My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
22.



"Apa ini Bastian, mengapa pesan makanan sebanyak ini, kau lapar?"


"Ini bukan untuk ku, aku masih kenyang."


"Ini semua untuk ku?"


Pria itu mengangguk jelas.


"Bagaimana aku bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?"


"Kau makan pelan-pelan aku akan menunggumu."


"Hentikan ini Bastian, lama-lama aku bisa kesal."


Pria ini malah tersenyum puas menanggapi reaksiku.


"Silahkan, aku ingin lihat bagaimana caramu melampiaskan kekesalan itu padaku."


Aku merinding melihat reaksinya, ku tancapkan garpu pada steak yang disiram saus barbeque itu. Tampa ku potong langsung ku gigit begitu saja di hadapan pria menyebalkan ini, aku mengunyahnya dengan kasar selagi mataku membulat ke arahnya. Aku benar-benar marah, dan dia tau benar aku tak bisa berkutik di hadapannya.


Aku bertambah kesal saat Bastian malah menopangkan tangan pada pipinya, dan tersenyum senang melihatku.


"Kau tau Emma, kau terlihat sangat cantik saat sedang makan."


Cih! Ucapan konyol macam apa itu. Aku membuang muka di hadapannya, ekpresi kesal tak kuasa terbendung dan ku perlihatkan begitu saja. Masa bodoh.


"Dan kau bertambah cantik saat sedang marah."


Rasa geli sudah menggeliat di ujung perutku mendengar satu kalimat hiperbola keluar lagi dari mulut pria menyebalkan ini.


"Bisakah kau berhenti menggodaku Bastian, aku sedang berusaha menelan semua ini sebisaku. Dan sekarang aku mulai mual mendengar ucapan mu."


"Hahaha....."


Bastian malah tertawa pecah.


Tuhan, tolong aku mulai gila menghadapi pria ini.


"Mengapa kau sangat suka menggodaku?"


"Kau sangat menghiburku Emma, kau seperti boneka bayi yang sangat menggemaskan."


Astaga, begitukah aku di matanya?


"Apa kau begini kesemua sekretaris mu Bastian?"


"Tidak," Wajah Bastian datar seketika.


"Aku hanya bercanda, Harold sudah menceritakan tentang semua sekretaris mu dulu padaku."


"Cerita apa lagi dia?"


"Tidak, hanya itu.."


"Kau adalah kau Emma, jangan samakan dirimu dengan orang lain. Lagi pula kita punya kisah yang tak akan orang mengerti dan perlakuanku tidak sebaik ini ke kesemua orang, bukan hanya pada perempuan-perempuan yang sudah ku pecat itu. Kau punya bagian yang sangat penting di hidupku."


Deg! Ucapan Bastian membuat jantungku berdebar.


Apakah maksud debaran ini? Aku tak bisa menafsirkan apa maksud dari ucapannya.


"Selesaikan makanmu aku akan memberi pelajaran penting hari ini."


"Pelajaran penting?"


Apalagi ini,


"Kau akan tau nanti."


****


"Tidak Bastian, jangan lakukan ini!"


"Kau harus melakukannya."


"Aku tak akan sanggup Bastian!"


"Kau bisa Emma,"


"Mengapa kau selalu begini, kau selalu memaksakan apa yang kau mau."


"Apakah kau berfikir aku begitu?"


"Ya, kau selalu begitu khususnya padaku!"


" Kalau begitu kali ini aku meminta padamu, tolong duduk di kursi kemudi Emma."


"Kau paling tau keadaanku Bastian tapi mengapa kau malah melakukan ini."


"Jika kau mau menurut nanti kau akan tau apa maksudku memintamu melakukan ini."


"Aku mohon,"


Wajahku benar-benar sudah mengiba pada iblis ini tapi dia benar-benar tak mundur sama sekali, mengapa dia memintaku belajar mengemudi padahal dia tau hanya duduk saja selama ini di dalam mobil sudah sangat menyesakkan bagiku.


Aku tarik pikiranku tadi, hampir saja aku pikir aku berdebar dan menilainya orang yang istimewa ternyata sikap manisnya hanya jebakan.


"Sekali saja, kali ini kalau kau mau belajar mengemudi aku akan memberi tahumu hal yang sangat penting. Aku mohon.."


"Kau pasti mau menipuku Bastian!"


"Ini tentang orang tua kita, ini tentang kecelakaan itu. Ada hal besar yang harus kau ketahui."


Benarkah? Apa ini hanya triknya atau ah tidak, aku harus tau kalau ini tentang orang tua ku.


"Apa kau mau berjanji tidak akan menipuku?"


"Aku tidak pernah menipu mu Emma, kalau pun itu harus ku lakukan pasti demi kebaikan mu."


Benar, dia tak pernah berniat buruk selama ini padaku. Terlalu terlambat kalau aku berfikir dia begitu, selama ini aku selalu menebak-nebak maksud hatinya.


"Baiklah, lagi pula aku tak punya pilihan lain selain percaya padamu Bastian."


Ku tatap mata Bastian dengan penuh keyakinan. Selain pria ini aku tak punya hal lain yang menjadi peganganku.


Tak lama kami bertukar posisi, aku sudah di posisi kemudi. Sial, aku tak tau apapun tentang mobil.


"Aku tau kau pasti gugup, yang perlu kau lakukan hanya percaya padaku. Dengarkan apapun yang ku katakan, fokus. Kau pasti bisa Emma."


30 menit pun berlalu,


"Maaf Bastian yang aku lakukan hanya merusak mobilmu.."


Tangan dan kakiku masih terasa kebas karna terlalu tegang, dan pahaku sepertinya sangat sakit. Aku mandi keringat padahal AC mobil ini sangat dingin.


"Mobil rusak bisa di perbaiki, kalau pun tidak.. bisa di beli kembali. Tapi rasa trauma mu selama bertahun-tahun kalau kau tidak mulai mencoba mengobati, kau akan selalu tersiksa dan hidup dengan kelemahan Emma."


Aku sama sekali tak bisa menjawab ucapan Bastian, entahlah.. Karna ucapannya memang benar atau itu ucapan yg selama ini ingin aku dengar dari siapapun.


Hidup dengan trauma itu adalah penyiksaan yang tiada akhir, dan aku terjebak tak tau harus melakukan apa. Dengan kondisi keuangan ku dulu, jangankan ke psikiater. Untuk melanjutkan hidup saja rasanya aku kadang hampir menyerah.


Tapi pria ini, mengapa ia begitu peduli padaku? Apakah mungkin hanya karna masa lalu kami? Apakah yang ada di benaknya? Aku selalu ingin bertanya apa arti aku dalam hidupnya.