My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
11.



"Bukan karna terlalu percaya diri, apa anda tertarik pada saya?"


Entah keberanian macam apa, tapi aku tak bisa membendungnya lagi.


Walaupun malu aku tetap teguh pada pendirianku, aku tak bisa begitu saja percaya pada dongeng Cinderella yang di dominasi kisah pria kaya jatuh cinta pada wanita miskin.


Dari awal kami bertemu sampai sekarang kalau di perhatikan, sebenarnya masih terlalu dini menyimpulkan. Selain kata 'tertarik' aku tak bisa memikirkan apapun lagi.


Iseng, main-main, atau ingin membalasku?


Aku pikir, pasti ada sesuatu yang lain. Kalau tidak bagaimana di antara jutaan wanita di negara ini bisa tanpa batasan sedikitpun bahkan langsung bisa sedekat ini.


Dan reaksinya pun sangat datar, fokusnya mengemudi tidak terpecah sama sekali. Padahal aku setengah mati memikirkan ucapan itu sebelum keluar dari mulutku.


Pria ini hanya melihatku sebentar dan fakus lagi dengan setirnya.


"Nona Emma aku senang kalau kau berfikir seperti itu."


Hah? Jawabannya benar-benar di luar ekspektasi ku.


"Apakah kau sudah puas dengan jawabanku?"


Rasa percaya dirinya sungguh tak bisa ragukan lagi. Pria ini benar-benar..! Aku sampai tak bisa berkata-kata. Apakah aku harus senang tapi aku jadi lebih khawatir.


"Apakah wajahmu yang memucat sampai berkeringat itu dari tadi karna memikirkan itu?"


Hah! Apa maksudnya, Sial. Ini pasti karna trauma naik mobil yang masih sulit untuk ku kendalikan. Padahal, aku cukup nyaman dari tadi.


"Ah.. Ini karna trauma masa kecil, saya sudah berusaha menyembunyikan ketakutan ini tapi ketauan juga."


"Trauma?" Kali ini ia lebih terlihat antusias di banding menanggapi pertanyaan konyol ku tadi.


"Katanya anda sudah mencari informasi mengenai saya, anda pasti sudah tau masa orang tua saya sudah meninggal saya saat kecil. Itu, kecelakaan mobil. Hanya saya yang selamat."


Padahal ini masalalu, tetap saja saat mengingatnya masih berhasil membuat tubuhku bergetar.


"Apa ingatan itu masih menyakiti mu?"


Tanyanya tapi sama sekali tak bisa ku jawab.


Apakah pria ini benar-benar peduli? aku merasakan ketulusan dari tatapannya yang sekilas itu, di tengah fokusnya menatap jalanan.


Kemudian tangan yang kekar itu terasa hangat menyapu puncak kepalaku, terkejut bercampur nyaman. Perasaan baru yang tak bisa di jelaskan, tanpa berkata tindakannya yang spontan itu lebih menenangkan dari ribuan kata-kata penghiburan yang pernah ku dengar.


Perasaan macam apa ini, pria yang baru ku kenal ini.. Dia mengacaukan perasaanku.


Perjalanan menjadi lebih hening saat rasa kantuk tak mampu terbendung, jalanan dan mobil yang saling beradu cepat samar-samar menghilang di pelupuk mataku.


***


Suara lelaki yang bicara samar-samar terdengar, tubuhku yang terasa di ayun melayang-layang dan berada di tempat yang hangat dan nyaman.


Mataku yang ku paksa buka tapi, kantuk ku mengalahkannya.


"Tidurlah kalau kau masih mengantuk."


Suara berat yang tak asing, malah membuatkan semakin terhanyut dalam kantuk yang semakin menjadi.


***


Samar-samar cahaya menyilaukan mataku, kasur yang empuk dengan bantal yang agak keras. Tubuhku ingin bergerak tapi apa ini?


Keras, bidang, berotot?


Astaga!!!


Aku tersentak menyadari ini tubuh pria yang tengah mendekapku.


Sialnya aku tak bisa melepaskan pelukan pria ini.


"Kau sudah bangun Nona Emma?"


Tidak salah lagi, ini suara pria itu.


Aku mendorong paksa, dan ia melepaskan tubuhku. Pria itu lantas beranjak dengan sangat santai tanpa beban selain raut lelah di wajahnya.


Ku lihat ruangan yang tak ku kenali ini, ku periksa pakaianku yang masih utuh selain sepatu.


Hah? sebenarnya apa yang terjadi!?


"Akan ku panggilkan Tuan Sergei untuk menyiapkan pakaian dan sarapanmu, kau mandilah. Aku akan menunggumu di bawah."


Pria itu melenggang dengan santainya keluar dari kamar, telanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek.


Tunggu, aku masih sangat kebingungan tapi tak mengingat apapun selain perjalanan di dalam mobil yang sangat melelahkan.


Tok tok!!


Pintu itu terbuka dan terlihat seorang pria tua dengan rambut dan kumis yang keseluruhannya sudah memutih, di ikuti seorang prempuan yang memakai baju pelayan. Prempuan itu tanpak membawa bawaan di tangannya.


"Nona, nama saya Sergei, saya yang akan melayani semua keperluan anda disini." Ucap pria tua itu.


Aku hanya bisa mengangguk.


"Fedora, berikan pakaian itu."


Si pelayan perempuan itu lantas patuh memberikannya pada si pria tua.


"Ini pakaian ganti untuk mu Nona, semoga modelnya cocok dengan selera pakaian yang biasanya anda kenakan."


"Te..terimakasih Tuan Sergei."


"Dengan senang hati Nona, bolehkan saya tau nama anda Nona?" Tanyanya dengan sopan.


"Emma, panggil saja saya Emma."Jawabku agak gugup.


"Nama yang indah Nona Emma, Jika sudah selesai Tuan besar berpesan agar Nona Emma segera kebawah untuk sarapan, tapi kalau Nona tidak berkenan saya bisa mengantarkan sarapan Nona ke sini."


"Tidak, tidak perlu Tuan Sergei. Nanti saya akan segera ke bawah, jika saya boleh tau dimana saya sekarang, dan bagaimana saya bisa sampai berada di kamar ini."


"Anda sekarang sedang berada di Villa keluarga besar Linford, kemarin sekitar jam 7 malam Tuan datang dengan menggedong anda ke kamarnya Nona Emma. Ini adalah keberuntungan kami, setelah sekian lama Tuan akhirnya membawa perempuan datang kerumah ini."


"Benarkah itu Tuan Sergei?" Mataku membulat sempurna mendengar cerita dari pria tua ini.


"Benar Nona Emma, baiklah kalau begitu saya permisi dahulu, Fedora akan menunggu di depan kamar, kalau-kalau anda butuh sesuatu."


"Oh..ya! Baiklah, terimakasih Tuan Sergei."


Ya Tuhan, sekarang aku benar-benar dalam masalah.