My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
21.



"Kau sudah sarapan?"


Suara Bastian mengejutkanku. Pria itu sudah bersender tepat di samping meja kerjaku, tak seperti biasa aku sedang malas meladeninya.


"Sudah,"


"Sudah selesaikan file yang aku minta?"


"Sudah,"


"Lalu?"


"Lalu apa?"


"Kau tidak bahagia disini Emma?"


"Hentikan itu Bastian!"


"Aku hanya ingin tau?".


"Aku senang, kau puas?"


"Tidak."


"Hah?" Pria ini suka sekali mengganggu ku.


"Katakan yang sejujurnya?"


"Apa?"


"Yang kau rasakan sebenarnya?"


"Aku cukup senang, semua berjalan baik disini."


"Aku harap itu yang benar-benar kau rasakan Emma."


Tatapan Bastian menusuk sampai ke hatiku, apa yang sebenarnya ia pikirkan hingga pagi begini mendatangi meja kerjaku dan menjejaliku dengan banyak pertanyaan.


Tapi aku harus tersenyum pada Bastian, aku harus meyakinkannya.


***


Aku berjalan menuju kantin karyawan hari ini, aku ingin membuka duniaku. Bastian melarang tapi aku bersikeras.


Benar-benar, ini seperti set prasmanan mewah aku mengambil beberapa menu yang terlihat menggiurkan.


"Emma!!!"


Sumpah jantungku hampir lepas rasanya,


"Nuray?"


Anak ini? Aku sudah sangat lama tidak melihatnya.


"Akhirnya aku melihatmu di sini."


"Aku juga senang akhirnya bisa melihatmu Nuray? Bagaimana keadaan Baba Ramzan dan Anne Gulya?"


"Mereka semua sehat,"


"Syukurlah,"


"Kau sekarang terlihat sangat berbeda Emma,"


"Ah benarkah, aku masih sama saja Nuray."


"Kau tau Emma, kau semakin cantik."


"Kau bisa saja Nuray, kau juga.Oh ya di divisi mana kau di tempatkan."


"Divisi perencanaan, aku lumayan membaur disini."


"Benarkah? itu bagus."


"Kau tidak pernah dengar desas desus dirimu di perusahaan ini Emma?"


"Desas desus?"


"Tentu saja, kau mengejutkan ku saat aku mendengar kau tiba-tiba menjadi sekretaris CEO. Padahal kau sama sekali tidak mendaftar ataupun ikut test wawancara bersamaku."


"Oh, itu.."


"Ah, benarkah..?"


"Aku merasa mendapat perhatiian khusus langsung dari perusahaan ini. Aku jadi bertanya-tanya apakah aku sangat di butuhkan di sini. Aku sangat berdebar-debar saat tau itu adalah permintaan CEO langsung, Emma."


"Oh, ya?"


"Benar, Emma."


Wajah Nuray bersinar cerah, kejadian dimana saat Bastian memintaku ke Villanya waktu itu. Membuat Nuray berfikir ia mendapat perhatian lebih dari seorang CEO. Apakah harus ku ceritakan yang sebenarnya, tidak! Itu akan menyakitinya dan akan lebih aneh lagi jika aku mengatakan yang terjadi saat itu Bastian membawaku ke Villanya.


"Kau tampak senang Nuray,"


"Sangat Emma, aku berharap suatu saat bisa bertemu secara langsung dengan CEO kita, seperti mu."


"Kau berlebihan Nuray,"


"Katakan Emma, bagaimana rasanya satu kantor dengan seorang Bastian Linford?"


"Entahlah," Jawabku malas.


"Jadi benarkah kata semua karyawan bahwa Tuan Bastian sangat kasar dan perfeksionis?"


"Itu... Sebenarnya.."


"Kau pasti tertekan Emma."


"Aku.."


"Lain kali kita bahas lagi Emma, aku harus segera menghabiskan ini dan segera ke ruang kerjaku."


"Ah iya tentu, Nuray."


Desas desus tadi, sebenarnya apa maksud perkataan Nuray. Aku tak yakin, tapi apakah itu tentang aku dan Bastian? Aku tak yakin dan penasaran, lain kali akan ku tanyakan pada Nuray saat senggang.


***


"Aku ingin kau makan malam bersamaku Emma,"


"Apakah dalam rapat tadi ada pembahasan yang belum selesai Bastian?"


"Tidak,"


"Lalu..."


"Kau berisik sekali, aku mau makan malam denganmu ya harus makan malam denganmu tidak ada alasan lain."


Sabar Emma, ini bukan hal yang baru lagi tahan emosimu. Ingin sekali ku acak-acak wajak sok pengatur itu dan ku remas-remas mulutnya ku jadikan makanan ayam.


Tak!


"Aw..." Pekik ku.


Sialan pria gila ini memukul keningku dengan jarinya.


"Katakan! Katakan saja apa isi kepala mu yang kecil ini, jangan menggerutu dengan wajah kesal begitu."


"Tidak, tidak ada."


Ya Tuhan perihnya keningku, seharian dia menghabisiku dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Aku kira aku akan pulang dan istirahat dengan damai, tapi pria yang selalu bertindak Implusif ini tak pernah membiarkan aku hidup dengan damai.


"Kalau tidak ada, ayo kita pergi."Titahnya.


Ku arahkan kepalan tangan dari balik punggungnya, ingin rasanya ku balas rasa sakit di keningku ini.


"Aku melihatnya Emma."


Hah, dia tau.


"Itu.." Ucapnya sambil merentangkan telunjuk ke arah kaca jendela besar yang terpantul.


Sial, aku hanya bisa menunduk malu.


"Gajimu akan ku potong."


Apa????? Boss kejam! Aku hanya bisa menjerit dalam hati.


"Baik, aku yang salah."


Seperti anak anjing, aku mengikuti tiap langkah Bastian dengan patuh.