My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
51.



Setelah hari itu, aku maupun Bastian tak bicara. Dia pergi begitu saja, tak memberi jawaban apapun, isyarat apa yang ku pertanyakan ada dalam diamnya.


3 bulan berlalu tak ada kabar, tak ada tanda Bastian ingin menjelaskan apapun. Akupun sudah tak tinggal di apartement itu lagi, aku sudah kembali ke Beqoo tinggal bersama Bibi Agatha.


Awalnya Bibi terkejut akan kedatanganku, tapi kemudian Bibi Agatha hanya memelukku. Dia seperti tau isi hatiku yang terdalam, tanpa bertanya sedikitpun mengapa aku pulang.


Hari-hariku pun kembali seperti biasa, aku tak membawa sepersenpun kebaikan dari Bastian. Aku pulang dengan membawa baju-bajuku yang lama, aku tak ingin terbebani karna apapun. Aku meninggalkan semua kemewahan yang pernah ku miliki, dan pergi tanpa harapan apapun lagi pada Bastian.


Mungkin kini yang sedikit berbeda adalah, aku memiliki pekerjaan baru dengan gaji yang terbilang cukup untuk menghidupiku dan sedikit lebih untuk menabung.


Ayah Casey membuka cabang toko emasnya di Beqoo street, dan aku bekerja sebagai manager sekaligus penjamu pelanggan. Tidak banyak pekerjaan, dan yang terpenting Casey memilih untuk tetap bersamaku.


Hubungan Casey dan Harold ternyata cukup serius, Casey dengan bangga memamerkan cincin lamarannya padaku. Harold dengan berani melamar Casey di depan Ayahnya. Dan kabar baiknya, Harold dam Ayah Casey sudah saling mengenal begitu lama.


Aku sangat iri, mengapa cinta mereka seperti di mudahkan oleh semesta. Aku tak ingin mengeluh tentang rumitnya kisah cintaku, yang aku tau saat ini di hatiku masih bersemayam nama Bastian.


Aku masih menunggunya, memberinya waktu selama mungkin. Walau tak bisa ku katakan secara langsung karna aku masih punya pertanyaan-pertanyaan dan hal-hal lain yang mengganjal untuknya.


Aku hanya berharap, jika semua hanya sebatas ini maka, mudahkanla hatiku untuk menerima.


Terkadang rasa rindu datang begitu menyesakkan, dan aku menangis semalaman karna hatiku kesakitan menahan rasa ingin menyentuh dan memeluknya.


Apakah cinta sekakit ini?


Terkadang aku goyah dan mengikuti segala kabarnya dari media, dia tampak sehat dan tak terlihat memiliki masalah apapun. Aku bahagia untuk itu, walau menyesakkan.


Berita gosip yang menayangkan hubungannya dengan Alice Charlotte pun tak pernah mereda, terkadang tampak beberapa foto amatir yang menampilkan Bastian dan Alice sedang dinner atau makan siang. Yah, media selalu membantuku memantau kabar dari Bastian.


Aku memutar-mutar kartu undangan ulang tahun Ibu Harold, aku memandanginya sejak Cassey memberikannya sejam yang lalu. Ada dilema yang membingungkan, apakah ini rencana Casey dan Harold agar aku bertemu dengan Bastian?


Sejujurnya, Casey dan Harold memperlakukanku dengan cukup sabar dan bijak. Tak pernah sekalipun mereka membicarakan tentang Bastian atau mengusik-usik masalah yang sudah berlalu.


Karna itu juga mereka membuatku nyaman sekaligus canggung dalam beberapa sisi, jelas Harold adalah sahabat sejiwanya Bastian. Harold juga saksi hubungan asmaraku dengan Bastian, sikapnya membuat perasaanku sedikit tak nyaman walau aku berusaha.


Pasti Harold dan Casey sudah sangat berusaha menjaga perasaanku, aku jelas tak mungkin mengecewakan Harold dan Casey dengan tidak menghadiri pesta ulang tahun Ibunya. Benar-benar dilema.


****


"Ayo Emma, kau tunggu apa lagi. Acara akan dimulai." Desak Casey membuatku mau tak mau bangkit dan berjalan dari ruang jamuan keluarga, menuju aula perayaan.


Jelas Casey sudah membaca niatku untuk menghindari keramaian terutama Bastian yang katanya akan hadir di pesta ini.


Apakah aku siap? Aku bisa menggila jika melihat Bastian, sanggupkah aku untuk menahan segala perasaanku saat bertemu dengan pria yang masih berada di hatiku itu


Casey terus menyeretku kedalam riuhnya tamu undangan, aku bisa melihat senyum semua orang. Tapi aku tak bisa menempatkan senyum itu di wajahku.


"Nona Edelsteen? Kau kah itu?"


Aku menoleh dan menyadari suara panggilan itu berasal dari salah satu kolega bisnis Bastian, kami sering bertemu saat melakukan beberapa pertemuan Bisnis. Casey yang menyadari itu melepaskan genggamannya lantas tersenyum dan meninggalkanku.


"Tuan Jonathan?" Aku jelas masih mengingatnya.


"Ternyata benar itu kau, aku sudah lama tidak melihatmu Nona Edelsteen? Aku mendengar kau resign dari perusahaan sehebat Linford, itu sangat disayangkan."


"Tentu, aku rasa kau sangat cocok dengan posisi itu. Kami jadi lebih bisa memahami Tuan Linford berkatmu, dia banyak berubah dan bisa mengontrol emosinya dengan baik."


"Kau terlalu melebih-lebihkan Tuan Jonathan." Tepisku dengan sopan.


"Kau menyia-nyiakan bakatmu sebagai seorang sekretaris. Aku melihat bakat alami mu itu sangat menonjol Emma, jika kau berkenan datanglah ke perusahaan ku, aku pasti akan menerimamu tanpa syarat. Walau aku tak bisa memberikan keuntungan seperti apa yang Linford berikan padamu."


"Terimakasih Tuan Jonathan, aku pasti akan mempertimbangkan penawaranmu nanti. Tapi saat ini, aku sedang nyaman dengan kehidupan ku."


"Tentu saja kau boleh memikirkannya dengan tenang, aku tak memaksamu tapi jika kau datang aku akan menerimamu dengan tangan terbuka."


"Tentu," Balasku singkat seraya tersenyum. Aku tak bisa mematahkan begitu saja harapan seseorang walau jelas hatiku menolak.


"Aku permisi Tuan Jonathan, temanku sudah menunggu."


"Silahkan Nona Edelsteen, terimakasih atas waktu mu."


Aku lantas memasuki kerumunan dimana aku tadi melihat Casey berada, suasana yang hingar- bingar membuat kepalaku sedikit nyeri dan pandanganku sedikit limbung, padahal aku sama sekali tidak meminum alkohol.


Sial ekor gaunku tersangkut di hak heels, pasti aku akan terjatuh.


Nafasku terengah-engah dan masih tak berani membuka mata, tapi aku bisa merasakan dengan jelas sebuah tangan yang kuat mendekapku agar tidak terjatuh.


Aku cepat bangkit menyeimbangkan badan dan memutar pinggang, dengan tidak sabar ingin melihat siapa pahlawan yang menyelamatkanku dari rasa malu ini.


"Terimaka...sih." Sial, Harusnya aku sadar dari bau parfumnya. Pahlawan itu ternyata... Bastian!


Tuhan, mata kami saling beradu. Acara begitu riuh tapi bagiku waktu serasa terhenti. Mata hijau yang selama ini hilang, kembali bisa ku tatap. Tak sadar bulir bening menetes begitu saja di pipi, apakah Bastian merasakan hal yang sama?


Aku tak bisa mengelak lagi perasaanku padanya masih sama, masih sangat mencintainya.


Tapi, apakah hanya aku yang memiliki perasaan ini? Apakah Bastian seperti itu juga? Cinta ataukah rasa bersalah? Hal yang menyakitkan itu muncul lagi, pertanyaan yang menghantui itu merisak kembali.


Aku cepat membuang pandanganku darinya, menepis dekapannya dan menyapu air mataku yang tadi jatuh tanpa permisi. Mencoba memperlihatkan kondisiku yang baik-baik saja, aku tak ingin Bastian tau bahwa aku sangat merindukannya.


Walau berat ku coba memandangnya dengan raut ramah, tak mungkin aku memperlihatkan dengan jelas di tempat ini bagaimana canggungnya hubungan kami.


"Bagaimana kabarmu Emma?"


.


.


.


.


.


.


WF❤️