My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
56.



Tok Tok!


Aku mengetuk pintu, dan mendengar Bastian mempersilahkan masuk. Aku yang sudah menggunakan wig dan kacamata hitam gelap dan memoles bibir sangat merah pun masuk. Tak lupa rok mini yang sangat menggoda kupakai agar penyamaranku semakin terlihat nyata.


Aku tak berani bersuara karna jika ku lakukan pasti Bastian mengetahui penyamaranku. Dengan memberikan beberapa lembar dokumen yang harus di tanda tangani aku menyodorkannya langsung pada Bastian.


"Apakah ini laporan pengeluaran bulan ini yang sudah di periksa Manager utama?" Ucapnya tampa melihatku.


"Hem," Jawabku.


Bastian lantas mengalihkan pandangannya yang tadi serius melihat dokumen dan kini menatapku. Tatapannya sangat membunuh.


"Apa kau staf baru?" Tanyanya lagi.


Aku hanya mengangguk.


"Tak peduli bagaimana style dan gaya busanamu, bersikaplah sopan dengan melepas kacamata hitam saat di kantor." Ucap Bastian dingin.


Haduh bagaimana ini, aku belum menggodannya tapi sudah ketakutan setengah mati.


"Ma..mata saya sedang sakit Pak!" Ucapku dengan suara yang di buat-buat. Aku harus semaksimal mungkin walau sudah sangat berusaha keras.


"Sakit? dan suaramu?"


"Flu."


"Kalau kau sakit, lebih baik tidak memaksakan diri untuk bekerja. Laporlah pada bagian HRD dan minta izin cuti beberapa hari."


Aku menggangguk lagi. Bastian lantas kembali fokus menandatangani dokumen-dokumen itu. Aku akhirnya mencoba melancarkan aksiku, mendekati Bastian dan mengusap bahu lalu kepunggungnya.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Bastian tegas.


Aku hanya menggeleng, seakan barusan tak melakukan apapun. Bastian seperti sengaja membiarkan itu, dan melanjutkan menandatangani lagi dokumen-dokumen tadi.


Ku letakan kaki kiriku masuk kedalam pangkuan Bastian, dan tanganku merangkul lehernya.


"Aku tak pernah ingin menyakiti perempuan, tapi jika kau benar-benar sudah melakukan hal di luar batasanmu, maka aku tak akan pernah memberi toleransi."


Bastian lantas melepaskan dekapanku, dengan cepat kini ia telah mencengkram kedua tanganku dari belakang dan membuatku tak bisa bergerak.


"Siapa yang menyuruhmu?" Bentaknya.


"Bastian, ini aku Emma... Aww!" Cengkramannya semakin menyakitkan.


"Emma??"


Bastian lantas melepaskan cengkramannya dan membalikan tubuhku ke arahnya. Bastian dengan cepat membuka kacamata hitam yang sedari menempel di hidungku, dan melepas nafas kasar dengan raut yang sangat kesal.


"Kau benar-benar Emma, lihat! Apa yang sudah kau lakukan. Bertindak konyol dan membuatku menyakitimu."


"Kau sangat dingin dan kasar ternyata, lihat pergelangan tanganku merah bekas cengkramanmu." Keluhku.


"Biar ku lihat? Apakah itu memar?"


Bastian menarik ku perlahan ke arah sofa, setelah duduk ia memeriksa pergelangan tanganku yang ternyata memang memar. Begitu kuatnya Bastian, aku pikir tak mudah bagi wanita manapun bisa mendekatinya kini.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal konyol seperti ini, lihat rok ini? Bagaimana kalau ada pria lain yang melihatnya. Kau benar-benar Emma!"


"Tadinya aku hanya ingin memberimu kejutan, tapi belum apa-apa kau sudah sangat menakutkan."


"Jadi ini kejutan??" Raut Bastian seketika berubah.


"Hem, kau lihat aku sudah sangat berusaha keras agar kau tidak mengenaliku."


Pfft..... Wajah Bastian yang menahan diri untuk tidak tertawa sangat menjengkelkan.


"Kau terlihat seperti badut," Ucap Bastian sembari menyentil dahiku lembut.


"Sekarang kejutannya sudah gagal," Desahku.


"Baiklah ini salahku, harusnya aku membiarkan wanita aneh tadi menodai tubuhku dan memberiku ucapan 'Suprise aku Emma!!' bukan begitu??"


Pffft..! Dan kini aku yang menahan gelak tawa mendengar ucapan Bastian.


"Kau semakin mengesankan Emma." Senyum Bastian merekah.


"Aku memutuskan untuk kembali menjadi sekretarismu."


Bastian yang tadi tersenyum kini memasang wajah serius dan membulatkan matanya seakan yang di dengarnya adalah hal yang mustahil.


"Benarkah???" Ucapnya seakan tak percaya.


"Ini adalah inti surprisenya." Jelasku lagi.


"Sungguh??"


Aku mengangguk keras menyakinkan lagi apa yang ada dalam benak Bastian.


Bastian lantas mendekapku erat, sangat erat sampai rasanya aku sulit bernafas dan memukul-mukul pundaknya.


"Bastian, aku tak bisa bernafas!" Pekikku.


"Maaf, aku terlalu bersemangat karna bahagia."


"Apakah kau sebahagia itu!?"


"Bukannya malah bosan kalau bertemu setiap hari?"


"Sebaliknya, aku selalu merasa bosan bila tak bisa melihatmu setiap hari."


"Kau sangat pandai berucap manis!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya Emma."


"Baiklah aku percaya."


"Bolehkah aku menciummu?"


"Tentu, setelah aku menghapus lipstik merah ku ini."


"Jangan!!"


"Kenapa? Bukannya kau bilang aku seperti badut?"


"Kau memang seperti badut, tapi aku tak bilang kalau itu jelek. Kau badut yang paling menggemaskan yang pernah ku lihat."


"Kau selalu saja berhasil membuatku tersipu,"


"Aku suka kau yang tersipu, sangat cantik."


Bastian lantas membenamkan bibirnya kedalam bibirku, menjejalkan semua hasratnya membuatku terbuai dengan segala kelebutan yang ia tawarkan.


Sejenak aku melepaskan tautan dan menatap ke kedua curuk mata Bastian.


"Bastian, jika kau tidak keberatan aku mengundangmu untuk menginap di apartemenku nanti malam."


Bastian lantas tersenyum mengembang,


"Apa undangan ini sangat penting?" Godanya.


"Sangat penting," Balasku tersipu.


"Bagaimana jika aku menolak untuk datang?"


"Kau akan sangat kecewa."


"Aku? Mengapa aku yang kecewa?"


"Karna.. Kau akan benar-benar melewatkan malam yang sangat istimewa."


"Benarkah? Lantas apa yang akan kau suguhkan?"


"Sesuatu yang sangat ingin kau nikmati." Balasku semakin tersipu.


"Tidak bisakan kita mencobanya disini?"


Aku membulatkan mata, mencubit lengan Bastian.


"Aw, itu menyakitkan." Desah Bastian.


"Hukuman untukmu, sebelum hadiah besar nanti malam."


Aku lantas berdiri dan melangkah pergi.


"Emma!?? Kau pergi begitu saja?"


"Tentu, lagi pula aku resmi bekerja besok."


"Bukan hari ini??" Keluh Bastian lagi.


"Bukan Bastian!"


"Tak bisakah kau disini lebih lama?"


"Aku harus mempersiapkan diri untuk tamuku nanti malam." Ucapku tegas.


"Ah iya..." Jawab Bastian dan kemudian tersenyum.


Aku melambaikan tangan, dan Bastian melempar kiss bye dengan wajah nakal.


Aku hanya bisa menggeleng dan menahan senyum.


Sifatnya yang berbeda 360° saat mengetahui penyamaranku tadi, sangat menggemaskan. Tanpa sengaja aku juga membuktikan bahwa perkataan Bastian dulu bukan bualan belaka, jika ia memang sedingin itu pada wanita lain. Aku tak perlu cemas atau khawatir lagi.


.


.


.


.


.


.


.


WF❤️