
"Sepertinya kondisimu sedang tidak baik Emma, ada yang sedang kau fikirkan?"
"Maaf pikiranku malah entah kemana,"
"Tidak apa-apa, kau mau di traktir apa kali ini?"
"Apapun yang ingin kau makan Gavin, aku akan memakannya."
"Baiklah kau tunggu disini."
Aku menunggu Gavin yang tengah memesan makan cepat saji di mana kami pertama kali bertemu kala itu. Entah mengapa aku membawanya dalam masalahku.
Ucapan para staf wanita tadi masih terngiang di benakku. Mereka mengatakan hal-hal yang tidak pernah ku lakukan, dari mana asal semua isu itu?
Benarkah Nuray menangis seharian karna aku? Bukankah Harold bilang semua sudah di urus dengan baik, mengapa seolah-olah Nuray korban dan aku orang yang jahat disini. Jabatannya bahkan sudah di naikkan. Lantas di mana yang salah?
Apa aku harus menemuinya untuk bicara?
Mengapa semua jadi seperti ini?
"Emma!?"
Aku tak menyadari Gavin sudah duduk di hadapanku lengkap dengan makanan yang ia bawa.
"Sekali lagi aku minta maaf Gavin, aku sepertinya sedang kacau hari ini."
"Tidak masalah Emma, ini pertama kalinya aku melihat wajah seriusmu. Aku malah sangat terpesona."
"Kau menggodaku Gavin?" Aku tau Gavin merayuku.
"Mungkin aku akan berhenti melakukan itu saat kau sudah menjadi milikku." Ucapnya setengah tersenyum.
"Dasar bocah tengik." Ejek ku.
Kamipun terkekeh bersama.
"Aku tak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi.. Dan aku sangat beruntung saat aku tau kau ada disini." Ucap Gavin.
"Aku juga Gavin, walau kau dulu sangat menyebalkan.. Tapi saat ini kurasa kau mulai bisa di andalkan."
"Andalkan aku semaumu Emma, aku akan sangat senang."
"Apakah kau benar-benar sesuka itu padaku?"
"Sangat, aku jatuh hati saat pertama kali melihatmu."
Gavin mengatakan hal itu dengan tanpa beban.
"Tapi aku tak bisa membalas rasa sukamu." Jawabku jujur tak ingin memberi harapan apapun padanya.
"Aku tau Emma, aku tau."
Gavin tersenyum getir.
"Tapi kau juga tak bisa memaksaku untuk tidak menyukaimu. Perasaan ini adalah milikku Emma."
"Aku seperti orang yang jahat Gavin, aku memperlakukanmu seperti ini karna kau adalah orang yang baik, tapi kenyataannya aku malah seperti sedang memanfaatkan kebaikanmu."
"Jangan terbebani karna rasa sukaku Emma, aku jadi merasa lebih buruk lagi."
"Bisakah kita berteman?"
"Aku rasa asal kau masih mau menemuiku, apapun itu bentuk status hubungan kita aku tidak keberatan."
Maafkan aku Gavin, aku terlalu serakah. Semoga kejujuranku tidak terlalu menyakitimu.
****.
"Emma aku mohon fokuslah." Suara Bastian kemudian meninggi setelah 30 menit berlalu kami berlatih mengemudi.
Aku mengrenyitkan dahi, memaksa otakku untuk fokus mengatur stir dan menginjak pedal gas.
"Ada apa denganmu Emma, sepertinya kau sedang tidak fokus?" Ucap Bastian.
"Kita istirahat saja Bastian, aku mohon."
"Baiklah, kau juga terlihat pucat. Aku rasa traumamu semakin mengganggu."
Aku tak membalas ucapan bastian, aku mengatur sandaran kursi mobil dan merebahkan punggungku yang kaku.
Bastian menatapku cemas, aku menggenggam tangannya sebagai tanda aku baik-baik saja.
Aku lantas menggeleng.
"Kau harus menjaga stamina mu, jangan bekerja terlalu keras."
Aku hanya membiarkan ucapan Bastian berlalu begitu saja melewati telingaku, dan mengabaikan perhatiannya.
"Bastian.."
"Ya... Ada apa? Apa sebenarnya yang kau fikirkan?"
"Mengapa kau tak memberitahuku dulu tentang di pemindahan Nuray?"
"Soal itu sebenarnya.."
"Kau bilang saat itu aku yang akan memutuskannya,"
"Emma, aku melakukan yang terbaik untukmu."
"Aku akui sikapku kekanak-kanakan saat itu, aku akui saja aku cemburu melihatmu lebih akrab dengan Nuray. Tapi, aku tak pernah bermaksud menyingkirkannya."
Nafasku tersengal, air mata jatuh berhamburan. Apa yang sebenarnya yang terjadi, mengapa hatiku tak bisa menahannya. Sakit sekali sampai sesak yang kurasakan.
"Emma, mengapa kau menangis? Ada apa? Apa yang terjadi..?"
Bastian tampak semakin cemas, tapi aku tak berdaya. Aku merasa bersalah sekarang, pada Nuray dan merasa bodoh akan diriku sendiri.
Seketika Bastian turun dari mobil dan membuka pintu, meraih tanganku dengan kencang hingga aku di paksa keluar dari dalam mobil. Seketika tubuhku di peluknya dengan erat, sangat erat sampai aku bisa mendengar detak jantung dan leguhan nafasnya.
"Jangan menangis, ada aku disini bersamamu. Jangan menangis... Emmaku.. Ada aku disini, semua akan baik-baik saja."
Aku terisak semakin kencang, menyedihkan. Aku harus begini di hadapan Bastian, seharusnya aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri tapi aku benar-benar menyedihkan.
****
Bastian memberiku segelas air, kami sudah tiba di apartement setelah Bastian memutuskan mengantarku pulang setelah kondisiku sudah tenang.
Entah apa yang ada di benaknya kini,
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku hanya menatap mata Bastian, sulit untuk menjelaskan kondisi ini. Tapi akan sulit juga kalau aku tutupi, aku sudah menangis sejadinya di hadapannya tadi.
"Aku rasa, masalah kepindahan Nuray dari tugasnya menjadi sekretarismu tidak berjalan sebaik yang kau kira Bastian."
"Coba kau jelaskan?"
"Aku rasa dia tidak bisa mengatakannya padamu, pasti ada kesalah pahaman. kurasa ini bukan tentangmu, tapi tentang aku dan Nuray."
" Harusnya dia merasa beruntung. Aku telah menaikan jabatannya, dan memberi kompensasi yang setimpal. Aku sudah memperlakukannya dengan hati-hati karna aku tahu dia temanmu, aku rasa itu sudah cukup untuk membuatnya puas. Tidak semua staf perusahaan bisa naik jabatan semudah itu bahkan ia belum genap setahun bekerja di Linford."
"Lagi pula aku menempatkannya menggantikanmu telah sesuai kesepakatan kerja dan perjanjian yang sudah di setujuinya. Apalagi yang tidak berjalan dengan baik?"
Bastian menjelaskan semua sesuai apa yang ku dengar dari Harold, yang di lakukannya pun sudah benar adanya. Tapi..
"Aku tidak tahu Bastian, yang aku dengar dan yang kau katakan tidak berjalan seperti yang seharusnya. Aku hanya ingin minta penjelasan dari Nuray, dia harus menjelaskannya padaku. Mengapa aku harus menanggung isu yang tidak benar."
"Isu? isu apa maksudmu?"
"Aku tak sengaja mendengar omongan miring tentang aku, jelas sekali di telingaku kalau mereka mengatakan bahwa aku merebut posisi Nuray karna aku merayumu. Mereka juga mengatakan Nuray menangis seharian di kantor karna kau memindah tugaskannya. Semua orang berfikir akulah yang merebut posisi Nuray. Aku juga tidak bisa menerima, kalau citramu buruk karna aku."
"Apa?? Sepertinya mereka terlalu banyak bersantai sampai bisa menggunjingkan Boss mereka sendiri."
Wajah Bastian mulai murka.
"Bastian jangan melakukan apapun, biarkan aku menyelesaikan ini dengan Nuray terlebih dahulu."
Aku tak bisa membiarkan masalah ini membesar, aku takut Bastian lepas kendali.
"Kau tenanglah, semua akan baik-baik saja Emma. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengatakan hal yang buruk tentangmu."
"Maafkan aku Bastian, seharusnya aku tidak menciptakan kesan yang buruk pada citramu. Maafkan aku..."
"Tenanglah Emma, aku baik-baik saja. Semua akan membaik, percayalah padaku."
Bastian menggenggam erat tanganku, tangan hangat ini menguatkan dan membuatku yakin bisa melewati semuanya. Aku harus secepatnya bicara dengan Nuray, aku harus mendengar sendiri apakah semua yang ku dengar memang benar atau hanya omongan yang tidak benar adanya.
°Happy reading😉