My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
28.



"Walau mungkin waktu 3 tahun itu sangat sebentar, tapi aku ikut menjadi bagian yang menyaksikan tumbuh kembang mu. Aku jatuh cinta saat melihatmu tersenyum, saat pertama kali gigimu tumbuh bahkan langkah pertamamu baru di mulai."


Bastian menceritakan itu sembari tersenyum manis, wajah yang seperti itu sangat tak biasa. Sekarang aku bisa menyaksikan wajah yang penuh dengan binar itu.


Aku tak pernah mendengarkan kisah masa kecilku dari siapapun, dan sekarang aku bisa mendengarkan kisah itu dari Bastian. Dulu aku ingin punya cerita semacam itu, seperti apakah saat masih bayi dan aku ingin mendengar di umur berapakah aku bisa berjalan dan bicara.


Aku hanya mendengar kisah orang lain. tak punya kisah yang seperti itu. Dan Bastian menceritakannya seperti dialah orang tuaku.


Baiklah, sekarang aku sangat memahami Bastian mengapa selama ini kau sangat posesif. Kau hanya ingin melindungiku.


"Aku mencintaimu Emma, dari dulu bahkan sekarang."


"Aku memahami mu Bastian, tapi aku juga memahami cinta yang kau maksud adalah cinta seorang Kakak pada adiknya. Aku juga akan belajar mencintaimu sebaik itu.."


Bastian mengerutkan kedua alisnya, apa yang ku katakan salah?


"Emma, kau salah memahami maksudku Emma.." Bastian menjawab dengan sedikit tergesa-gesa.


Rrrrr...


Handphone ku bergetar, panggilan telfon dari Bibi Agatha.


" Iya Bibi?"


"Emma, Pamanmu harus di oprasi malam ini juga. Tadi mendadak pamanmu kejang dan pingsan."


"Astaga, tenanglah Bibi aku akan segera kesana."


"Baiklah sayang, Bibi akan menunggumu."


Aku langsung berdiri dan di saat yang sama Bastianpun melakukan hal yang sama.


"Ada apa Emma?"


"Paman Anthony harus di operasi malam ini, aku harus menemani Bibi Agatha,, Bastian."


"Baiklah aku akan mengantarmu."


Pikiranku mendadak kacau sekarang, semoga Paman baik-baik saja. Tuhan, aku mohon lancarkanlah operasi Paman Anthony.


****


Begitu melihat Bibi Agatha yang tertunduk lesu di kursi tunggu ruang operasi aku langsung mempercepat langkah, Bibi yang menyadari kedatangan kami langsung berdiri. Aku langsung memeluk Bibi dengan erat, aku harap bisa menenangkan hatinya yang tersirat sangat tak baik-baik saja saat ini.


"Apakah kau sehat sayang, maaf Bibi menghubungimu malam-malam begini."


"Tentu Bibi harus menghubungiku kapanpun Bi, bagaimana dengan Paman Anthony?"


"Masih di dalam, Dokter belum memberitahu bagaimana kondisinya. Semoga Pamanmu berhasil melalui operasi ini, Bibi sangat khawatir."


"Paman pasti kuat Bibi.."


Sejenak setelah saling melepas pelukan mata Bibi Agatha tertuju pada Bastian yang sedari tadi berdiri di belakang kami.


"Boss mu mengantarmu kesini Emma?"


"Ah..Iya Bibi tadi aku sedang bersamanya saat Bibi menelfon."


"Maafkan saya kalau mengganggu pekerjaan anda Tuan Linford."


"Tentu tidak, sebenarnya kami sedang makan tadi. Aku rasa ini sangat mendesak dan berinisiatif mengantarkan Emma kesini."


"Anda sangat baik Tuan Linford, terimakasih banyak sudah meluangkan waktu anda ikut kemari."


"Tidak masalah sama sekali Bibi, lagi pula Emma adalah sekretaris ku. Aku bertanggung jawab penuh untuk itu."


"Tentu Tuan Linford, sekali lagi saya ucapkan terimaksih untuk semua yang anda lakukan kepada kami. Atas perawatan suami saya dan rumah yang layak untuk Emma. Saya tidak akan bisa membalasnya sampai kapanpun."


"Jangan berkata begitu Bibi, keluarga Emma adalah keluargaku. Yang terbaik untuk Emma adalah yang terbaik bagiku juga. Kau tidak perlu sungkan ataupun merasa tidak nyaman, semua yang kau butuhkan akan dengan senang hati ku berikan semampuku Bibi."


Ah Pria ini, mengapa mulut manisnya tak mengenal tempat. Bibi pasti bertanya-tanya padaku nanti mengapa Boss sepertinya sangat baik padaku.


"Bibi, apakah sudah makan?" Tanyaku memotong pembicaraan mereka dengan cepat, agar ucapan Bastian tidak meninggalkan kesan yang lain di hati Bibi Agatha.


"Bibi sama sekali tidak lapar sayang.."


"Bibi tunggu sebentar aku akan membeli Kopi hangat dan beberapa kudapan di bawah."


Bibi mengangguk pelan,


"Tolong temani Bibi sebentar Bastian."


"Baik, kau pergilah dan hati-hati."


"Tentu."


Aku segera melangkah pergi, cepat mengambil gawaiku dan mengirim pesan pada Bastian.


"Bibi belum tau apapun tentang hubungan kita, aku mohon jangan mengatakan apapun padanya saat ini."


Aku harus memberi garis merah untuk tindakan Bastian, dan dia tidak boleh melewati garis itu pada Bibi.


Lagi pula akan terasa aneh bagi Bibi memahami kisah antara aku dan Bastian saat ini, mengingat kondisi Paman Anthony dan beberapa hal yang harus di bicarakan dengan hati ke hati.


Mengenal sosok Bastian yang cenderung Impulsif dan terus terang, aku yakin ini akan mengejutkan. Suatu saat aku akan memberitahu Bibi tapi bukan saat ini.


Setelah membeli beberapa kudapan dan 3 gelas kopi hangat aku kembali, pemandangan yang tak biasa. Aku melihat Bibi tertidur di kursi tunggu, di balut jas milik Bastian.


Bastian dengan sigap menempelkan telunjuknya di bibir. Isyarat agar langkahku lebih perlahan.


Aku menaruh kudapan dan kopi yang kubeli tepat di samping Bibi. Bastian meraih tanganku dan membawaku mengikuti langkahnya dengan perlahan.


Tak jauh dari ruang tunggu,


"Saat kau pergi seorang dokter berkata pada kami, bahwa operasi Pamanmu akan memakan waktu yang lama. Jadi aku meminta Bibimu tidur dan akan segera membangunkannya saat kau datang, tapi sepertinya aku tak tega melihatnya kelelahan."


"Bibi pasti kelelahan, kalau begitu kita biarkan saja. Nanti saat dia bangun aku akan membeli Kopi hangat yang baru. Apa kau tidak mengantuk Bastian, kau baru pulang dari perjalanan bisnis dan belum tidur sama sekali. Kau tidak lelah?"


"Aku tidur saat di pesawat, kau tidak perlu khawatir."


"Tapi itu hanya 2 jam apakah kau tidak lelah? Pulanglah.. Aku akan menemani Bibi Agatha."


"Tenanglah setelah paman Anthony keluar dari ruang operasi aku akan pulang."


Aku menggangguk setuju.