hadapanku ini berbunga-bunga, aku cukup puas dengan hasilnya."


Dia memang bajingan tengik yang membuat apapun senjata yang ku keluarkan berbalik pada diriku sendiri.


Aku bermaksud sedikit menyinggungnya, malah sekarang aku yang merona di buatnya.


"Ceritakan sebuah kisah pengalaman mu dengan salah satu wanita yang pernah kau kencani." Aku masih tak ingin kalah, sekali saja aku ingin tau tentang kehidupan pribadinya.


"Apa yang ingin kau dengar dari kehidupan pribadiku, begitukan?"


Bastian melipat tangannya di dada dan menyenderkan tubuhnya di kursi. Begitu alami dan tanpa beban padahal ia sudah tau persis dan membaca semua isi dalam kepalaku.


"Sedikit saja, bolehkah aku tau?"


Pria itu melepas nafasnya dengan kasar dan menatap persis ke dalam mataku.


"Aku tak punya kehidupan yang manis seperti itu Emma. Di usia ku yang sekarang dan dengan hasil yang sudah kudapatkan, kau pikir aku punya waktu untuk memikirkan tentang percintaan."


Aku semakin penasaran dengan mimik wajah Bastian yang semakin serius.


"Wanita yang mendekatiku pun berhamburan dengan sendirinya saat mereka tau aku begitu menggilai pekerjaanku."


"Apakah kau yakin tidak ada satu wanita pun, kau kaya raya setidaknya pasti banyak wanita yang menggilai mu."


"Yang sebenarnya adalah, bukan tentang wanita-wanita itu. Tapi tentang diriku sendiri, aku akan merasa bersalah jika aku menerima hati mereka tapi hatiku tetap bertahan pada satu hati yang lain."


"Satu hati yang lain? Kau menyukai seorang? Lantas mengapa kau tak mengejarnya?"


Bastian tersenyum miring, membuang muka dan menahan tawa.


"Mengapa kau sangat penasaran tentang kehidupan pribadiku? Kau mulai merasakan sesuatu terhadapku Emma?"


Apa? Dia langsung menyerangku dengan topik lain.


Aku lantas menjadi kesal.


"Baiklah jika kau begitu penasaran aku akan menceritakan sebuah kebenaran, aku harap kau percaya dan siap untuk menerima hal apapun yang akan terjadi kedepannya dengan kita berdua. Karna aku tidak yakin setelah menceritakan semua itu aku bisa menahannya lebih lama lagi Emma."


Aku menenggak saliva, tatapan Bastian terlihat semakin menikam dan aneh. Aku merasakan ada getaran yang tak bisa ku pahami, dan tatapannya bercampur dengan hasrat dan arti lain.


Tubuhku pun seperti bisa merespon apa maksud dari tatapan Bastian, seperti magnet yang tarik menarik. Aku merasakan percikan listrik yang tiba-tiba mengalir di sekujur tubuhku.


Ini semakin terasa aneh, aku tak nyaman sekaligus menyukai tatapannya. Entah berapa lama waktu yang terlewati, tapi aku hanya diam dan terhanyut kedalam tatapan dari pria yang tak ku pungkiri memiliki wajah dan mata yang indah ini.


"Setelah kepergian kedua orang tua kita karna kecelakaan itu, hal yang juga paling membuat ku terpuruk adalah kehilangan dirimu Emma. Setahun lamanya aku di diagnosa menderita penyakit mental, aku selalu sakit-sakitan. Hingga aku menerima kabar bahwa kau telah diadopsi oleh keluargamu, hanya itu kabar terakhir yang kudengar."


"Setelah mendengar itu aku tersadar ada kau di tempat lain yang juga merasakan hal yang sama, mungkin kau sedang menangis mencari Ibu dan Ayah mu. Pasti kau juga menderita seperti aku, saat itu aku memutuskan untuk menjadi kuat."


"Aku akan mencari mu, dan saat aku sudah menemukan mu nanti aku akan menceritakan kisahku dan membuatmu menjadi lebih kuat. Aku berjanji pada diriku sendiri saat itu, dan bersumpah atas nama Ibumu dan Ibuku akan terus mencarimu. Walau semua itu tak mudah dan benar-benar melewati kisah yang rumit dan panjang."


"Aku dengan gigih membangun bisnis yang telah orang tua kita bangun bersama, setiap hari berkata pada diri sendiri tidak ada jalan agar bisa menemukanmu selain memiliki banyak uang."


"Aku berpindah dari satu kota kekota lainnya, alih-alih membangun bisnis aku selalu mencarimu di kota manapun. Sampai akhirnya aku menemukan kota ini di mana informasi yang paling akurat mengatakan kau ada disini, aku membangun perusahaan dengan berharap suatu saat kau muncul dari manapun."


"Selama aku hidup satu-satunya perempuan yang selalu menjadi tujuan dan yang selalu aku fikirkan adalah dirimu Emma. Adakalanya seorang gadis mendekatiku, maka aku akan berfikir bagaimana jika gadis itu adalah dirimu. Dan aku tak bisa membahagiakan dia karna aku selalu memikirkan orang lain dihatiku. Aku akan merasa sangat bersalah Emma.."


Kata demi kata yang di ucapkan Bastian seperti angin di musim panas yang menyejukan hatiku. Bolehkah aku mempercayai setiap ucapannya, adakah pria yang begitu tulus sepertinya. Ini sisi yang bahkan tak pernah ku bayangkan ada dalam sosoknya.


"Kau hanya seorang anak kecil saat itu dan aku bahkan tidak mengingat sosokmu di masa lalu Bastian. Bagaimana aku bisa begitu berarti bagimu sampai kau menyimpan ingatan tentang diriku dalam waktu yang sangat lama?"


"Kau cinta pertamaku Emma."


Aku menahan sesak mendengar ucapan Bastian yang dengan mudahnya ia lontarkan begitu saja. Mengapa ia bisa mengucapkan hal yang seperti itu tanpa beban sama sekali.


"Mungkin bagimu ini konyol, saat itu kau dan aku masih sangat kecil. Tapi bagiku yang tak punya teman sama sekali bahkan menjalani waktu dan waktu dengan kesepian. Orang tua kita hanya membahas bisnis dan pekerjaan, dan aku tak mampu bergaul di sekolah dengan baik. Lalu kau muncul, seperti malaikat kecil. Walau kau awalnya hanya menangis,minum susu lalu tertidur, bagiku kau satu-satunya pelipur laraku."


Memang sulit bagiku mengerti tapi, melihat raut wajah Bastian aku tau itu bukanlah hal yang kecil baginya. Pasti ingatan itu sangat membekas baginya, dan ingatan itu pasti sangat indah dan berharga.