
"Jadi, kau tiba-tiba kehilangan rasa traumamu dan menyetir dengan kencang?"
"Itu benar-benar di luar kendaliku Bastian, yang ada di benakku saat itu hanya tentang bagaimana keadaanmu. Aku bersyukur ternyata kau tidak berada didalam pesawat itu, dan tak terjadi apapun padamu."
"Hatiku sangat sakit melihat kau begitu panik, aku belum pernah melihatmu putus asa seperti itu bahkan saat kehilangan paman Anthony kau berusaha kuat walau tak bisa menyembunyikan kesedihanmu."
"Kau benar aku sangat putus asa, aku menyesali banyak hal. Begitu banyak yang terlintas di kepalaku, dan aku benar-benar ketakutan tak akan bisa melihatmu lagi. Walau pada akhirnya aku bersyukur saat melihatmu dalam kondisi yang baik-baik saja, aku sudah berfikir terlalu jauh."
"Mungkin begitulah cara Tuhan melindungiku, aku kembali mengambil flashdisk berharap bisa mengejar waktu dan ternyata lalu lintas padat. Aku tak dapat mengejar waktu penerbangan, dan ternyata sayap pesawat itu terbakar. Berita begitu cepat tersebar, Harold tiba-tiba muncul dan aku tak bisa menahannya lagi saat ia sudah terlanjur menghubungimu Emma."
"Aku takut kau khawatir, dan ternyata itu lebih dari ekspektasiku. Tapi sisi baiknya aku mendengar pengakuan cintamu, dan merasa tidak ada hari yang lebih baik dari pada hari ini."
Kami saling pandang dan aku tak kuasa untuk menahan senyum. Ya, aku jatuh cinta pada lelaki yang tiba-tiba muncul dalam kehidupanku ini. Bastian Linford, pupil matanya yang kehijauan, alisnya tebal dengan bulu mata yang panjang.
Ternyata aku jatuh cinta dengan lelaki yang seperti ini, yang tatapannya selalu tajam tapi teduh penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu Tuan Bastian Linford."
Mengalir begitu saja, aku ingin mengatakannya lagi dan lagi. Aku ingin dia mendengarnya lagi dan lagi hingga tidak ada satu keraguanpun di hatinya.
Bastian tersenyum, dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Aku mencintaimu melebihi rasa cintamu padaku." Bisik lembutnya.
Sesak, debaran jantungku terlalu menderu hingga terhanyut dalam suasana.
Bastian mengusap lembut pipiku seperti biasanya ia selalu memperlakukan ku begitu istimewa.
"Bolehkah aku menciummu?"
"Haruskah kau bertanya? tadi kau menciumku sesuka hatimu."
"Saat itu aku menciummu karna terlalu bahagia."
"Lalu saat ini, kau ingin menciumku karna apa?"
"Karna kau begitu menggoda dan aku tak bisa menahan hasratku. Kau begitu cantik Emma."
Wajahku terasa panas tak bisa membendung malu, mengapa pria ini seperti sudah terlatih mengaduk-aduk hati wanita.
"Kau tak perlu izinku saat ingin melakukannya."
"Ku harap kau tak akan pernah menarik kata-katamu ini Emma."
Tatapan Bastian semakin tajam, dan wajah kami yang sudah semakin dekat. Aku juga wanita normal yang punya gairah.
Aku menutup mata dan membiarkan bibir kami beradu, merasakan dimana dunia ini seperti hanya milik kami seutuhnya. Seperti hatiku yang jatuh padanya, aku juga jatuh hati pada sentuhan Bastian.
Sejenak aku merasa hilang, dan kami berhenti dimana di titik semua mulai semakin tak bisa di kontrol. Nafas kami saling beradu, dan sejenak aku terdiam merasa malu. Apakah aku seliar ini?
Ku tatap Bastian yang dengan tangan membungkam bibirnya, rona wajahnya yang memerah tak dapat terhindar.
Lalu kami saling menatap sejenak dan tertawa. Disini aku tahu walau Bastian yang selami tampak narsis dan berpengalaman, dia juga sama sepertiku. Kami dua orang yang sama-sama baru merasakan ada kebahagian semacam itu. Alasan dimana semua orang merasa bahagia saat bercumbu.
"Sepertinya jika kita terus bersama aku akan hilang akal, kau istirahatlah Emma. Aku akan kembali ke apartementku."
Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan tanpa suara karna aku merasa kepalaku sudah sangat membesar saat ini.
Aku mengantar Bastian di depan pintu, kecanggungan kami begitu terlihat hingga semua terasa sangat kikuk. Bastian terlihat salah tingkah, dan aku tak bisa berlama-lama menatap matanya.
****
Keesokan harinya,
"Bastian, Kenapa kau ada disini?"
Aku tentu terkejut karna Mobil Bastian sudah terparkir di luar Lobby Apartement dan menungguku.
"Harold sudah mengurus semuanya, jadi aku tak perlu kesana lagi. Ayo cepat, masuklah kita bisa terlambat."
Aku tak yakin atas ucapan Bastian, dan menggeleng heran. Setelah aku memasang seatbelt mobilpun melaju.
"Bagamana kondisi traumamu? sepertinya kau sudah relax sekarang."
"Kau benar, setelah kemarin aku merasa sudah menang melawan rasa takutku. Melihat mobil dan jalanan ternyata semua tak seburuk itu."
"Berarti kau sudah sembuh Emma, aku yakin atas ucapan dokter itu sekarang."
"Dokter?" Aku lantas menatap kearah Bastian yang sibuk mengatur setir mobilnya.
"Kau ingat saat kau pingsan dan aku membawamu ke rumah sakit saat itu? Dokter sedikit mencurigaimu mengalami depresi. Aku sempat beradu argument dan menjelaskan kondisimu yg sebenarnya lalu Dokter itu merekomendasikan seorang Psikiater agar kondisimu tidak memburuk."
"Aku yakin akan sangat memaksa jika aku memintamu melakukan perobatan, lalu aku berinisiatif mencari cara selagi terus berkonsultasi dan mencari cara dengan cara yang lain. Dan itu berhasil hal terbaik dalam menghadapi ketakutan adalah melawan rasa takut itu sendiri, itu berhasil padamu Emma."
"Kau melakukan semua itu untukku Bastian?"
Aku benar-benar terharu, tak tergambar betapa pria ini sangat menyayangiku.
"Aku akan melakukan semua hal yang terbaik untukmu Emma."
"Lantas apakah sekarang aku boleh tau apa cerita dibalik kecelakaan kedua orang tua kita Bastian?"
Bastian melihatku sejenak lalu terdiam dalam fokusnya memandang kedepan.
"Aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya, kita hanya perlu mencari waktu yang tepat. Sabarlah Emma."
Aku mengangguk dan yakin bahwa masalah ini bukanlah hal yang sepele. Raut wajah Bastian sudah menjelaskan semuanya.
****
Aku duduk di samping Harols saat rapat akan di mulai, rapat ini mengenai pembelian saham Linford yang akan di hadiri oleh perusahaan-perusahaan lainnya bahkan pesaing. Tentu saham milik Linford sedang naik daun karna harganya yang selalu melejit di pasar saham.
Banyak perusahaan yang tergiur dan ingin memasukan investasi besar-besaran.
"Kau tau Emma, perusahaan pesaing kita akan datang bersama putranya hari ini." Ucap Harold.
"Benarkah?"
"Tentu, mereka perusahaan yang suka bermain curang. Melakukan cara-cara yang tidak semestinya demi keuntungan semata, mereka juga berulang kali ketahuan mencuri informasi dan menjatuhkan image perusahaan kita.
"Apa nama perusahaan mereka?"
"Leoline Group, anak perusahaan dari Wycliff Leoline Corp. Anak perusahaan ini didirikan langsung oleh direktur Wycliff Leoline yang nantinya akan di serahkan langsung pada putranya Gavin Leoline. Keberuntungan bagi kita jika mereka ayah dan anak akan datang bersamaan hari ini."
"Apakah tidak aneh bagi mereka membeli saham perusahaan pesaing."
"Ini dunia bisnis Emma, teman dan musuh sekalipun tidak ada artinya disini, semua orang hanya memikirkan satu hal yaitu keuntungan yang besar."
"Begitu rumit, tapi aku mengerti."
"Bastian adalah orang yang hebat, dia bisa bertahan selama ini padahal dunia bisnis sangat kejam. Ia bergelut di dunia investasi dan saham dan terus meningkatkan keuntungan laba saham Linford. Awalnya aku menganggap Bastian gila, tapi lama-kelamaan aku faham jiwa pembimbisnis mengalir dalam darahnya.
.
.
.
.
Happy reading 😉