My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
33.



"Nanti malam, kita sudah bisa berlatih mengemudi lagi Emma." Ucap Bastian saat kami tengah di perjalanan pulang setelah selesai metting dengan seorang klien penting.


"Aku lelah." Ucapku malas.


"Sudah 3 hari sikapmu aneh, kau banyak diam saat di kantor dan tak memperdulikanku saat bicara."


Aku aneh? Hah! Kau yang aneh, begitu ada Nuray kau seperti tidak memperdulikan aku lagi, malah berkata omong kosong.


"Hmm.." Aku semakin tak ingin bicara pada pria ini.


Tiba-tiba bastian membanting stir, dan memarkirkan mobil di pinggir jalan. Membuat darahku melaju deras keseluruh tubuh, rasanya aku ingin muntah.


"Apa yang kau lakukan Bastian, tadi itu sangat bahaya. Kau tau kan traumaku belum pulih seutuhnya."


"Maaf, aku hanya kesal. Apa aku harus melakukan ini lebih sering agar kau mau bicara padaku?"


"Apa maksudmu? Jangan bertingkah aneh, kau tak biasanya begini. Kau kekanak-kanakan Bastian."


Bastian Menatapku tajam,


"Apa aku melakukan kesalahan? Atau kau kesal padaku dengan suatu alasan yang tak kusadari?" Bastian semakin gigih dengan pikirannya.


"Entahlah, sudah cepat kembali ke kantor banyak berkas yang harus ku cek kembali."


Tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya Bastian melepas nafas kasar, memutar stir dan melajukan mobil. Setelahnya kami hanya diam seribu bahasa. Baik aku dan Bastian hanya fokus pada pikiran masing-masing.


Sesampainya di kantor Harold sudah menunggu kedatangan kami, akhirnya bisa melihatnya setelah waktu yang lama. Itu artinya tugasnya di kota Embriz sudah selesai.


"Kalian sudah selesai metting, bisakah kita bicara bersama kau dan Emma." Ucapnya lugas kepada Bastian.


"Tentu, ayo kita bicara di ruanganku."


"Baiklah,"


Aku mengikuti pria-pria berwajah serius ini dan akhirnya kami duduk di sofa memulai pembicaraan.


Di ujung sana tampak Nuray yang mencuri-curi pandang dan sedikit gelisah, apalagi yang ada di pikirannya.


"Sebelumnya aku ingin mengucapkan belasungkawa pada mu Nona Emma, maaf saat itu aku benar-benar tak bisa menemuimu."


"Tidak masalah Tuan Harold, aku tau kau sangat sibuk."


Aku tau kami mencoba berbicara formal, mungkin Harold menyesuaikan diri saat melihat Nuray.


"Sepertinya ini bukan gayaku, tapi aku benar-benar minta maaf karena membuatmu bekerja keras di sana Harold."


"Cih, jangan berlebihan Bastian."


"Kalau ini bukan kantor rasanya aku sudah ingin memelukmu, sobat." Ucap Bastian setengah berbisik.


"Itu menggelikan." Balas Harold.


"Katakan padaku, apakah yang duduk disana sekretaris pengganti itu? Kau masih mempekerjakannya bahkan setelah Emma disini."


Tepat sasaran, pertanyaan yang bagus Harold! akupun ingin mendengar jawaban darimu Bastian.


"Aku tak tau, semua keputusan ada di tangan Emma. Kalau dia sudah dalam kondisi prima untuk mengurus semua perkerjaan sendiri maka kita tidak perlu sekretaris pengganti lagi."


Hah? Kau benar-benar gila Bastian!! Bagaimana kau mengatakan itu tanpa beban sama sekali, dan pasti Nuray mendengar itu. Aku benar-benar kehabisan kata-kata, kau membuatku berada dalam situasi yang serba salah nantinya.


Harold mengangguk-angguk mengerti, tapi aku tak yakin bagaimana kini perasaan Nuray.


Setelah membahas masalah kantor cabang yang berada di Embriz dan beberapa hal yang lain. Harold pamit.


"Oh ya Emma, bisakah kita bicara sesuatu yang lain berdua saja." Ucap Harold padaku.


"Tentu." Jawabku.


"Ada apa ini, apa kalian punya rahasia dibelakangku?" Bastian melontarkan ucapan aneh begitu saja.


"Hentikan pikiran gilamu itu, ini masalahku dan Emma."


"Bukankah sebentar lagi jam pulang? kalau begitu aku akan mengantar kau pulang nanti Emma setelah kita bicara, ayo kita mencari Cafe terdekat."


Tingkah Harold seperti tidak biasa, aku pun penasaran pembicaraan apa sebenarnya yang ingin ia bahas. Harold bukan tipe yang seperti ini. Aku melihat curuk wajah Bastian yang kesal, mungkin karna sekian lama tak bertemu Harold tapi Harold malah ingin bicara berdua saja padaku. Dasar, Bastian.


Aku segera mengambil tas kemudian berpamitan pada Bastian dan Nuray yang masih duduk di meja kerja. Kalian bebas mau melakukan apa, sekarang hanya kalian berdua yang berada di kantor. Uh, mengapa aku juga kesal rasanya.


****


Sudah setengah jam kami duduk di Cafe dan Harold belum juga bicara apapun, sedari tadi ia hanya meneguk kopi espressonya dan menatap ragu padaku berkali-kali.


"Jadi?" Tanyaku yang mulai bosan.


"Ah, maaf Emma. Aku tak tau harus memulainya dari mana, ini bukan pembahasan yang biasanya dengan mudah aku utarakan."


"Apakah ini tentang hal pribadi?"


Harold mengangguk dengan kikuk.


"Tentang wanita?" Tanyaku lagi.


Harold menyapu hidung dan mulutnya dengan panik, itu terlihat sangat manis. Ternyata masih ada didunia ini lelaki seperti Harold, bahkan Bastian yang mengaku tak pernah berhubungan dengan wanita manapun tidak sekikuk Harold.


"Aku menyukai sahabatmu, Casey."


Aku benar-benar terperangah. Mataku membulat sempurna, benarkah apa yang ku dengar? Sial, aku bisa menjamin bahwa Harold adalah pria yang 100% baik dan bertanggung jawab. Tapi, Casey sudah punya orang lain di hatinya. Si tuan Es Batu.


"Benarkah?"


"Aku ingin membicarakannya dengan mu dulu, apakah kau mengizinkan jika aku mendekati sahabat mu itu Emma?"


"Tunggu, bagaimana kau bisa menyukai Casey. Apa yang terjadi? Bukankah kalian jarang bertemu?"


"Sebenarnya sewaktu kau memintaku untuk menemaninya makan saat itu, entah mengapa dia bisa membuatku membuka hati. Aku pikir saat membicarakan banyak hal bersamanya saat itu aku tak memikirkan apapun, tapi setelah itu aku selalu memikirkan dia dimanapun."


"Awalnya aku pikir aku gila, atau kelelahan karna terlalu mendedikasikan hidupku pada pekerjaan. Ini benar-benar perasaan yang baru ku alami, aku benar-benar menyukainya."


"Lantas apakah kau sudah berusaha melakukan sesuatu padanya..?"


"Kami sudah sering melakukan chat, hanya belakangan ini Casey seperti tak menanggapi ku lagi. Aku merasa sangat kacau. Aku ingin menemuinya lagi tapi aku tak punya alasan, dan tak tau harus bagaimana."


Pffft.. Aku mengerti maksud Harold, dan maksud pembicaraan ini. Dia ingin memintaku membantunya mendekati Casey.


"Apa kau yakin dengan perasaanmu Harold?"


"Aku sudah memikirkannya begitu lama Emma, aku tak pernah seyakin ini."


"Baiklah, aku akan memikirkan cara. Tapi jika hubungan kalian tak berakhir baik aku tak ingin kau membencinya atau kesal padaku."


"Tentu tidak, aku bukan orang seperti itu."


"Baiklah kalau begitu, karna aku yakin kau adalah pria yang tepat untuk Casey. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian."


"Terimakasih Emma."


Aku harus menggali informasi dulu tentang siapa Tuan Es Batu ini, kalau dia bukan pria yang baik aku akan menjodohkan Harold dengan Casey. Maaf Casey sahabatku, bukan aku tak mendukung prasaanmu pada Tuan Es Batu. Tapi, Harold adalah pria yang baik. Aku akan jadi mak comblang untuk mereka.


.


.


.


.


.


Terimaksih sudah membaca😉


Kritik dan saran coret-coret di bawah ya.😍