My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
38.



Seminggu sejak Bastian mengumumkan hubungan resmi kami, aku benar-benar tak bisa mengubah pikirannya sama sekali.


Dia hanya melakukan sesuka hatinya, pria Impulsif yang semaunya. Walau hasilnya tak terduga, tidak adalagi yang memandangku denga tatapan aneh.


Semua orang bahkan tersenyum saat berpapasan denganku, entah itu senyum palsu atau tidak.


Aku bisa gila, dan yang paling aneh adalah cara sikap Bastian yang semakin posesif. Sebenarnya ini sangat mengganggu, hal buruknya aku tak bisa menutupi lebih lama lagi rasa sukaku yang semakin menganjal.


Tapi hubungan seperti apa yang akan terjadi nanti saat kami benar-benar menjadi kekasih yang sebenarnya, dia seorang Boss dan aku sekretarisnya. Apakah aku bisa profesional? Aku bahkan berdebar memikirkannya.


"Sedang memikirkan apa pacarku?"


Aku sampai menumpahkan kopi di tanganku, Bastian gila. Mengapa ia berbisik tepat di telingaku?


"Maaf, kau terkejut?" Ucapnya.


"Apa maksudmu masih bertanya!" Erangku.


"Kau tak menyadari kedatanganku? Apa yang kau liat di luar jendela sana.. Pemandangan kota Agithum yang sama setiap harinya, apa kau melamun?"


Aku menundukan kepala dan kembali melihat keluar jendela,


"Apa lagi yang kau fikirkan?" Tanya Bastian lagi.


"Aku hanya memikirkan tentang apa yang sudah kau lakukan Bastian, tak masalah jika semua orang menghinaku. Tapi semua orang akan menganggap remeh tentang dirimu."


"Hentikan itu, hentikan pikiran negatif yang menyulitkanmu. Percaya padaku, apapun yang terjadi semua akan baik-baik saja."


"Lalu, sampai kapan semua ini akan berlangsung?"


"Sampai kapan? Menurutmu sampai kapan kau akan menerimaku menjadi kekasihmu?"


Aku langsung mencubit lengan kekar pria yang selalu punya cara untuk menggodaku ini. Membuatnya meringis menahan sakit.


"Aku sedang serius!"


"Apa aku terlihat seperti main-main?"


"Kau bilang akan menunggu sampai aku yang menyatakan langsung padamu."


Bastian tersenyum dengan wajah teduh,


"Aku akan memberi waktu selama yang kau mau, aku akan menunggu walau kau akan menolak rasa sayangku. Dan aku akan tetap mencintaimu walau kau memilih tidak bersamaku."


Deg! Ucapan Bastian seolah mengaduk perasaanku, aku yakin ini perasaan yang sama tapi mengapa aku ragu. Mengapa aku takut menerima rasa sukanya, mengapa begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuatku terus meragu.


"Sudahlah jangan terlalu di fikirkan, sekarang aku ingin memberi tahumu bahwa aku harus ke Embriz dengan penerbangan sore nanti."


"Hah? Mengapa tidak memberitahuku lebih awal?"


"Tiba-tiba ada masalah yang sangat penting yang harus ku tangani sendiri. Kau hanya perlu mengatur ulang jadwalku untuk besok dan membatalkan beberapa pertemuan."


"Kau sangat sibuk, Bastian."


Entah mengapa aku merasa tak ingin membiarkan Bastian pergi kali ini, tapi aku tak punya alasan untuk melakukan itu. Aku ingin Bastian disini setidaknya menemaniku saat suasana perusahaan sedang seperti ini.


"Aku memang selalu sibuk Emma, tapi nanti saat kau sudah menjadi milikku. Aku akan selalu punya waktu untukmu."


"Bastian, jangan mulai lagi."


"Aku harus terus berusaha bukan?"


Aku selalu kehabisan kata-kata saat bicara dengan dengannya.


****


"Emmaa!!"


Casey berlari dari kejauhan, aku sudah menunggunya sekitar 2 menit di depan sebuah cafe. Kami sudah berjanji untuk bertemu sore ini, aku memintanya datang menemuiku. Karna sekarang Casey sudah tinggal bersama ayahnya di Agithum jarak sudah tidak menjadi masalah lagi bagi kami.


Casey memelukku erat seperti biasanya, inilah yang paling aku butuhkan. Pelukan seorang sahabat.


"Ayolah, aku sudah memesan meja untuk kita."


"Ayo...!" Jawab Casey semangat.


Tak lama pesanan kamipun tiba, aku memesan minuman dingin dan kudapan.


"Ayo ceritakan harimu padaku." Ucap Casey selagi menyeruput minuman kesukaannya.


Casey langsung memasang raut gembira dan menahan senyum lebarnya.


"Tuan Es batu menyatakan perasaannya padaku."


"Hahhh??? benarkah? Kau serius?"


"Tentuu Emmaa.. Aku sangat bahagia sampai tak bisa mengatakannya padamu saat itu. Aku berfikir harus mengatakannya secara langsung."


"Aku tentu saja ikut senang!! aku turut bahagia kasih casey!!"


Tapi, Bagaimana perasaan Harold saat mengetahui ini. Ia pasti akan sangat sedih. Bagaimana caranya agar aku mengetahui siapa si tuan es batu ini sebenarnya.


"Sekarang beritahu aku siapa Tuhan es batu ini, Casey. Sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku?"


"Tentu saja aku akan mengenalkannya padamu Emma, kau akan terkejut mengetahui siapa si Tuan es batu ini."


"benarkah, apakah aku mengenalnya? Aah cepat katakan katakan padaku Casey, aku sudah sangat penasaran."


"Sabarlah Emma.. aku akan mengenalkannya secara langsung padamu. Kau pasti akan menyukainya dia ada pria yang baik."


"Kau yakin dengan penilaianmu?"


"Tentu! Pengalamanku sudah sangat banyak dengan pria Emma, Aku tidak akan salah pilih kali ini."


"Sepertinya kau sangat menyukainya Casey, kau terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta."


"Aku sangat tergila-gila padanya Emma! Dan saat aku tahu perasaanku bukan rasa suka sepihak, rasanya duniaku seperti benar-benar berubah."


"Aku sudah mengenalmu sejak lama dan Baru kali ini melihatmu seperti ini pada seorang pria. Dulu kau selalu bermain-main, apakah sekarang kau juga seperti itu Casey. Apa perasaanmu ini hanya sesaat karna penasaran."


"Tentu tidak Emma, kali ini berbeda aku mabuk cinta. Bahkan setelah mengetahui dia pria yang dingin aku tetap menyukainya, dia terlalu manis. Seperti harta karun yang baru ku temukan."


"Baiklah.. Kalau kau sudah memilikinya kau harus menjaganya dengan baik. Sepertinya dia benar-benar pria yang baik, kalau tidak mana mungkin kau jadi seperti ini."


Casey tersenyum lebar lagi, aura orang yang sedang dimabuk cinta itu memang benar-benar berbeda. Aku seperti melihat bunga-bunga bertaburan di wajahnya, casey aku turut bahagia akan dirimu.


Dan sekarang apa yang harus kukatakan pada Harold? Aku harus benar-benar berhati-hati untuk masalah ini. Karena ini menyangkut masalah perasaan. Aku berharap Harold tidak terlalu kecewa saat mengetahui Casey telah menyukai pria lain.


Walau sebenarnya aku sangat berharap Harold bisa mengencani Casey, namun aku juga harus berhati besar menerima kenyataan bahwa Casey sudah bahagia dengan pilihannya.


Rrrrrr.....


Harold? Baru saja aku memikirkannya, ia langsung menghubungiku.


"Ya Harold?"


"Emma, kau dimana? Pesawat yang di tumpangi Bastian mengalami pendaratan darurat setelah gagal terbang."


"Apa!??"


"Aku sedang menuju Arthur airport, kau cepatlah menyusul kesana."


"Tentu.. tentu aku akan segera kesana."


"Ada apa Emma?" Casey tampak ikut cemas.


"Apakau membawa mobil, Casey?"


"Tentu, jelaskan padaku apa yang terjadi?"


"Aku akan menjelaskannya nanti, aku yang akan menyetir!!!"


"Hah!!?? Apa kau gila!???" Mata Casey terbelalak.


"Cepatlah mana kunci mobil mu!!"


"Aku harus cepat, nanti aku akan menghubungimu lagi Casey."


"Emma, kau tidak bisa naik mobil."


Aku hanya melirik Casey sebentar dan tak punya waktu untuk menjelaskan semuanya saat ini. Aku langsung berlari mencari mobil Casey, melaju secepat yang ku bisa.


"Bastian kau tak boleh meninggalkan ku, setidaknya aku harus mengakui perasaan ini kau harus selamat. kalau tidak aku akan membecimu seumur hidupku."


***