My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
43.



Hari yang sangat ku tunggu akhirnya tiba setelah genap seminggu Bastian dan aku tak bisa bertemu karna jadwal kesibukan yang menjadi penghalang. Bastian sibuk dengan produk digital terbarunya yang akan segera launching, dan aku sibuk mempersiapkan segala detail yang harus di persiapkan dengan matang.


Produk digital yang sudah di gadang-gadang semua media sebagai pembaruan produk digital terbaik yang akan menjadi trend setter di kalangan melenial, tentu saja setelah banyaknya perusahaan lain yang melakukan investasi saham dengan skala besar.


Bastian sangat bekerja keras dan sangat antusias, Linford adalah perusahaan digital terbesar yang telah berkembang pesat di Barat.


"Besok kita akan sibuk,"


Aku mengusap lembut rambut Pria yang kini tengah meletakkan kepalanya di pangkuanku ini.


"Aku sangat merindukanmu sampai hampir mati.." Keluhnya selagi kedua pasang mata kami bertemu.


"Aku tau, aku juga juga sangat-sangat rindu padamu hingga awalnya aku sangat kesal dan sampai saat kita berpelukan tadi rasa yang menyiksa itu luruh bergitu saja."


"Maafkan aku, bahkan jarang menghubungimu. Aku sudah berusaha menyesaikannya secepat mungkin, tapi begitu banyak hal yang tak bisa ku kendalikan. Aku dan semua staf bekerja seperti orang gila, begitu juga kau Emma."


"Aku mengerti, jangan menyalahkan usahamu. Aku tahu kau harus profesional, dan Linford adalah segalanya bagimu. Kau tak harus minta maaf karna itu bukan sebuah kesalahan."


"Terimakasih Emma, kau sangat pengertian."


" Aku harus jadi lebih dewasa saat memiliki kekasih seorang pengusaha besar sepertimu.."


"Kau sudah dewasa, aku tau.. Walau aku sudah melewati masa-masa di mana kau tumbuh dengan begitu cepat. Tapi bagiku kau masih perempuan kecil yang selalu membuatku di marahi oleh Ibuku dulu."


"Kau masih mengingat jelas masa lalu Bastian? Aku sedih tak mengingat semua itu, bahkan satu kenanganpun saat bersamamu."


"Kau terlalu belia saat itu, dan aku mendengar trauma besar bisa menghilangkan memori seseorang. Kau sudah melewati kejadian yang begitu besar di usiamu yang masih 3 tahun, lihatlah! kau sudah berusaha keras hidup dengan baik sampai dengan saat ini Emma."


"Aku tak percaya ada kisah lain di hidupku sebelum bertemu denganmu, kau membuatku yakin bahwa Tuhan telah menyiapkan hal terindah untukku di masa depan dengan bertemu dengan mu. Dulu aku merasa mungkin aku adalah bagian dari takdir sisi dunia yang menyedihkan, kini aku merasa sisi duniaku telah berbeda karnamu."


Bastian bangkit dan memelukku.


"Aku minta maaf karna kau harus menghadapi itu, tapi aku berjanji takkan membuatmu bahagia Emma. Aku berjanji!"


Aku membalas pelukan Bastian dengan erat, ku hirup aroma tubuhnya seakan ingin menghentikan waktu, ingin terus berada dalam dekapan pria yang sangat ku cintai ini. Kami saling melepaskan pelukan dan berakhir dengan ciuman yang dalam saling mencurahkan perasaan rindu yang seakan tak ada habisnya.


Aku meleguh berkali-berkali, merasa kami semakin liar dan saling tak bisa mengendalikan diri. Bastian melepas jasnya, bukan hanya aku yang merasa suasana menjadi lebih panas dari yang sebelumnya.


Apakah ini saatnya? Apakah 'hal itu' akan terjadi malam ini? Aku berdebar tapi kesadaranku semakin hilang, rasa takutku menciut saat kewarasanku mulai pudar.


Sejenak kami melepaskan tautan, ku pandangi tubuh atletis Bastian yang kini sudah melepas kemeja miliknya.


Aku benar-benar sudah tak waras, bukannya merasa malu melihat hal yang seharusnya tak ku lihat, aku malah menyentuh dadanya yang bidang. Aku tak pernah melihat dengan nyata hal yang seperti ini, dada dan perutnya terasa keras padahal Bastian sangat sibuk. Kapan ia sempat berolah raga dan membentuk tubuhnya sebagus ini?


Lantas aku terkejut saat bastian menggenggam pergelangan tanganku,


"Jangan ragu, sentuhlah semaumu."


Rasanya kepalaku ingin meledak, tak kuat mendengar suara Bastian yang setengah berbisik.


"Apakah sedari dulu kau sudah setampan ini?"


"Apakah kau suka pria tampan?" Balasnya selagi membelai rambutku.


"Aku tidak suka, jika pria itu bukan dirimu."


Bastian tersenyum, dia menarik wajahku dan kami melakukan tautan demi tautan lagi. Aku merasa Bastian mulai melancarkan tangannya ketempat-tempat yang membuatku semakin meleguh tak karuan.


Malam terasa semakin panjang, entah apa saja yang terjadi tapi itu indah, yang teringat di benakku kami hanya berbagi ke nikma tan. Bastian tak melakukan hal yang membuatku mendorongnya pergi, ia bahkan lebih memahamiku dari pada diriku sendiri.


Aku terbangun saat Casey menghubungiku.


"Kau tidak pulang?"


"Aku bersama Bastian, maaf lupa mengabarimu."


"Kau tidur bersamanya?"


"Hemm.." Jawabku agak malu.


"Kau sudah melakukannya?"


"Apa maksudmu Casey, kami tak sejauh itu." Aku hampir berteriak tapi kemudian berbisik lagi saat melihat Bastian masih nyenyak tertidur.


"Ahh.. Aku kira kau sudah."


"Aku tak pulang dan langsung bekerja,"


"Da.. Casey."


Aku menutup ponselku, ku lihat jam masih di pukul 6 pagi. Aku tak tau harus melakukan apa, mengingat hal-hal yang sudah kami lakukan tadi malam mendadak aku malu.


Walau ada batasan dari apa yang kami lakukan, aku benar-benar merasa bahagia. Kini kali pertama aku tidur satu ranjang dengan Bastian, aku mengintip pakaianku yang sangat berantakan. Tadi malam kami benar-benar sudah gila.


"Cepat sekali kau bangun sayang."


Suara berat Bastian mengejutkanku.


"Baru saja Casey menghubungiku, aku lupa mengabarinya."


"Dia tinggal bersamamu?"


"Ya, dia ada masalah dengan ayahnya."


"Apakah Harold tau?"


"Sepertinya tidak."


"Baiklah, setidaknya sekarang ada yang menemani mu dirumah."


"Hm, Casey selalu menghiburku saat aku merindukanmu."


"Apakah sekarang kau masih rindu?"


"Tentu tidak, kau sudah mengobati rinduku."


"Apakah kita perlu melakukannya lagi?"


"Kau ingin melakukan apa?


"Sesuatu yang bisa membuatmu mengeliat dan meraung sampai menarik rambutku."


"Bastian hentikan!!" Aku lantas memukul lengan Bastian dengan sangat kuat.


"Aw! Sedikit sakit."


"Aku akan memukulmu lebih keras jika kau membahas itu lagi.."


"Baiklah, lihat wajahmu sudah seperti udang rebus.."


"Benarkah?"


Aku menyentuh berulang kali pipiku yang memang terasa agak panas, rasanya benar-benar memalukan.


"Kau sangat mengemaskan Emma, kalau seandainya sekarang kita sudah menikah aku tidak akan membiarkanmu turun dari ranjang ini sepanjang hari."


"Hentikan itu, jangan menggodaku terus.. Lagipula mengapa membahas tentang pernikahan apakah itu tidak terlalu cepat?"


"Kalau kau siap sekarangpun aku siap membawamu ke pelaminan."


Aku benar-benar kehabisan kata-kata,


"Kau memang pintar merayu..!" Ucapku kesal.


"Aku mengatakan itu bukan sekedar rayuan Emma, aku mengatakan yang sebenarnya.. Aku ingin segera menikahimu."


"Tapi aku belum siap.."


"Baiklah, kita lakukan perlahan."


Aku hanya menunduk, aku takut jawabanku menyakiti Bastian. Aku sama sekali tidak meragukan kesungguhannya, tapi menikah dengan seorang pria sehebat Bastian dengan aku wanita yang tidak punya kelebihan apapun, merasa diriku belum layak bersanding dengan Bastian.


.


.


.


.


.


Happy reading😉