My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
6.



Lagi pula aku mau mati, merusak satu pintu kurasa tidak apa-apa. Tuan Harold itupun tidak komplen saat aku membanting pintunya.


Baiklah Emma, kau pulang hidup dan mati harus kau hadapi dengan berani.


Sesampainya di sana.


Sudah 5 menit lebih aku hanya mondar mandir di depan jendela kaca seperti cermin ini, ku coba atur nafas tapi gawat nafasku selalu tersengal lagi dan lagi. Ini pasti karna jantung ini yang tak mau di ajak berkompromi, ia masih saja bertalu-talu.


Tok..tok..tok.


Akhirnya ku beranikan untuk mengetuk pintu,


"Ayo masuklah!"


Woe? Suara berat itu, memang benar dia orangnya yang ku marahi tadi malam tanpa berfikir panjang.


"Se..la..mat pagi..!" Kubuka pintu dengan amat perlahan, padahal beberapa menit yang lalu aku sanggup membanting pintu milik si manager.


"Selamat pagi kembali, tapi sebenarnya inu sudah hampir jam makan siang Nona Emma!"


"Benarkah?"


Mataku menyapu ruangan mencari jam dinding.


"Disini...!" Pria itu memamerkan jam tangan digitalnya.


"Hahh? Sudah selama itu aku di gedung ini?"


Aku pun terkejut sendiri,


Tunggu! CEO ini tau namaku? Aa... Mungkin dari si manager.


"Begini... Setelah Tuan Harold menceritakannya tadi, saya sangat menyesal dengan tindakan saya tadi malam yang kekanak-kanakan. Maka dari itu saya minta maaf, Bisakah saya minta tas saya secepatnya."


"Saya dari perjalanan yang lumayan jauh, jadi... Saya harus secepatnya pulang."


Hhaaah... Perasaan lega macam apa ini.


"Aah.. Soal tas ya? Sepertinya anda sedang terburu-buru Nona Edelsteen."


Ucapnya sambil melihat jam tangan lagi.


"Sebelum itu, bagaimana kalau kita menyelesaikan masalah tadi malam dengan makan siang bersama?" Ucapnya dengan enteng.


Hah? Apa lagi ini. Otak ku berputar-putar dengan sempurna.


"Begini, sebenarnya saya harus cepat pulang karna saya masih harus bekerja."


Yup! Alasan yang tepat. Tapi,


"Sebenarnya ucapan anda tadi malam membuat perasaan saya sangat terluka, bisa saja saya melayangkan gugatan tentang kasus perbuatan tidak menyenangkan."


"Mengingat saya orang kaya yang tidak cerdas, bukankah permintaan makan siang bersama itu bukan hal yang besar? benarkan Nona Emma?"


Wajah ramahnya tadi tiba-tiba menghilang, sungguh pria yang menyeramkan.


Sial! Aku lupa kalau ia tak suka di bantah.


"e'.. Dengan senang hati Tuan e'...?" Jawabku cepat, sampai aku lupa namanya. Kaki ku juga gemetaran.


"Bastian, Bastian Linford."


Pria berpostur gagah itu berdiri menghampiri ku dan mengulurkan tangannya, apakah ini saatnya untuk berkenalan? Hah?


"I..iya Tuan Linford."


Ah, ternyata dia benaran pemilik gedung ini. Rasanya aku mau pingsan.


"Ba..baik Tuan Bastian."


Tuhan, kegilaan macam apa ini sampai aku bisa berdiri di depan orang terkenal seperti ini.


Kakiku basah lagi, entah takut, canggung, atau masih merasa seperti mimpi.


"Aduh!"


"Anda baik-baik saja Nona Emma?"


Aku mengangguk cepat, tanganku sakit. Aku mencubit tanganku dengan keras untuk memastikan ini nyata atau tidak.


"Kalau begitu ayo ikuti saya kita makan siang."


"Tu..tuan, Apakah disini ada kantin atau sebagainya? Itu bisa menghemat waktu."


"Kantin?"


Jawabnya kebingungan.


"Tentu saja gedung kami menyediakan tempat seperti itu, tapi....?"


Tampak sekali keningnya berkerut,


"Em baiklah. Saya juga belum pernah mencicipi makanan disana. Ayo kita kesana."


What? untuk apa kantin di buat kalau dia tidak pernah makan disana, dasar Boss.


Aku langsung mengikuti langkah besarnya dengan cepat, dengan tinggi seperti itu jalannya 2 kali lebih cepat dari ku.


Kami memasuki lift, hening.


Tak lama kami sampai ke lantai 3, dan waow! Ini restoran atau kantin.


Kami duduk, dan seorang waiters paruh baya datang menjamu kami.


"Sudah lama anda tidak kesini Tuan?"


"Aku sangat sibuk dan tak sempat menemui mu Robert." Balas Tuan Bastian pada waiters ramah itu.


Dia tersenyum, untuk pertama kali aku melihat wajah kaku itu tampak sumringah, sepertinya hubungan mereka tak biasa.


"Seluruh dunia pun tau kau orang yang sibuk Tuan muda, kalau tidak keberatan bolehkan aku tau siapa Nona muda yang sangat cantik ini Tuan?"


"Oh, dia? Dia Emma Edelsteen."


"Nama yang sangat indah Nona Edelsteen, kami akan menjamu anda dengan makanan terbaik di gedung ini."


"Terimakasih Tuan, saya merasa terhomat."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


Ahh.. Pria tua yang sangaat lembut dan sopan, aku jadi teringat paman Ettan. Tak bisa tidak tersenyum saat bicara dengannya, pantas wajah sekaku Boss menyebalkan itu langsung bisa berubah ramah.


Baru saja di bicarakan, lihat! si Boss arogan ini tertangkap basah sedang menatapku.


"Ada yang salah dengan wajah saya Tuan Bastian? Tatapan anda terlalu.."


"Aku sedang melihat di bagian mana Tuan Robert sampai bisa mengatakan kalau kau itu cantik Nona Emma."


What!?? Ucapan itu sangat sarkas! Ingin ku cabik-cabik wajah arogan mu itu Boss gila. Tapi,


Aku hanya bisa memasang senyum palsu saat ini.


"Ha-ha ternyata anda suka bercanda juga Tuan." Jawab ku dengan tawa palsu.