
"Emma.."
Suara Casey setengah berbisik, wajahnya muncul di balik pintu.
Aku lantas mendekatinya, memutuskan untuk mengajaknya ketaman yang di sediakan Rumah sakit.
"Akhirnya bisa menemuimu lagi Casey ku sayang."
Aku memeluk Casey dengan erat seperti dunia ini akan runtuh nantinya. Kami seperti anak kecil dan sangat berisik saat bertemu.
"Maafkan aku baru kali ini bisa menemuimu Emma, aku turut sedih melihat kondisi Paman Anthony."
"Maaf aku langsung mengajakmu kemari sebelum menemui Paman Anthony, tapi aku sudah tidak sabar untuk berbagi cerita denganmu Casey."
"Aku mengerti, lagi pula aku bisa melihat Pamanmu nanti sebelum pulang Emma, apa yang menggangu mu? Ayo ceritakan."
"Ayo kita duduk di kursi taman itu, akan sangat lelah kalau kita berdiri disini."
Kami saling berpegangan tangan dan duduk di bangku taman tepat di bawah pohon yang rindang.
"Aku sedang bingung dengan perasaanku Casey.."
"Apakah ini tentang Paman Anthony, pekerjaan atau pria, Emma?"
Aku menggigit bibir agak malu mengatakannya dengan detail pada Casey.
"Ayolaah.." Casey sepertinya tak sabar mendengar apa yang akan ku kisahkan.
"Pria." Ucapku mantap.
Mata Casey membulat sempurna.
"Tuan Bastian Linford?" Balas Casey dengan matanya yang menghujam tepat ke kedua bola mataku.
Aku sungguh terkejut, dari mana Casey tau?
"Dari mana kau tau?"
"Hahaha... Kau lugu atau bodoh Emma ?"
Aku cemberut mendengar ejekan Casey, dia memang selalu merisakku dalam masalah percintaan.
"Kau ingat saat kau tidur di rumah Bastian?"
"Aahh benar, Bastian yang mengangkat telfon darimu. Bagaimana aku bisa lupa?"
"Itu sesaat sebelum Paman Anthony di operasi Emma, wajar kau melupakannya. Pasti perasaanmu kacau saat itu."
"Kau benar, aku sampai melupakan kejadian yang memalukan bagiku itu."
"Memalukan? Kau dan Bastian melakukan apa pada saat itu?"
"Hilangkan pirikan kotormu Casey, tidak ada yang terjadi. Aku hanya berniat tidur 5 menit tapi malah menghabiskan waktu lama sampai ia pulang kerumah."
"Aku fikir hubungan kalian lebih istimewa."
"Kau berfikir apa tentang kami?"
"Secara kasat matapun semua orang tau Bastian memperlakukan mu istimewa. Awalnya aku pikir kalian punya hubungan asmara yang dalam, sehingga Bastian memintamu untuk tinggal di Agithum."
"Bukan seperti itu yang terjadi Casey."
"Kau pasti sepolos itu Emma, apakah tidak ada gosip tentang kalian di perusahaan?"
"Gosip?"
"Aku telah melihat banyak drama tentang percintaan di kantor, biasanya akan berakhir dengan gosip dan desas-desus! Kau tidak mengalaminya?"
Aku tak mengerti maksud Casey, tapi aku mengingat selintas ucapan Nuray saat kami bertemu di kantin waktu itu.
"Dari cara Bastian memperlakukanmu aku yakin, Bastian tidak mungkin tak punya perasaan apa-apa padamu Emma."
"Ya, kami seperti Kakak Adik tentunya."
"Apa? Kakak Adik? Aku tau kau minus masalah percintaan Emma, tapi setidaknya jangan sebodoh itu."
" Hubungan kami benar-benar seperti itu Casey."
"Maksudmu?"
"Sadarlah sahabatku yang paling kusayangi, jangan ragukan pengalamanku tentang pria. Kalau Bastian tidak menyukaimu layaknya pasangan, aku bersumpah akan menuruti ayahku untuk menerima perjodohan."
"Casey, jangan bicara yang tidak-tidak."
"Percayalah padaku, Bastian menyukaimu Emma."
"Hentikan, cukup kita bahas yang lain saja."
Aku tak tahan dengan ucapan Casey, dia semakin membuatku ragu. Perasaanku semakin tak menentu, dan apa ini? jantungku jadi berdebar tak karuan.
"Lihatlah Emma, wajahmu memerah."
"Casey!!"
"Kalau melihat ekspresi dari wajahmu ini, sudah pasti kau pun punya perasaan yang sama pada Bastian."
"Kalau kau terus mengejekku begini aku lebih baik pergi saja." Sungutku kesal.
"Baiklah-baiklah aku tidak akan menggangu mu lagi." Ucap Casey sambil terkekeh.
"Ayo ceritakan juga kisahmu, sudah lama kau tidak menceritakan seorang priapun padaku." Ucapku memutar pembahasan.
"Ahhh tentu saja, aku sedang menyukai Tuan Es batu."
"Hah? Es batu?"
"Aku menamai pria itu begitu karna dia begitu berhati dingin, seperti tembok yang tidak bergetar oleh sapuan angin. Tapi lihat saja, aku akan menjadi badai untuk meruntuhkan sikapnya itu. Kalau perlu aku akan jadi gempa bumi berkekuatan 10 scala richter yang mengguncangkan hidupnya."
"Wah Casey, kau pasti serius kali ini."
"Aku selalu mendapatkan pria yang ku sukai Emma, begitu dulu dan akan begitu juga sekarang."
"Woaahh, aku tidak sabar untuk itu Casey. Apakah aku mengenal siapa pria itu?"
"Hmmm, aku akan mengenalkannya nanti saat ia sudah berhasil ku takhlukan."
Aku menggeleng keras selagi menahan tawa,
"Kau selalu berhasil Casey, aku akan jadi suporter utamamu kali ini."
"Suatu saat nanti aku ingin kita kencan ganda Emma, kau dengan Bastian dan aku dengan Tuan Es batuku."
"Kau mulai lagi Casey!! Sudahlah, ayo aku temani kau melihat Paman Anthony."
"Okee... Kita doakan Paman Anthony pulih dan kita semua bahagia Emma."
"Tentu Casey, itu harapan ku dan harapan semua orang."
"Semoga semua orang di dunia ini bisa menemukan kebahagiaan mereka, Emma."
"Itu juga harapanku Casey, kita harus semakin bahagia kedepannya."
"Aku menyayangimu Emma.."
"Aku juga Caseyku sayang.."
Langkah kami perlahan meninggalkan taman Rumah sakit yang menghijau, setelah melewati kerasnya musim dingin di kota metropolitan Agithum ini.
.
.
.
.
.
.
Like dan komen pembaca adalah semangat untuk saya, terimakasih sudah mampir🤗