My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
45.



"Ada apa Emma, sudah lama kau tidak menemuiku."


"Aku tidak datang menemuimu untuk beramah tamah Gavin, kau pasti tau produk terbaru kalian sudah mencuri ide perusahaan kami."


Aku tak bisa berbasa-basi lagi, aku hanya geram dan langsung menanyakan semuanya dengan jelas.


Gavin malah tersenyum dan menenggak minumannya dengan gesture yang biasa saja. Membuatku makin kesal.


"Bagaimana kau begitu yakin Emma? Kau punya bukti atas apa yang kau bicarakan, itu tuduhan yang besar."


"Kami sedang mencari buktinya, kau lihat saja."


"Aku kira kita benar-benar bisa saling dekat dan menjadi teman seperti yang pernah kau ucapkan, tapi urusan seperti ini langsung merubah sikapmu padaku."


"Aku kira kau orang yang berbeda Gavin, walau aku tau rekam jejak bisnis Leoline yang buruk. Tapi aku tetap memandangmu, tapi kini setelah kau memperlihatkan dirimu yang sebenarnya, aku rasa aku belum mengenalmu dengan baik Gavin."


Gavin melihatku dengan serius, ada raut kekecewaan di wajahnya.


"Kau yakin sudah mengenal Bastian dengan Baik Emma?"


Aku mengerutkan kedua alisku dan menatap tajam ke mata Gavin.


"Apa yang kau bicarakan Gavin?"


"Kau terlalu lugu, dari awal aku melihatmu kau masih wanita lugu yang sama Emma. Bahkan sampai sekarang. Kau lebih cocok menjajakan roti di Beeqo bersama teman-teman tuamu itu, kau menjadi sombong semenjak menyerahkan tubuhmu pada Bastian, kau tak lebih dari wanita murahan seperti wanita yang melahirkan Bastian."


Aku terbelalak mendengar ungkapan penuh duri itu, jantungku terpompa keras, aku benar-benar terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut Gavin.


"Tarik ucapan itu dari mulutmu yang kotor itu Gavin, kau sama sekali tak punya hak untuk menilaiku dan mengatakan hal hina itu sesuka hatimu, lantas apa hakmu memfitnah Ibu dari Bastian jaga mulutmu Gavin!!!"


Darahku mengalir deras seperti rollercoaster,


"Tanyakan pada Bastian Emma!! Tanyakan padanya apa yang terjadi dengan Ibunya? Dan juga mengapa ia tiba-tiba mengambilmu dari tempat rendahan dan menjadikanmu sekretaris cantik yang selalu menempel padanya. Kau pasti di buang setelah ia bosan padamu."


Aku kehilangan akal dan menyiramkan segelas minuman pada wajah Gavin, dia benar-benar sudah kurang ajar.


"Kau sudah melewati batasanmu Gavin, kau keterlaluan."


Aku lantas meninggalkan pria brengsek itu, aku benar-benar menyesal telah mengenalnya. Aku menyesal atas waktu yang pernah ku luangkan bersamanya, dia dan perusahaannya bukan hanya licik, juga berhati kotor. Benar-benar pria yang menjijikkan.


****


"Katakan padaku apa yang terjadi mengapa sudah 2 hari raut wajahmu tak ceria sama sekali, apakah ada hal yang mengganggumu?"


Bastian mengusap pipiku dengan lembut seperti biasanya, sebenarnya aku tak ingin mengganggunya sama sekali dengan masalahku. Tapi aku ternyata tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang sangat mengganggu ini.


"Apakah kau siap menceritakan masa lalu tentang kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tua kita Bastian?"


"Tentu, tapi mengapa kau tiba-tiba membahas masalah ini?"


"Tidak ada alasan, aku hanya ingin tahu Bastian."


"Apakah kau belum siap mengatakannya juga Bastian? Ingat kau sudah berjanji padaku! Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya." Suaraku semakin meninggi dan menuntut.


Bastian menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan kasar, ia juga lantas duduk di sofa dan menyapu rambutnya yang tidak berantakan.


Mengapa Bastian begitu gelisah? Sebenarnya apa yang terjadi sampai butuh waktu yang lama hingga Bastian bisa mengatakannya padaku? Seandainya Gavin tidak mengatakan hal-hal yang mengacaukan pikiranku, aku juga tak mau keras kepala seperti ini.


"Duduklah Emma, jangan berdiri seperti itu."


Sesampainya di apartement milik Bastian tadi aku memang hanya berdiri memandang keluar balkon, aku berusaha tak terpancing akan ucapan Gavin tapi entah mengapa seperti ada yang menggeliat di hatiku. Aku juga ingin tahu ada hubungan apa antara Gavin dan Bastian, mereka seperti baru bertemu saat itu tapi melihat cara bicara Gavin yang penuh kebencian, aku rasa hubungan mereka tak sesederhana seperti apa yang ku lihat.


"Bolehkah aku minta waktu agar kau lebih sabar? Bukan aku tak menghargai apa yang kau rasakan, hanya kondisi perusahaan sedang mengalami masa sulit seperti yang kau tahu. Biarkan aku menyelesaikan semua satu persatu dan setelahnya aku berjanji menceritakan semuanya hingga tak ada lagi hal yang tersisa." Imbuh Bastian lagi dengan wajah sedikit memelas.


Benar, aku harusnya menjaga egoku. Bastian tampak lelah, dan ia begitu banyak masalah tapi aku malah menyusahkannya. Entahlah, semua karna Gavin! Jika ini adalah harapannya menghancurkan rasa kepercayaan diantara aku dan Bastian mungkin ia hampir berhasil.


Bastian Bangkit dari duduknya dan memelukku dari belakang, aku tak yakin tapi merasakan bahwa Bastian sangat mengkhawatirkanku.


"Maafkan aku," Ucapku lirih.


Hhh... Aku tak bisa melakukan ini pada pria yang begitu menyayangiku. Tak seharusnya aku begini..


"Mengapa kau minta maaf?"


"Entahlah mengapa aku tiba-tiba tersulut emosi padamu."


"Apakah ada yang mengatakan sesuatu padamu?"


Aku tak bisa mengatakannya, aku tak ingin menceritakan hubunganku dengan Gavin dan tentang apa yang sudah terjadi 2 hari yang lalu.


"Tidak, tidak ada apapun. Aku hanya tiba-tiba merasa gelisah." Maaf Bastian aku membohongimu.


"Baiklah, tenangkan dirimu lalu kita makan. Aku sudah menyiapkan makanan di meja, mungkin sekarang sudah dingin. Biar aku hangatkan lagi."


Bastian memastikan kondisiku sejenak lalu meninggalkan ku mempersiapkan makan malam kami. Aku semakin penasaran tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan semakin ingin tahu apa hubungan antara Gavin, Ibu Bastian dan benang merah dari masa lalu.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading😉