My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
19.



"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu Bastian, aku sungguh minta maaf."


Pria itu mengerutkan keningnya dan menatapku lebih intens.


"Untuk apa kau minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku."


"Aku telah membuat kegaduhan.."


"Apa kau pikir aku marah karna kau pingsan di kantorku tadi?"


Aku hanya bisa mengangguk.


"Kau benar-benar bodoh atau..!"


Bastian melepas nafas kasar.


"Kau tau betapa paniknya aku tadi, aku sangat menghawatirkan mu sampai aku menyalahkan diriku sendiri. Apakah aku membebani mu? Apakah aku tak cukup memperhatikan mu? Apa aku terlalu memporsir tenaga mu, Emma?"


"Maafkan aku Bastian, ini semua salahku."


"Aku mau kau terus terang, apa yang sebenarnya kau rasakan Emma? Bagaimanapun aku yang memaksamu untuk bekerja dengan ku?"


"Tidak, aku tidak mempermasalahkan lagi hal itu. Aku senang bisa menambah pengalamanku bekerja di Linford bersama dengan mu Bastian, hanya ada sesuatu membuatku berfikir banyak belakangan ini dan mulai ragu apakah aku mampu bertahan lebih lama.."


"Katakan padaku Emma,"


"Aku tak sanggup lebih lama lagi menahan traumaku Bastian, aku kira dengan seiringnya waktu aku akan terbiasa tapi belakangan ini semakin parah."


"Aku juga menghawatirkan tentang itu Emma, aku selalu mengawasimu. Kau selalu tampak kuat padahal kau lemah, jika kau tidak keberatan. Aku sudah menyiapkan apartemen di yang dekat dengan kantor kau hanya perlu berjalan beberapa menit saja."


"Tidak, tidak bisa bastian. Aku tak bisa tinggal di Agithum dan meninggalkan kan paman dan Bibi."?


"Kau tidak perlu meninggalkan Paman dan Bibimu, kita hanya perlu membawa mereka kesini."


"Apakah itu mungkin?"


"Bagaimana caranya aku melakukan itu, aku belum mampu menopang mereka Bastian. Aku belum mampu secara finansial.."


"Kau tidak perlu memikirkan itu.. Kau hanya perlu memikirkan kondisi mu sendiri, lagi pula jika paman mu mendapatkan kwalitas pengobatan yang lebih baik kita bisa berharap untuk kesembuhannya, percayalah padaku Emma."


"Bastian, aku berterima kasih jika kau berfikir seperti itu tapi.. Biarkan kehidupan pribadiku tetap menjadi urusanku, dan aku tau kau bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah karna kau punya segalanya. Tapi bagiku dan duniaku yang kecil ini ingin berjuang dengan caraku sendiri."


Ku tatap dengan penuh tekat mata Bastian, aku tak ingin lemah di depannya. Walau dia tau segalanya tentang kelemahanku sekalipun, aku ingin dia tahu kalau aku perempuan yang punya harga diri.


Aku sudah sangat terbantu dengan pekerjaan yang ia tawarkan, tapi aku ingat jelas tatapan para pegawai lain yang menatapku saat turun dari mobil setiap hari.


Mobil dan supir yang khusus menjemput dan mengantarku setiap hari, pasti mereka berfikir aku mendapatkan fasilitas seperti itu karna hal yang bukan-bukan.


Terlebih kesenjangan penampilan ku yang tak cocok menjadi bagian dari Linford. Aku semakin pesimis ini akan bertahan lebih lama.


"Apakah kau berfikir kalau aku menawarkan itu dengan cuma-cuma?"


Deg!


Ucapan Bastian mengaburkan semua pikiranku. Tatapannya menjadi lebih dominan, apa yang sedang di pikirkan pria ini.


"Kau tau Emma, aku adalah pembisnis. Aku tak pernah memberi sesuatu dengan cuma-cuma. Karna aku terlihat sangat baik terhadapmu, bukan berarti itu semua karna kuasaku."


"Setelah melihatmu bekerja dalam sepekan ini aku merasa kau adalah sekretaris yang paling tepat untukku, jika aku kehilangan sekretaris sepertimu aku akan merasa rugi dari segi hal apapun."


"Aku adalah pembisnis dan paling tidak suka dengan kata rugi, maka dari itu apapun yang aku berikan padamu semua itu adalah investasi. Kau memberikan ku keuntungan dalam bentuk jasa, dan aku memberikan kenyamanan untuk mu dalam bentuk upah dan fasilitas kerja."


"Kau mengerti?" Intonasi suaranya semakin meninggi.


"Tapi Bastian,"


"Lagi pula aku akan memotong gajimu setiap bulan, tidak ada kata cuma-cuma di dunia ini Emma. Kau harus membayarnya."


Aku sampai tak bisa berkata-kata dan sangat malu saat ini. Aku jadi memikirkan kembali keangkuhanku tadi padanya, dan pria ini lagi-lagi membuatku menelan rasa kesal yang tak bisa dengan lantang ku utarakan.